Stella yang baik, aku sungguh bahagia karena kau menganggapku sama dengan teman-teman Belandamu dan memperlakukanku sama dengan mereka, dan juga menganggapku sebagai teman sepahammu. Aku tidak menginginkan hal lain selain kau tetap memanggil namaku dengan namaku, juga dengan je dan jij. Kau bisa lihat bagaimana lancarnya aku meniru contohmu. Bila mungkin kamu menemukan kata gij dan u kumohon jangan menganggapnya sebagai formalitas tapi hanya kekeliruanku saja. Aku juga musuh formalitas. Apa peduliku soal peraturan-peraturan adat? Aku gembira sekali akhirnya dapat mengoyak peraturan adat Jawa yang konyol itu saat berbincang denganmu dalam tulisanku ini. Adat peraturan ini dibuat oleh manusia, bagiku itu menjijikkan. Kamu tidak bisa bergerak sedikit pun atau perempuan sadis itu akan memandangmu dengan sinis!
O, pasti kamu tidak habis pikir jika kamu berada dalam sebuah keluarga Bumipetra. Bila berbicara dengan orang yang lebih tinggi derajatnya kamu harus melakukannya dengan sangat sopan dan pelan sehingga hanya orang yang ada di sebelahmu saja yang mendengar. Jika seorang gadis boleh tertawa, oh ya ampun, dia tidaka boleh membuka mulutnya. (Astaga, aku bisa mendengarmu bergumam). Stella, kamu akan tahu hal yang lebih aneh lagi jika kamu mau tahu tentang kebudayaan Jawa.