Ada orang yang mengaku "ketagihan" baca portal berita tertentu di internet. Jadi, setiap pagi, begitu menyalakan komputer di kantor, yang dia lakukan pertama kali baca berita-berita aktual. "Sudah jadi habit," kata dia, yang nggak perlu disebutkan namanya, tapi sumpah, ini saya tidak ngarang, pokoknya ada, dan jumlahnya banyak. Hehehe.
Tapi itu dulu, ketika dunia per-blog-an belum sesemarak sekarang. Nah, untuk mengetahui apakah gambaran situasinya masih sama, atau sudah berubah, saya mengadakan survei kecil-kecilan. Ternyata, sejumlah orang yang saya tanya, perilaku online mereka sudah tidak sama lagi. Ada yang bilang, setelah nyalain komputer, hal pertama yang dilakukan membuka blog sendiri. "Musik dulu dong," jawab yang lain. "Abis itu buka agregator, cek email baru kemudian browsing berita," lanjut dia.
Tentu saja yang saya paparkan di atas tidak mewakili gambaran (perubahan) perilaku online pada pengguna internet di Indonesia secara umum. Namun, satu hal yang tak terbantahkan: kehidupan sosial di dunia maya semakin menarik untuk diamati. Dinamika dunia maya semakin tak kalah nyata dibandingkan dengan dunia nyata. Hingga perilaku online pun mulai diteliti, dan hasilnya menjadi dasar pijakan para pemasar untuk mempromosikan dan menjual produk mereka.
Jumlah pengguna internet yang besar (konon ada 32 juta pengguna internet di Indonesia) jelas merupakan potensi yang menggiurkan bagi siapa pun yang memiliki kepentingan dengan kekuatan "massa". Semakin diperhitungkannya komunitas online ini membuat banyak hal ikut berubah, dari yang mendasar tentang definisi komunikasi itu sendiri hingga ke hal-hal praktis seperti kerja kehumasan.
Di bangku kuliah dulu saya belajar bahwa komunikasi prinsipnya who says what, to whom, in wich channel, with what effect. Namun, dengan berkembangnya teknologi internet, segalanya menjadi tak sesederhana itu. Komunitas online memiliki perilaku tersendiri yang perlu dipahami oleh para komunikator yang ingin pesannya tersalurkan dengan baik. Kalau saya masuk ke sebuah website penjualan buku, dan mendapati loading-nya lama sekali, saya akan langsung pergi lagi. Atau, ketika nemu website baru tapi isinya menarik, saya tak akan berkunjung lagi. Itulah perilaku online, dan hal-hal semacam itulah yang perlu dipahami oleh para pemasar dan orang-orang pi-ar sekarang, jika tidak ingin potensi pasar yang luar biasa besar tersia-siakan.
Banyak orang yang melakukan kampanye produk, jasa atau apa pun di internet dengan sembrono, misalnya menyebar pesan lewat Yahoo Messenger (YM). Bayangkan, pagi-pagi Anda baru datang ke kantor, membuka komputer dan, jebret, ada pesan masuk ke YM Anda, isinya, misalnya: diskon gede-gedean di mall anu; film X sudah beredar; jangan lupa tonton band Y tanggal sekian di sini; atau yang sekedar: butuh golongan darah AB hubungi bla bla bla...Sering bukan Anda mendapatkan pesan-pesan seperti itu?
Di saat mood sedang biasa-biasa saja, maka saya akan langsung men-delete tanpa perlu membacanya terlebih dahulu. Tapi, pada saat mood buruk, kerjaan menumpuk, semalam abis mabuk, dan di kantor gak ada kopi tubruk (hehehe) saya akan merasa jengkel, dan ngomel-ngomel dibuatnya, dan menganggap orang-orang itu seenaknya saja menjadikan orang lain objek jualan mereka.
Maka tak heran, ada orang yang online di YM tapi memasang status: don't buzz me if not very very important. Aneh sih memang. Maksudnya, kalau memang nggak mau diganggu ya nggak usah online dong hehehe. Tapi, kan kadang orang perlu menampakkan diri karena bisa saja sedang menunggu untuk chat dengan klien, misalnya. Tapi, dia nggak mau diganggu sama pesan-pesan bernada iklan yang nyelonong begitu saja. Dengan kata lain, di dunia maya pun, orang tetap merasa butuh dihargai kenyamanan privacy-nya.