| Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Hampir semua review yang saya baca di blog sejak film ini diputar di bioskop bernada negatif. Intinya, review-review itu mengungkapkan kekecewaan, bahkan ada yang cukup ekstrim mengatakan, "film ini ceritanya tentang apa sih sebenarnya?" Dan, yang sudah bisa ditebak, semua membandingkan dengan novel rujukannya, dan itulah sumber terbesar kekecewaan mereka yang sudah menonton dan menuliskan reviewnya. Ketika akhirnya saya berkesempatan menonton, saya tidak merasa bahwa film ini "semengecewakan" itu, tapi ini tetap mengecewakan untuk sebuah film. Maksud saya, tanpa harus (dan sebaiknya tidak usah) membandingkan dengan novelnya, film ini memang sudah mengecewakan sebagai sebuah karya yang berdiri sendiri.
Karena memang tidak membaca novelnya, saya lumayan terkejut mendapati bahwa "Ayat-ayat Cinta" ternyata ceritanya seperti ini. Tak beda dengan kisah cinta yang paling umum, sangat klasik bahkan mungkin klise. Hanya, bedanya ini dibungkus dengan aroma dan cita-rasa Islam. Sedangkan, dari segi fantasinya, ini tak ubahnya "Heart" atau film-film penguras airmata lainnya. Fahri, mahasiswa Al Azhar Kairo yang alim dan tampan, digilai-gilai oleh 4 cewek sekaligus. Salah satu dari cewek itu, Aisha-lah yang beruntung mendapatkannya, dan itu membuat 3 cewek lainnya patah hati habis-habisan. Nurul tanpa malu meminta orangtuanya "mengemis-ngemis" kepada Fahri. Noura bahkan sampai membuat konspirasi memfitnah si alim yang dicintainya itu. Sedangkan Maria, yang beragama Kristen, sampai depresi berat dan jatuh sakit. Pada saat yang sama, Maria ditabrak oleh oknum di balik konspirasi Noura tadi, karena dia adalah saksi kunci kelak ketika Fahri diadili dengan tuduhan memperkosa Noura.
Benar-benar sulit (untuk mengatakan tak ada alasan sama sekali) bagi saya untuk bisa menikmati alur cerita seperti itu. Semua terasa disederhanakan, digampangkan, karena pada akhirnya yang dikejar adalah efek sedihnya dan fantasi romantismenya sebagai sebuah "kisah cinta yang Islami" di mana manusia-manusia yang terlibat di dalamnya begitu berhati mulia, suci dan tak menginjak bumi. Hati saya pasti sudah sedemikian keringnya sehingga tak bisa menerima kisah cinta ala Nabi Yusuf-Siti Zulaikha seperti ini. Tapi, saya juga sangat terganggu dengan melimpah-ruahnya publikasi dan pembicaraan mengenai film ini yang sudah demikian berlebihan, sehingga ada pihak-pihak yang sampai mencap film ini menyesatkan dan sebagainya. Ini hanya film dengan cerita yang buruk, itu saja, dan mengabaikan banyak sekali kaidah-kaidah logika film-sebagai-seni-membohongi-penonton-dengan-meyakinkan.
Semua orang dalam film ini berbicara Bahasa Indonesia, termasuk Aisha yang orang Jerman, orang-orang Arab di bis dan pasar, serta narapidana yang satu sel dengan Fahri. Sungai Nil berkali dibicarakan tapi tak sekali pun gambarnya diperlihatkan. Dunia Fahri dan orang-orang di sekitarnya hanyalah ruangan apartemen dan masjid, tidak punya lingkungan yang diperlihatkan secara meyakinkan bahwa mereka berada di Kairo. Kita seperti menonton sebuah pertunjukkan drama di atas panggung yang di-set sedekimian rupa sebagai Kairo. Pendek kata, film ini steril dan tak punya konteks ruang, termasuk teman-teman Fahri sesama mahasiswa dari Indonesia yang tak banyak berperan. Inilah film yang malas, tak mau repot dan berprinsip, buat apa ribet-ribet kalau semua bisa dicari mudahnya. Noura yang awalnya korban trafficking, dikeluarkan dari problem itu dengan begitu mudah, dan tiba-tiba penonton sudah mendapati gadis itu bertemu lagi dengan orangtuanya. Fahri yang konon punya prinsip kuat dalam perjodohan, dengan mudahnya menerima Aisha lewat proses taaruf yang singkat.
Film ini benar-benar tenggelam oleh gegap-gempita histeria di luar sana, sehingga kebanyakan orang menontonnya bukan karena berminat tapi semata penasaran. Inilah keberhasilan marketing modern atas sebuah produk budaya, di mana teks itu sendiri tidaklah penting, hanya sampingan, dan produk utamanya ya promosinya itu, bagaimana membuat segalanya ter-blow up dan terus dibicarakan dari mulut-ke mulut (termasuk secara online), dimulai dari hembusan cerita tentang suka-duka proses syutingnya, pernyataan Hanung tentang janji pada ibunya untuk membuat film relijius, berita tentang back up dari Muhammadiyah, molornya jadwal tayang, hingga pembajakannya di internet. Dan, semua pihak di balik film ini juga harus berterima kasih kepada suara-suara "miring" dari kalangan Islam tertentu (Eramuslim.com menulis "Film Ayat-ayat Cinta Lebih Berbahaya dari Film Maksiat?") dan sikap antipati dari penggemar fanatik novelnya, karena mereka ikut menambah efek viral terhadap publikasi film ini, meningkatkan nilai jualnya, dan membuat orang semakin penasaran.
Menonton film ini dengan harapan tertentu (apalagi harapan yang besar) hanya akan membuat frustrasi, oleh karenanya tontonlah film ini sebagai fenomena industri hiburan. Atau, cobalah ikuti bagaimana cara Asma Nadia (ikon terkemuka dari dunia fiksi Islam) memperlakukan film ini, yakni dengan berpikir bahwa ini bagian dari kebanggaan di mana sebuah fiksi berlabel Islam bisa menjadi produk yang laris. Film ini merupakan puncak dari tarik-menarik yang sengit selama ini antara Islam dan musuh tersayangnya, budaya pop. And the winner is...siapa lagi kalau bukan produser film ini yang dengan kekuatan modalnya bisa menyinetronkan apa saja, termasuk "film dakwah", sambil merangkul perwakilan-perwakilan "Islam", dari Saskia Mecca, Ustad Jefry sampai Emha Ainun Nadjib, dan bahkan membuat ketua ormas Islam besar Din Syamsudin menyediakan diri secara suka rela menjadi "bintang iklan"-nya.
 | review yang extremely....apa ya istilahnya...out-of-the-box...kudos to mas mumu!!!!
tapi not bad-lah film ini boleh dibilang ok.. |
 | belom nonton filmnya, belom baca novelnya, jadi belom bisa komen. tapi review ini keren bangettttt... |
 | eh setuju. gue belum baca buku dan nonton filmnya (maaf, niat aja nggak), tapi baca review ini menyenangkan sekali. creating a work of art by slaughtering other people's art...hahahaha...keren mu! |
 | jadi kita ini (penonton) dengan sadar, suka rela mau menjadi korban ya. dahsyat bener...... |
 | Udah baca novelnya, tapi setlah baca review ini jadi malez nonton filmnya. Standar abiz ya? |
 | budi, harus tetep nonton dong. apalagi dan baca novelnya, jd bisa bandingin. asik lagi banding2in film ama novel. |
 | bung deddy setujuu bangeet...tinggal nonton. dan gak ada yg bilang jelek kok. |
 | mei, ini gak sekejam review2 yg lain kok. coba deh lu browsing di multiply |
 | nontonnya pake blindfold... |
 | aku setuju dengan yang ini "Ini hanya film dengan cerita yang buruk, itu saja, dan mengabaikan banyak sekali kaidah-kaidah logika film-sebagai -seni-membohongi-penonton-dengan-menyakinkan." |
 | maksudnya apa jorgy, nonton pake blindfold, dan biar apa? |
 | mu, elo membuat temen2 yang nangis terharu ketika menonton film ini terluka dengan review-mu ini. Teman-teman kalau mau tahu what I think, ada di http://meidays.blogspot.com. |
 | hahaha iya bener, gue cukup suka score-nya terutama bagian2 shalawatan yg dilantunkan emha. jd kangen ama album dia yg tombo ati dulu yg sama kiai kanjeng itu |
 | well.. in my humble opinion.. i like this movie, kinda see Islam from the other perpective.. dimana Islam tuh ga kaku.. bukan melulu teroris yang tidak punya hati.. ada sisi romantis dalam Islam.. seperti nabi Muhammad dan Siti Khadijah.. hu hu hu.. my heart melts.. T_T |
 | ciria wrote on Mar 4, '08 Alhamdullilah Film ini dibuat oleh Bpk Manoj, mas Hanung, Crew, pemain & penulis dengan pengorbanan yang menurut gw SANGAT BESAR...ketika sebuah NOVEL di filmkan pasti HASIL nya akan tidak sama persis dengan FILM (dari media nya saja sudah sangat berbeda...)dari NOVEL yang sangat FENOMENAL karya KANG ABIK mejadi FILM yang terbatas karena DURASI, segi komersial dsb pasti akan banyak kritikan, cacian & pujian..tapi kita semua yang terlibat dalam FILM ini sepakat untuk menerimanya dengan SABAR & IKHLAS..karena ISLAM mengajarkan itu.. Syukron untuk semua temen2 yang Support dengan Kritikannya.. Insya Allah kita akan membuat FILM yang lebih baik...
-Ciria Lukman- Public Relations MD Pictures
|
 | aku baca bukunya,... secara penyuka "melon" jadi aku suka banget,..
tapi blum sempet nonton filmnya...abis ngantri gitu... promosi oke niy,..sukses beratz... |
 | jmave wrote on Mar 4, '08  sudah nonton. bayangkan. aku menonton film dengan judul cinta. jelas aku korban promosi. penasaran. dan tertidur dengan sukses. tidur waktu fahri kenal dengan aisha, dan ketika bangun, fahri sudah di penjara. intinya, tetap saja ini kisah cinta biasa, tidak ada bedanya dengan kisah cinta yang lain, sehingga bingung kenapa disebut fenomenal. oya, saya tidak membaca bukunya. dan mu, tumben review film-mu selembut ini. |
| gak nape mu....itu yang ane suka dari ente.....mahiwal....tapi argumentatif....berani melawan arus.....kekekkek film ini tidak bisa idealis karena memang produsernya masih butuh duit bukan karya seni...bisa ketangkep khan dari beberapa kali mas hanung harus delay syuting atau sedikit membelokkan alur cerita...:))
tapi mending ada dari pada tiada.....:)),karya hanung perlu diacungi jempol dibandingin cerita cerita horor mrikitiw....heheh |
 | nontn gak ya... hmm.... review-nya terlalu bagus buat mempengaruhi orang nih.. eeheehehe.. :-D |
 | belom baca novelnya, tp ada niat bgt pengen baca novelnya, makanya ga mau nonton filmnya, krn pasti kecewa dan malah bikin novelnya jd ga seruu.. |
 | wah, review ini dengan tepat menggambarkan apa yang gw rasakan tentang novelnya! filmnya, setali tiga uang lah ya. |
 | novel islami dan film islami? mending nonton Kandahar! |
 | [aku donk suka sontreknya...] |
 | Saya salut terhadap film ini, tidak mudah memudahkan sesuatu yang pelik dengan berbagai latar belakang berbeda. Semua team pasti sudah berusaha keras untuk membuat film ini menjadi layak ditonton. Justru yang paling mundah adalah membuat review film ini. Cukup dengan menonton sekali, baca novel.. jadilah review suka-suka kita. Bahkan tidak dengan membandingkannya dengan satupun film yang lain. Selamat !! |
 | bagi saya, mungkin nggak ada salahnya juga membanding-bandingkan sebuah karya dengan karya yang lain (atau film dengan film yang lain). itung-itung, sebagai bahan acuan, yang mana yang bagus dan yang mana yang kurang/tidak bagus. kalo bagus, mengapa bisa bagus. dan kalau tidak bagus, mengapa bisa begitu (?).
yang salah, mungkin adalah orang-orang seperti saya (atau mungkin cuma saya) yang udah takut-kecewa-duluan sebelum menonton film indonesia. "paling juga gitu-gitu ajah" kata theo. rada kapok juga sih. makanya, saya lebih suka menoton film yang pasti-pasti saja. baca review sana-sini, buat cari tahu film yang bagus atau tidak. lagi pula, sudah ada sebuah asumsi di dalam diri saya bahwa "film indonesia itu sama ajah kayak mie instan...rendah gizi dan tinggi kadar MSG-nya" (dan 'Berbagi Suami' adalah mie instan dalam kemasan eksklusif. 'Beth' juga!) |
 | abahsaidan wrote on Mar 4, '08, edited on Mar 4, '08 Tulisan bagus, Mu! saya udah baca bukunya, belum nonton filmnya... Tapi kalaupun ntar nonton, sikap saya terhadap buku dan filmnya sama, lepaskan semua pemikiran kritis, tanggalkan dulu logika, setting pikiran kita menjadi "ibu-ibu" dan... nikmati saja !!! mau ikut senang, mau ikut nangis, mau ikut bahagia atau marah sama tokoh antagonis, atu mau geer seolah kita adalah fahri? ... monggo.. dipersilahken :) |
 | nurjamila, itu betul sekali. film ini bagian dr generasi baru islam yg selalu menonjolkan syi'ar (cieee islami bgt kan gue hehe) ttg betapa indahnya islam, bahwa islam itu terbuka, menghargai perempuan dan seterusnya. penulis novel ini pastinya jg gerenasi lulusan al azhar yg "modernis" spt itu. tp, klo kemudian ujung2nya si fahri poligami jg (dgn alasan yg "indah" tentu saja), yaaa..akhirnya film ini jadi mendua. dan aku gak suka didua-duain begitu huehehehehe |
 | ciria, thx tanggapannya. percayalah, tidak ada yg mencintai film indonesia lbh besar drpd para kritikus. ini bentuk rasa sayang saya pada hanung. salam buat semua kru yg sudah bekerja keras. |
 | jmave...hahaha review yg selembut ini aja byk yg bilang kejam hiks |
 | sagala, jgn diturunkan ke titik "mending ada ketimbang gak ada" dong. film ini jelas tetap layak tontonlah. kritik adalah kritik. apapun yg dibilang dlm kritik bukan alasan utk tidak menontonnya. |
 | dhyt..sinematografi emang bagus. tp terlalu kelam, jadi sepanjang film mood kita sama terus krn setiap gambar ditampilkan dlm warna yg gelap. |
 | rednotblue, jauuuuh lbh mudah lagi mengomentari kritik orang hehehe piss, man. ayo cintai film indonesia dengan menonton dan menuliskan review-nya! |
 | abah, siai gak mau ah jadi fahri, abis pengecut gitu, masak liat cewek disiksa, pengen nolong, tp malah nelpon tetangganya, yg cewek jg. knp gak ditolong sendiri? takut dosa menyentuh cewek bukan muhrim? aiih ya gak usah disentuh dong. tolong aja, selamatkan aja. tp fahri emang cakep (eh maksud saya fedy nuril hahaha) |
 | rednotblue, jauuuuh lbh mudah lagi mengomentari kritik orang hehehe piss, man. ayo cintai film indonesia dengan menonton dan menuliskan review-nya!  hehehe.. karena saya ingin menempatkan pada titik sewajarnya. Buat review dan perbandingan dengan film sejenis, latar hal yang sama atau film yang digarap oleh sutradara yang sama. Soal nonton film indonesia? hehe saya nggak pilih2 soal film indonesia, termasuk film2 nya Inneke; malvin, susanna, warkop, christien hakim, benyamin, robby sugara, dan sebelum sebelumya. Mungkin film-film sebelum anda lahir hahahaha.. viva film Indonesia |
 | gitu ya oom? ya ya ya...
soal review dgn membandingkan, yeah, menulis review itu pd dasarnya bebas2 aja, dlm arti ini hanya soal gaya dan prioritas, ada kalanya perbandingan itu perlu ada kalanya enggak. bahkan saya gak nyebut nama2 pemerannya, dll jd jelas review saya memang gak memenuhi standar formula kompas ato tempo. dan itulah gunanya blog, agar org punya bacaan lain selain review ala koran yang baku nan akademis itu. hehehehe |
 | iya... huhuhuh... emang agak susah masuk ke hati gue. emang mungkin as you said, hati udah terlalu kering. |
 | rumputeki wrote on Mar 4, '08, edited on Mar 4, '08 hahaha betul julia, kita mgk tidak hanya butuh siraman, tapi guyuran rohani ala aa gym biar hati jd basah (aiih.. basah! haha) |
 | ah, gila lo mu, reviewnya keren sekali. memang kita nggak bisa menilai film dari novel. film ya film aja, meski ceritanya berasal dari novel, karena kan mediumnya beda. gw sejak seminggu lalu cuma nongkrong di bioskop tanpa bisa masuk karena tiket film ini sudah habis. gw seneng karena bahkan mbak-mbak berjilbab besar dan panjang membawa anak-anaknya ke bioskop untuk menonton film ini. gw bener-bener suka kapitalis dalam konteks ini hehehe. soal filmnya? rekomendasimu keren sekali miu-miu. I will be well-prepared bahkan untuk kecewa hahaha. |
 | setuju, ris...film ini mengecewakan terutama justru bukan krn "tidak sama" dgn novelnya, melainkan karena tidak membari sesuatu yang "berbeda", entah itu soal nilai2 dan lain2nnya. |
 | itu pula yg gue rasain vero, pas pertama kali ker jakter dan kehabisan tiket. gw gak kecewa malah seneng. liat orang2 yg gw asumsikan gak pernah ntn film, kini berbondong2 ke bioskop. perfilman kita memasuki babak industri yg sesungguhnya. saya bahkan membayangkan mestinya produser jg memproduksi pin, kaos ato apalah yg bertulis, misalnya "iklas dan sabar, itu islam!" --kutipan paling menggetarkan dr film ini, tentu saja bagi orang2 yang beriman. |
 | Gw melihatnya dari sisi gimana mereka mengemas ini hingga bikin orang penasaran. Jujur sangat rapih mereka bikin orang penasaran hehehe. Keluarkan dulu isu filmnya, filmnya ditunda tayang, lagunya udah ngetop duluan, terus teasernya udah lama keluar di bioskop. Terus kayaknya gw jarang liat papan reklamenya yang gede...., tapi gw liat di shelter busway mereka sewa orang yang beradegan teatrikal sambil bawa papan, isinya Ayat Ayat Cinta Mulai Hari Ini. Sangat pintarrrr |
 | don't judge a book by it's movie
antrinya MasyaAllah, belum lagi kena tindakan rasis hehehe |
 | kena tindakan rasis gimana? |
 | tuhu, analisis yg menarik. jgn2 pembajakannya di internet (film ini tiba2 dah ada di youtube aja gitu dlm versi lengkap!) jg bagian dr akal2an promosi mereka, gmn pendapat lo hehehehe |
 | rumputeki wrote on Mar 5, '08, edited on Mar 5, '08 iya andi lu musti jelasin soal tindakan rasis itu, biar gak ada salahpaham |
 | gw ga jadi deh nonton film ini, thanx mu telah menyadarkan gw sebelumnya. |
 | hei hei hei jangan dong, hrs tetep nonton. |
 | Ummm bisa juga..., toh ABG-ers akan tetap nonton ke bioskop??? Kenapa???? Pertama harga nonton bioskop kan gak mahal, jadi pengorbanannya gak terlalu gede. Kedua, mang di Indo, internet secepat apa sih?? Kalau secepat badaiii baru deh orang bakal bisa donlod lengkap, sebelum prustasi. Satu lagi jangan-jangan pemilihan Rossa itu juga sebuah strategi. Dia memang sangat menghayati lagu, dan juga kan baru didera isu suaminya selingkuh ampe dua kali. Nyambung banget ma lagunya, n infotainment pasti akan segera merampas berita itu. Lalu para Ibu-ibu akan merasa terharu dan membeli albumnya karena kasiannn. Yapp pemasaran yang sempurna hehehehe |
 | tuhu, thx, analisis yg bagus sekali. |
 | dah baca buku keduanya? Ketika Cinta bertasbih? dua halaman pertama baca,aku berhenti, dan aku mengurungkan niat untuk membaca Ayat2 Cinta...masa sih sefenomenal itu? *bingung* |
 | review yang bagus..
hmm.. jangan-jangan ini juga bagian dari strategi promosi "ayat-ayat cinta"? hehehehe.. |
 | tentunyaaaa membuat orang tertarik utk mereview itu kan sebuah strategi juga hehehe |
 | iya,,, ngga cermat tuh mbacanya... |
 | buneyasmin wrote on Apr 21, '08, edited on Apr 21, '08 dah baca buku keduanya? Ketika Cinta bertasbih? dua halaman pertama baca,aku berhenti, dan aku mengurungkan niat untuk membaca Ayat2 Cinta...masa sih sefenomenal itu? *bingung*  Saya lebih parah Mas. Tertarik baca aja nggak... apalagi mengurungkan... he he.. |
 | kita hidup didunia kritik, byk dikritik berarti laris... saya sendiri belum pernah baca bukunya apalagi filmnya. penasaran? tidak tuh. saya malah penasaran dengan your next reviews Mu :-) |
 | gue gak nonton film ini di bioskop ataupubn di vcd. di bajakan...
dan itupun menyesal! |
| |