Ketika hampir semua koran lokal terbitan Jakarta menempatkan peristiwa keracunan yang menimpa karyawan Carrefour Ratu Plaza sebagai laporan utama, Senin (5/5/08), koran Warta Kota mencoba mencuri perhatian dengan headline yang sama sekali berbeda. Judulnya "Istri Pejabat Sewa Gigolo". Hasilnya, tokcer! Koran itu langsung diserbu pembeli. Pantauan saya di lapak-lapak kecil seputaran Blok M mendapati, edisi berkepala berita sensasional itu habis sebelum petang. Padahal, biasanya koran milik grup Kompas itu masih bertumpuk-tumpuk hingga malam, bersama harian-harian lokal lainnya seperti Pos Metro, Berita Kota, Lampu Merah, Pos Kota dan Non Stop.
Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang otaknya mesum, terobsesi dengan moral dan gila gosip, saya pun tergoda untuk membeli edisi tersebut. Namun, setelah selesai membacanya, saya kecewa berat. Apa yang ditulis Warta Kota sama sekali bukan berita hangat, straight news, yang berangkat dari peristiswa atau kasus aktual. Subjek "Istri Pejabat" yang disematkan pada judul tulisan, ternyata tidak memiliki rujukan yang jelas, menunjuk oknum tertentu yang bisa dipertanggungjawabkan akurasinya. Dengan kata lain, sebagai sebuah laporan yang diposisikan sebagai headline, tulisan tersebut sangat buruk.
Tulisan itu sama sekali tak bicara dan mengungkap data atau isu atau hal baru. "Istri Pejabat" hanyalah simbol yang ditempelkan, representasi yang dicatut seenaknya demi menarik perhatian semata. Sedangkan, isi tulisannya sendiri bicara dalam konteks yang sangat umum tentang praktik per-gigolo-an, itu pun dengan salah satu "data" pendukungnya hanya dicomot dari iklan baris di koran. Pendek kata, menurut saya, berita itu menipu pembaca. Tidak ada alasan bagi Warta Kota untuk tiba-tiba, tanpa "angle" yang jelas, memberitakan omong kosong tentang gigolo. Ini sama saja dengan menulis headline "Pria Macho Beli Bawang".
Seperti halnya bawang, gigolo itu dari dulu kan emang ada. Dan, seperti halnya bawang pula yang bisa dan boleh dibeli siapa saja, termasuk pria macho, gigolo pun konsumennya kan macam-macam, gak peduli istri pejabat atau janda rumahan. Keanehan lainnya, setting berita tersebut Surabaya, padahal Warta Kota koran lokal Jakarta. Artinya, sama-sama mau mengangkat isu basi, mbok ya yang dekat-dekat saja. Ini kan sekali lagi membuktikan bahwa Warta Kota sebenarnya tak punya alasan untuk mengangkat isu tersebut.
Kalau memang niatnya tulus, dan berdasarkan urgensi tertentu, Jakarta jelas jauh lebih menjanjikan untuk lahan investigasi isu-isu begituan. Duh, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan pers Indonesia, ketika begitu banyak informasi penting, mendesak dan berguna menunggu untuk dikabarkan, tapi justru memilih kasak-kusuk sampah tentang gigolo?
Saya kira Warta Kota telah memperlihatkan sebuah politik pemberitaan yang manipulatif, membodohi dan miskin. Dan sikap seperti itu hanya lahir dari sebuah rasa tidak percaya diri dan frustrasi yang kronis.
 | dogma siapa ini bos? usang !! |
 | ya dogma jurnalisme lah.
anjing menggigit orang bukan berita, orang menggigit anjing baru berita. 27 karyawan keracunan di ratu plaza apalah artinya, lebih berharga gosip gigolo nun jauh di surabaya hahaha |
 | Strategi yg 'pintar' dr warta kota... |
 | pintar tapi tak pintar. jadi? hehe |
 | tapi gak disebut kan siapa gigolonya? *lega* |
 | king for a day, fool for a lifetime....(maybe) |
 | iya.. bahkan wawancara sama pelakunya aja kagak ade,, *termasuk pembaca,, untung via online gratis =p* |
 | ya ya pintar pintar bodoh, bodoh bodoh pintar n rada-rada primitif gimanaaaa gitu huehehehee |
 | aaqq...hahahahha tenang gak disebut kok, kamu aman huehehehee |
 | adit, justru itu, maksudku, pria macho boleh dong beli bawang, sama jg dgn istri pejabat boleh dong "beli" gigolo, jadi kenapa? apa masalahnya hai warta kota????????? |
 | sita, emang di berita itu sama sekali gak ada "pelaku"....jd yg diwawancarai ya orang2 yg kemudian diklaim oleh diw artawan sbg gigolo...dan itu diambil secara acak aja. gak ada pelaku, gak ada kasus, gak ada aktualitas, gak ada angle, jd pokoknya kayak tiba2 ngomong bla bla bla tp gak ada konteksnya huhuhu |
 | untung aku nggak baca Mu, kan bisa tertipu hehehe |
 | lagian warta kota gak nyampe ke solo kali, ndi huehehehe.. |
 | iya juga sih tapi di sini juga ada yang kayak gitu, namanya meteor. tiap hari berdarah mulu hehehe |
 | gue malah jadi pengen baca... |
 | ghe...lu masih bisa baca lewat versi online-nya, coba lu cari deh |
 | haha..gue tau tuh, ndi...meteor...salah satu redakturnya temen seangkatan gue, orangnya emang rada sinting dan slebor hahahaha |
 | wah bener lo mu. judulnya menipu banget yaa... siapa si istri pejabat itu?? nggak disebutin sama sekali.. cuma general aja.. hmmm |
 | kan kita suka yang sensasional dan undercover. Dan jangan lupa, media itu corporation lo. So modal dan keuntungan itu drive-nya. *Gw dah nggak percaya lagi sama etik jurnalisme atawa jurnalisme yang independen. Ngarang kali hari gini* |
 | bener kan, bener kan, bener kan?
nggak perlu tau teori2 komunikasi dan jurnalistik utk mendeteksi kedangkalan media massa kita skrg. tp biarin aja deh klo koran2 itu msh menganggap bahwa pembaca mereka bodoh dan gampang dibodohi...terus ajaaaaaaaa....
huhuhuuuu |
 | setuju vero, omongkosonglah segala etik ini itu, independen bla bla bla....semua hanya semata-mata jualan, titik. |
 | hahahaha...ya, mgk krn kita (kita? hehe) "orang media", jd bisa melihat itu ancur, itu nipu dll....ya kurasa ini sekalian otokritik buat korps kita (kita? hehe). |
Comment deleted at the request of the author.
 | jadi jurnalisme sudah mati! hidup jualan (dengan menipu tentu) |
 | haha dari redaktur koran kuning ke juragan kembang woow kereeen itu hehehe |
 | bung fan, mgk belum mati, cuman sekarat hahaha |
| |