Hidup Hanya Mampir Nonton Film dan Sesekali Baca Novel-novel Buruk | |
 | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Salah satu perkembangan yang cukup tebal mewarnai dunia penciptaan seni (sastra, film) di Indonesia adalah kecenderungannya untuk sejauh mungkin menghindari realitas. Penyair Afrizal Malna dengan eksentrik tapi benar mengibaratkan gejala semacam itu dengan ungkapan "seperti novel yang malas menceritakan manusia." Namun, jika disimak lebih dalam, karya-karya tersebut sebenarnya bukan menghindari, melainkan mendekati realitas dari arah yang lain. Masalahnya, bagi kita sebagai audiens (pembaca, penonton), seberapa dalam kita harus menyimak, atau seberapa besar kesabaran kita, untuk sampai pada "kebenaran" bahwa ini tak lain persoalan pendekatan (bentuk) --hingga akhirnya kita tahu bahwa dari segi isi, karya-karya itu justru sebenarnya sangat ingin mengatakan sesuatu tentang realitas, dan bukan hendak menghindarinya?
Menonton debut penyutradaan seorang pendatang baru bernama Mouly Surya lewat film berjudul "Fiksi.", problem seperti itulah yang saya hadapi. Saya nyaris kehilangan kesabaran sebelum akhirnya menemukan bahwa ini karya yang cukup cemerlang. Sepasang muda-mudi yang nonton bersama saya sore itu tidak memiliki kesabaran seperti saya, sehingga belum sampai separo durasi film berjalan, mereka sudah ngeloyor keluar dari gedung bioskop. Namun, ketika ada satu pasangan lagi menyusul bahkan setelah film melewati tiga perempat durasinya, saya pun berpikir kembali tentang kesabaran --benarkah itu problemnya? Mengapa bagi pasangan yang belakangan saya sebut itu, film ini seperti tidak menggerakkan mereka untuk penasaran, ntar endingnya gimana ya?
Pada bagian awal, ketika sedang memperkenalkan tokoh utamanya, Alisha (Ladya Cherryl) saya sendiri merasa, film ini kurang "menyedot" keingintahuan dan bahkan mungkin kepedulian kita. Seorang perempuan 20 tahun dari sebuah keluarga yang kaya raya --apa yang tak bisa dilakukannya? Kenyataannya, ia tak ubahnya boneka-boneka yang berjajar di kamarnya. Hidupnya sepi dan membosankan. Rumah yang ditinggalinya demikian besar, tapi ayahnya hanya datang sesekali. Ia hidup dengan seorang kepala rumah tangga (Rina Hasyim) dan sopir yang siap mengantarnya ke mana-mana. Ibunya? Belakangan kita tahu, lewat sejumlah kilas balik yang surealis, sang ibu sudah mati karena bunuh diri. Ada perempuan lain di hati sang ayah yang menyebabkan semua itu, namun tidak diceritakan. Alisha sempat menyinggung soal "perempuan (lain) itu" ketika makan bersama ayahnya, tapi lelaki itu tidak menggubris. Sampai akhirnya ada orang asing yang mengusik hari-hari beku Alisha. Dia seorang lelaki bertampang bad boy, yang beberapa hari menggantikan tukang kebun yang sedang mudik. Sepeninggalan lelaki itu, Alisha jadi kesepian lagi. Namun, kali ini dia sudah tahu penyebabnya dan oleh karenanya tahu bagaimana mengatasinya: harus mencari laki-laki itu.
Setelah berhasil menemukan bahwa lelaki itu tinggal di sebuah rumah susun, Alisha pun nekat kabur dari rumah besarnya dengan mengelabuhi sopirnya, untuk menyewa sebuah kamar di sebelah tempat tinggal lelaki itu. Namanya Bari (Donny Alamsyah), seorang pekerja serabutan yang tengah berusaha menyesaikan novelnya, dan tinggal tinggal bersama pacarnya, Renta (Kinaryosih). Alisha yang dari awal memang terobsesi dengan Bari, akhirnya menyelingkuhinya di belakang Renta. Namun, bukan itu saja. Sejak pindah ke rumah susun itu, Alisha "tiba-tiba" menjadi psikopat yang mengguncang kehidupan rumah susun yang semula tenang. Tempo film yang awalnya "malas-malasan" berubah menjadi penuh ketegangan yang memacu degup jantung. Dan saya terus bertanya-tanya, kenapa sopir pribadi yang konon mantan intel dan disewa khusus untuk mengawasi Alisha itu tidak dikisahkan lagi, misalnya dia sedang kebingungan muter-muter Jakarta karena majikannya "lepas"?
Sampai film berakhir, sopir dan kepala rumah tangga dan rumah besar itu benar-benar tak diceritakan lagi. Alisha menjadi tokoh "baru", yang sakit jiwa dan membawa malapetaka bagi kehidupan di sekitarnya. Kita hanya bisa memaklumi, sejak awal dia memang misterius. Penampilan dan rias wajahnya mirip boneka, atau putri dari negeri dongeng. Tapi, dari mana sifat iblis itu tiba-tiba datang? Kita tidak diberi petunjuk dari masa lalunya, selain ibunya yang bunuh diri. Pada titik ini, problem psikologi yang melatari film ini menjadi tidak begitu meyakinkan. Saya kemudian justru menemukan, isu-isu sosial yang dikembangkan di sekitar tema utama menjadi lebih solid dan menarik. Inilah yang tadi di awal saya singgung, film yang tampaknya ingin lari dari realitas ini sebenarnya justru memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Dan, mengingat skenario film ini ditulis oleh Joko Anwar, kita kemudian melihat adanya kemiripan "pola" dengan salah satu karya dia sebelumnya, Kala (bedanya yang satu disutradarai Joko sendiri dan satunya oleh orang lain). Tidak hanya dalam pendekatan noir yang diterapkan, kemiripan itu juga terjadi pada persambungan antara dongeng yang diusungnya dengan realitas-aktual di luar cerita. Pada Kala kita masih ingat, ada isu kekerasan hingga politik. Pada Fiksi, ada isu sosiologis masyarakat kelas bawah yang harus membayar ongkos (baca: menjadi korban) pembangunan kota. Meramu dongeng (tentang putri dari dunia mimpi yang terobsesi pada cinta dan sebagainya) dengan kenyataan (kehidupan rumah susun yang sedang ditulis menjadi novel oleh salah satu penghuninya) bukankah hal yang mudah dan tak berisiko. Film ini dengan baik telah melakukannya, menaklukkan sejumlah risiko yang mungkin, dan dalam hal ini mungkin lebih baik ketimbang yang telah dicapai Kala. 
 Sampai hari-hari ini, kita masih juga menyaksikan kata "diobok-obok" muncul dalam media massa, baik cetak, TV maupun online. Kalau Anda masih ingat, kata ini diambil dari judul lagu Joshua bertahun lalu. Pernah ada masanya, kata itu menjadi primadona pers kita. Setiap saat, untuk segala isu, pers menyelipkan kata tersebut, sampai kita benar-benar muak. Tapi, para wartawan sendiri sepertinya tak pernah merasa bosan menggunakannya. Ya, sampai hari-hari ini.
Kecenderungan pers kita untuk mengadopsi kata, frasa, istilah atau pun ungkapan yang sedang populer di masyarakat sebenarnya sudah terjadi sejak dulu, dan itu merupakan sesuatu yang wajar, sah, atau mengutip bahasa gaul anak muda zaman sekarang "fine-fine aja". Ungkapan-ungkapan dari dunia penciptaan seni merupakan sumber yang kaya bagi bahasa pers. Judul-judul film yang menarik seperti "Apa yang Kau Cari Palupi" dan "Kejarlah Daku Kau Kutangkap" termasuk yang paling sering dikutip untuk "diplesetkan" menjadi judul berita atau artikel. Dari khasanah yang lebih mutakhir, judul film "Buruan Cium Gue" cukup banyak dimanfaatkan, bahkan oleh "musuh-musuh" dari film itu sendiri, yakni kalangan Islam, yang antara lain memodifikasinya menjadi "Buruan Nikahi Gue".
Semua itu saya kira merupakan sebentuk kreativitas juga, dan sekali lagi "fine-fine aja". Tapi, sayangnya, pers sepertinya tidak memiliki imajinasi, selera dan kepekaan olah-rasa yang cukup baik, sehingga tidak tahu kapan harus berhenti menggunakan ungkapan-ungkapan itu. Mereka tiada henti mengadopsi, mengeksplorasi dan mengambil manfaat dari frasa-frasa populer itu, tanpa pernah menyadari bahwa semua itu ada titik jenuhnya. Sehingga, apa yang awalnya merupakan ekspresi kreativitas, akhirnya menjadi kelatahan yang banal.
Dan, saya lama-lama jadi curiga, jangan-jangan apa yang tadi saya sebut sebentuk kreativitas itu, sebenarnya justru kemiskinan kreatif yang sudah sampai pada taraf akut. Sebab pada kenyataannya, pers ternyata tidak pernah benar-benar memproduksi ungkapan mereka sendiri yang orisinal, unik, menarik dan kemudian ngetren. Mereka tiada henti mengambil ungkapan-ungkapan dari khasanah budaya pop. Belakangan, seiring dengan semakin canggihnya produksi iklan di televisi, teks-teks pariwara menjadi sumber "baru" bahasa pers. Ungkapan seperti "how low can you go" hingga "jeruk makan jeruk" dicomot mentah-mentah, terus-menerus, dan lagi-lagi tanpa adanya kepekaan akan titik jenuh.
Ungkapan-ungkapan yang awalnya segar dan asik itu, setelah diperas tak henti-henti oleh pers, lantas menjadi pucat dan dingin. Ini pun kita baru bicara pada sisi permukaan, dan belum menyentuh ke aspek lain, misalnya soal ketepatan penggunaan istilah-istilah itu. Yah, namanya saja latah, kadang-kadang hanya asal comot saja tanpa mempertimbangkan kesesuaian makna dan nilai-nilai lainnya. Ungkapan "jeruk makan jeruk" misalnya, seperti kita maklumi bersama, kemudian digunakan sebagai "metafora" bagi kelompok masyarakat yang memiliki preferensi seksual di luar heteroseksual. Pada awalnya, okelah, buat lucu-lucuan masih bisa diterima. Tapi, lama-kelamaan, penggunaan yang terus-menerus telah menggeser makna ungkapan itu menjadi sebentuk ledekan, bahkan hinaan.
Harian Media Indonesia edisi Siang, Rabu (18/5/2008) kemarin menurunkan tulisan berjudul "Peresmian Jeruk Makan Jeruk". Sebelum membaca isinya, cukup mudah bagi pembaca untuk menebak, "ini pasti ada hubungannya dengan orang-orang gay." Benar, isinya laporan tentang negara bagian California yang baru saja mengesahkan pernikahan sesama jenis kelamin, menyusul yang telah dilakukan sebelumnya oleh negara bagian Massasuchet. Pentingkah berita itu? Dibilang tidak, nyatanya koran berskala nasional itu merasa perlu mengabarkannya. Tapi, kalau dibilang penting, kenapa harus ditulis dengan cara seperti itu?
Judul "jeruk makan jeruk" jelas bernada mengolok-olok. Bagi koran tersebut, lelaki-lelaki gay dan perempuan-perempuan lesbian serta mereka yang biseksual dan trangender, yang sepanjang hidupnya memperjuangkan diakuinya hak-hak pernikahan mereka, agaknya tak lebih dari orang-orang aneh, sebuah eksistensi yang tak nyata, karena mereka nun jauh "di sana", "asing" dan "lain", sehingga "di sini" bisa dijadikan bahan tertawaan dan ejekan, dengan antara lain mengibaratkan mereka sebagai "jeruk makan jeruk". Selain itu, masalahnya tentu saja, seperti telah disinggung di awal, ungkapan "jeruk makan jeruk" itu sendiri sudah very very expired and totally not fucking funny anymore! 
 | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Central Park, suatu pagi. Tiba-tiba waktu berhenti dan orang-orang mencakari diri mereka sendiri-sendiri, sampai mati. Seorang perempuan dengan anggun menusuk lehernya sendiri dengan konde yang ditarik dari rambutnya. Tak lama kemudian, di sebuah proyek bangunan di Philadelphia, para buruh beterbangan dari ketinggian, jatuh dan remuk. Dalam beberapa jam, kepanikan menyebar seiring dengan meluaskan kabar lewat media, dan dari HP ke HP. Simpang siur. Ada yang mengaitkan kejadian-kejadian aneh itu dengan serangan teroris.
The Happening yang saat ini diputar di bioskop-bioskop di Jakarta ini adalah karya terbaru M Night Shyamalan setelah antara lain The Sixth Sense, Unbreakable, Signs, The Village dan Lady in the Water. Sutradara berdarah India ini termasuk salah satu sineas Hollywood yang memiliki penggemar fanatik di sini. Namun, lazimnya, sutradara yang digemari secara fanatik seperti ini juga memiliki "pembenci" yang tak kalah banyaknya. Ada teman saya yang ngomel-ngomel sehabis nonton The Village. "Ini tolol, tolol, tolol," umpat dia dengan ekspresi orang yang baru saja tertipu miliaran rupiah.
Film ini bisa jadi juga akan membuat Anda merasa tertipu, namun semua itu tergantung dengan sejauh mana Anda fanatik terhadap Shyamalan. Seperti pada karya-karya dia sebelumnya, kita akan didekatkan pada fenomena alam, dan misteri di balik yang tampak. Kita akan diajak untuk waspada pada angin, yang bertiup dari sela dedaunan, berbisik, menderu, mengejar...Dan, seperti sebagian besar film Shyamalan lainnya, Tha Happening yang berangkat dari peristiwa besar, akhirnya mengerucut menjadi problem sang tokoh utama. Dan, semua akan berakhir begitu saja, ya begitu saja.
"Ini dakwah tentang mari saling menyayangi tidak hanya sesama manusia tapi juga dengan alam." "Ini pesan sponsor tentang Global Warming." "Ini..." "Ini..."
Begitulah, kalimat-kalimat yang sempat berseliweran di telinga saya dari orang-orang yang kencing di toilet sehabis nonton film ini. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Ada bagusnya juga film ini dirilis sebulan setelah gegap gempita peringatan 100 tahun kebangkitan nasional. Bukannya menjadi "kehilangan momen", melainkan justru memberi "jarak" kepada kita agar bisa menontonnya dengan lebih jernih, tanpa terdistorsi oleh euforia yang hanya riuh di permukaan. Dari judulnya kita sudah bisa menduga, ke mana arah film ini, dan kira-kira mau bicara apa. Lebih-lebih ketika kita tahu, May itu nama tokoh utama film ini, seorang perempuan keturunan China, maka jelaslah sudah semuanya: kerusuhan Mei 1998, perkosaan massal...
Tapi, mau cerita apa lagi? Begitu banyak berita media massa, laporan resmi hingga rumor jalanan mengenai peristiwa tersebut --jadi, apa yang (masih) tersisa selain, mungkin, luka? Dari awal kita was-was dibuatnya, jangan-jangan ini hanya akan menjadi dokumentasi yang kering, sekedar melestarikan ingatan kita pada sekeping "sejarah bangsa" --meskipun ini juga tugas yang tak kalah mulia, tapi bagaimana pun, film mesti menawarkan kemungkinan yang lebih kaya, memperluas perspektif. Viva untuk Westi sang sutradara, dan Dirmawan Hatta, penulis skenario, karena berhasil melakukannya. Mereka mengakali dengan menikung dari arah lain, mendekati tema traumatik ini dengan sebuah kisah cinta. Banal? Tidak. Meskipun, bukan berarti tanpa risiko.
Film dibuka dengan memperkenalkan May (Jenny Chang) yang tengah menikmati masa-masa indah pacarannya dengan Antares (Yama Carlos). Lalu cerita melompat ke dimensi ruang dan waktu yang lain, di mana May telah menjadi seorang penyanyi bar yang murung di Malaysia. Tak lama, cerita melompat lagi, kali ini mengikuti keluarga Gandang (Lukman Sardi) yang juga berada di Malaysia, sedang menikmati liburan. Ketegangan menjadi cair dan suasana pun santai oleh celoteh istri Pak Gandang, tipikal khas seorang perempuan Jawa yang kenes, diperankan dengan asik oleh Ria Irawan. Fokus cerita agak lama berhenti di sini, karena Pak Gandang, ternyata, mengenali ibu-ibu Cina yang bekerja di restauran tempat mereka makan. Tapi, ketika disapa, ibu itu tampak tidak ingin memperpanjang pembicaraan.
Begitulah, dua alur cerita itu kemudian berjalan beriringan, susul-menyusul, dengan teknik kilas balik. Penonton menjadi sangat sibuk, tidak hanya mondar-mondir dari satu cerita ke cerita yang lain, tapi juga dari masa kini ke masa lalu. Dengan tempo yang lambat, alur perlahan-lahan mengungkap berbagai teka-taki dan misteri hubungan-hubungan antartokoh dan peristiwa. Secara umum, struktur penceritaan semacam ini memang mendukung efektivitas pencapaian "pesan" dan efek dramatik tertentu. Namun, pada beberapa titik, tak terhindarkan, ada bagian dari kilas-balik yang mubazir. Adegan ketika May menyelinap ke kamar Antares untuk mengabarkan bahwa pada 13 Mei dia mendapat panggilan audisi menjadi tidak relevan karena lewat kilas balik-kilas balik sebelumnya, hal itu sudah cukup terang. Hal-hal semacam ini membuat cerita menjadi terlalu panjang, sehingga film ini jadi agak gugup ketika menyadari, durasi sudah berjalan sangat jauh, tapi masih banyak yang harus dikerjakan. Inilah yang membuat, kemudian, ada sublot yang dibiarkan menghilang begitu saja tanpa "ending" yang jelas (kisah tentang aktivis politik yang diperankan Tio Pakusadewa).
Puncaknya, ending dari film ini sendiri terasa begitu dipaksakan, buru-buru, mendadak. Ibaratnya, penonton dari awal diajak untuk bersabar mengikuti alur cerita yang lambat, dan ketika film ini berhasil membuat penonton tidak bosan, justru filmmaker-nyalah yang ternyata tidak cukup sabar, lalu mengakhiri film ini dengan "makbedunduk". Kelemahan lainnya --SPOILER ALERT!-- terletak pada simpati yang berlebihan kepada tokoh May sebagai korban perkosaan Mei 1998. Maksud saya, kita semua tentu saja juga bersimpati, namun tidak mesti terjatuh menjadi sikap "kasihan" yang emosional-sentimental, sehingga film ini merasa harus memastikan bahwa anak itu bukanlah hasil perkosaan.
Namun, terlepas dari itu, saya tetap menganggap "May" film yang bagus, dan penting (Catatan khusus: untuk bapak presiden dan aparat-aparatnya yang beberapa kali nonton film hanya sebagai strategi politik pencitraan di depan publik, film seperti inilah yang mestinya membuat Anda sekalian menangis --kalau memang airmata itu tulus!). Ini merupakan pernyataan politik dari generasi yang gamang menatap masa depan bangsanya, karena bayang-bayang kelam masa lalu sejarah, sehingga akhirnya terpaksa bangga menyebut diri mereka "apolitis". Masalahnya, siapa sih yang benar-benar bisa lepas dari politik? Tidak suka ngomong politik adalah sebuah sikap politik. Dan, menjadi apolitis sebenarnya sama politisnya dengan menjadi anggota sebuah partai.
Film ini begitu ngotot untuk melarikan ceritanya agar tidak menjadi "film politik", dengan menyamarkannya menjadi sebuah kisah cinta. Namun, karena terlalu kentalnya aroma politik peristiwa yang melatari kisah cinta itu, maka film ini tetap kuat sebagai sebuah pernyataan politik. Dan, bagi saya, justru di sinilah letak salah satu kelebihan film ini: mengangkat tema politik tanpa terjatuh menjadi pamflet penuh slogan dan teriakan. Kekuatan intinya terletak pada tokoh Pak Gandang, yang sangat penting untuk dihadirkan bagi Indonesia hari-hari ini, yang telah kehilangan begitu banyak keteladanan akan nilai-nilai integritas, kepekaan dan kejujuran. Pada konteks ini, arti penting "May" sebagai sebuah karya film setara dengan "Naga Bonar Jadi 2"-nya Deddy Mizwar tempo hari.
Saya tak tahan untuk tidak ikut menangis ketika Pak Gandang sesenggukkan menelepon istrinya di Jogja, setelah dia berhasil menjalankan misi "penebusan dosa" masa lalunya. Saya menyukai film-film yang tidak berakhir bahagia, tapi ketika menonton "May", saya begitu stres dan tegang karena sampai pada bagian tertentu tak henti-henti berharap agar film ini berakhir bahagia. Saya merasa film ini memang harus berakhir bahagia.

 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Kamera barangkali merupakan salah satu teknologi paling mengerikan yang pernah ditemukan oleh manusia. Benda yang bisa merekam dan mengabadikan gambar baik diam maupun bergerak itu sering tanpa ampun mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya sangat pribadi, dan oleh karenanya seharusnya menjadi rahasia. Begitulah, di mata kamera, kata "rahasia" tinggal sebuah ilusi. Dulu kita tak kenal Nanda dan Adi, tapi pada suatu hari yang indah, boom! tiba-tiba saja mereka terkenal ke seluruh penjuru negeri. Dulu kita juga tak tahu Maria Eva dan Yahya Zaini, namun mendadak sontak semua orang membicarakan mereka. Dan, kamera punya banyak lagi cerita, yang membuat kita senang, prihatin, geleng-geleng kepala, mengumpat, istighfar, cekikikan, takut, mesum, panik, mengelus dada, konak, mupeng, munafik, marah dan seterusnya sampai-sampai ada yang namanya gerakan moral JANGAN BUGIL DI DEPAN KAMERA.
Beda dengan Indonesia, respon yang muncul di Finlandia atas fenomena yang sama bukanlah berupa gerakan moral yang oh begitu suci mulia, namun --salah satunya-- sebuah film berjudul "Hymypoika". Sutradara Jukka-Pekka Siili, pembuatnya, agaknya sadar benar bahwa melarang bukanlah sesuatu yang elok bagi generasi sekarang, dan mengajari dengan petuah-petuah moral jangan ini jangan itu hanya akan menjadi bahan tertawaan. Maka, yang ia buat adalah sebuah pernyataan yang seolah-olah menyerukan: Okelah, kamu memang bisa berbuat apa saja dengan segala teknologi yang kamu miliki saat ini, tapi kamu juga harus tahu semua itu ada akibatnya, meminta ongkos dan itu tidak kecil. Bukan soal nanti kamu akan menyesal atau apa tapi inilah yang namanya menjadi dewasa: tahu konsekuensi dari apa pun pilihan-pilihan yang kamu ambil, karena kamu memang manusia yang bebas, merdeka, berpikir dan ya tentu saja cerdas.
Dengan judul Inggris "Young Gods", film ini dirilis pertama kali pada 2004, dan terimakasih pada pasar DVD bajakan yang telah memungkinkan karya ini sampai ke Jakarta, bertahun kemudian. Ini sebuah karya yang akan selalu relevan, dan dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, semakin relevan. Kendati menampilkan aktor-aktor belia dalam adegan-adegan telanjang, pesta-pesta seks, persetubuhan, dalam sinematografi yang indah dan editing yang cermat, ini bukan jenis film yang akan membuat riang gembira penontonnya. Kita akan dijebloskan dalam "kenyataan" yang mengguncang jiwa dan merusak urat syaraf. 
"Lama-lama boring juga ya bok," SMS saya pada seorang teman, mengomentari acara siaran langsung peringatan 100 tahun kebangkitan nasional yang ditayangkan seluruh stasiun TV, Selasa (20/5/08) mulai pukul 19.00.
Sejak sore kami sudah membahas acara itu lewat SMS. Awalnya teman saya itu yang mengirim SMS, bilang kalau tidak sabar menunggu acara berlangsung. Dia bilang, penasaran dengan iklannya yang heboh. Dari klaim jumlah penampil, sudah kebayang kolosalnya. Pasti akan keren sekali.
Namun, sehabis Agnes Monica menyanyikan "Merah Putih" ciptaan Gombloh, dan kemudian acara diisi rangkaian tari-tarian dari berbagai daerah, saya mulai bosan.
Teman saya tidak kunjung membalas SMS saya tadi. Jangan-jangan dia sudah lebih dulu bosan ketimbang saya, dan sekarang sudah tidur. Ternyata, menjelang jam 9 dia malah menelepon:
"Gue barusan nangis sesenggukan."
"Ha? Sumpe lo? Kirain lo ketiduran nggak balas-balas SMS gue."
"Nggak. Gue nangis...pas anak kecil tadi bacain doa, dan gue juga nangis pas lagu Putih-putih Melati itu..."
"Ya ampuuun...gue udah keburu bosan dan TV-nya udah gue matiin dari tadi."
"Ah, lu emang, nasionalisme lu rendah."
"Bisa jadi gue bahkan udah gak punya hahaha...tapi sumpah gue berharap lebih banyak penonton yang nangis kayak lo ketimbang yang boring dan matiin TV-nya kayak gue..."
Tapi harapan saya itu sepertinya jauh panggang dari api. Pagi ini saya membuka inbox multiply dan....berbagai postingan yang ada tentang acara 100 tahun kebangkitan nasional itu semua bernada negatif. Benar-benar negatif. Jadi, apa kabar nasionalisme?
 | Category: | Movies | | Genre: | Independent |
Baru sepuluh tahun, gumam Lucky Kuswandi. Dia mengingatkan agar orang-orang keturunan Cina di Indonesia tidak melupakan begitu saja luka-luka masa lalu, hanya karena kini Imlek sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional. Baru sepuluh tahun, gumamnya, seperti sebuah bisikan lirih yang nyaris tertelan kembali. Apakah kau yakin mereka sudah tak membenci kita lagi?
Saya bukan keturunan Cina, tapi saya merinding mendengar peringatan itu, dan pelupuk mata saya memanas oleh air mata yang saya tahan agar tidak tumpah. Lucky, lewat film pendeknya yang puitis berjudul "A Letter of Unprotected Memories" adalah sebuah suara lain dari komunitas keturunan Cina yang tak pernah kita dengar dari saluran resmi. Dan, sebagai sebuah suara lain, yang mencoba mengatasi formalisme dan basa-basi bahasa kekuasaan, suara itu terdengar begitu lugas, telanjang, jujur. Pada satu titik, kejujuran Lucky bahkan mengagetkan, yakni ketika dia meragukan dirinya sendiri apakah sudah bisa mencintai negeri ini.
Karya Lucky Kuswandi tersebut merupakan satu dari 10 film pendek yang dikompilasi di bawah judul "9808". Di bawah supervisi Prima Rusdi, Hafiz dan Edwin, kompilasi tersebut dimaksudkan untuk menandai 10 tahun reformasi. Setelah diputar perdana di Kineforum, TIM, Jakarta, Selasa (13/5/08) film ini bisa disaksikan oleh masyarakat umum di tempat yang sama hingga 20 Mei 2008, dan rencananya akan dikelilingkan ke kampus-kampus di berbagai kota.
Dengan bentuk respon, referensi dan gaya ungkap masing-masing, 10 filmmaker mencoba memaknai dan menafsirkan apa itu reformasi, setelah 10 tahun bergulir terhitung sejak lengsernya Soeharto pada 1998. Kita mendapatkan respon dan tafsir yang beragam, namun ada garis tebal yang menyita perhatian dari sana, yakni separo dari isu yang muncul berkaitan dengan "isu-Cina". Ariani Darmawan lewat karya berjudul "Sugiharti Halim" misalnya, dengan pendekatan komedi yang sangat mengena, mengusung ironi di balik peraturan pemerintah yang mengharuskan orang keturunan Cina untuk memiliki nama Indonesia.
Seperti halnya Lucky, Ariani juga keturunan Cina dan karya mereka menjadi semacam pernyataan (politik) yang bersifat personal tanpa kehilangan daya gugahnya sebagai bahan perenungan bersama. Namun, sebagai sebuah bentuk respon, tidak semua dari 10 karya dalam kompilasi ini bersifat "curhat". Ucu Agustin misalnya, menyajikan reportase atas sosok Sumarsih, ibu dari korban Tragedi Semanggi 1 Wawan dalam "Yang Belum Usai". Dengan penuturan yang padu-padat, Ucu tidak hanya mengembalikan ingatan kita pada salah satu luka dari reformasi. Lebih dari itu, ia juga berhasil menggambarkan perubahan hidup seorang perempuan warga sipil biasa dari ibu rumah tangga yang rajin ke gereja menjadi demonstran "radikal" yang gigih --mungkin sampai akhir hayatnya.
Bentuk reportase juga disajikan oleh Steven Pillar Setiabudi lewat "Sekolah Kami, Hidup Kami". Tidak secupu judulnya, film berdurasi kurang dari 12 menit ini mencengangkan kita dengan "temuannya" di kota kecil nun jauh dari Jakarta: sebuah gerakan anti korupsi yang dilancarkan oleh pengurus OSIS SMU 3 Solo terhadap kepala sekolah dan guru-gurunya!
Lucky, Ariani, Ucu dan Pillar menurut saya termasuk yang berhasil mengkomunikasikan isi kepala dan kegelisahan mereka dalam merespon tema besar dan gawat "10 tahun reformasi". Artinya, jujur saja, memang tidak semua karya dalam kompilasi ini berhasil berbicara secara jernih dalam merespon isu yang disodorkan. Ada yang terkesan "bingung-sendiri" sehingga kehilangan poin dan tidak nyambung. Ada yang sok-asik, tapi jadinya malah hanya berisik. Ada yang terlalu filosofis sehingga jadinya malah tak bicara apa-apa. Ada yang terlalu "harfiah" dalam menerjemahkan "10 tahun reformasi" sehingga terasa kaku dan gagal memperkaya perspektif penonton.
Saya kira yang paling tampak berkilau adalah karya Ifa Isfansyah, "Huan Chen Guang" (judul bahasa Inggris: "Happiness Morning Light"). Di tangan Ifa, "10 tahun reformasi" menjadi isu yang begitu terbuka untuk dimaknai. Di sini, lagi-lagi, kita bertemu dengan "isu-Cina", namun Ifa mendekatinya dengan cara yang sama sekali berbeda. Ia mengolah satu keping realitas dari puing-puing kerusuhan massa yang mengiringi jatuhnya rezim Orde Baru, yakni perkosaan atas perempuan-perempuan Cina, menjadi sebuah fiksi yang halus. Film ini filosofis, tapi tak kehilangan pijakan; dramatis namun tak cengeng.
Layaknya kasus perkosaan Mei yang sampai sekarang tak pernah benar-benar diakui pernah terjadi, Ifa bermain-main antara realitas dan fiksi dengan secara simbolis memasukkan tokoh-tokohnya ke dalam dunia antara mimpi dan kenyataan. Secara teknis, Ifa juga menseriusi "proyek" ini dengan gambar-gambar yang diambil di lokasi-lokasi yang sulit sehingga hasilnya begitu utuh dan meyakinkan. 
 | Category: | Music | | Genre: | Pop | | Artist: | Afgan |
Afgan adalah kejutan kecil yang jarang sekali terjadi dalam industri musik Indonesia. Kebanyakan penyanyi pop solo pria lahir dari pergeseran karier seorang vokalis band yang dipecat, atau redup popularitasnya. Baim dan Ari Lasso contoh yang paling mudah diingat. Glenn Fredly sebelumnya vokalis Funk Section. Marcel bahkan muncul pertama kali sebagai dramer grup metal, dan sekarang goyang pinggul "Candu Asmara"...alamaaak!
Kalau mau menengok ke masa lalu yang lebih jauh lagi, vokalis-vokalis pria yang bagus umumnya telah kita kenal terlebih dahulu sebagai anggota sebuah grup. Yana Julio, Heidy Junus, Ricky Johanes...atau perlu contoh yang lebih jadul lagi? Gito Rollies (alm.), Ricky Basuki, siapa lagi? Mungkin hanya Tomy J Pissa yang benar-benar penyanyi solo dari awalnya. Tapi, siapa yang masih ingat dia? Oke, Rio Febrian mungkin belum begitu pudar dari ingatan.
Pokoknya nggak berlebihanlah kalau Afgan ini dibilang sedikit istimewa. Kita belum pernah mendengar namanya, dia bukan peserta kontes badut AFI atau Indonesian Idol, dan tiba-tiba muncul dengan album "Confession No.1". Suaranya terlalu tebal untuk umurnya yang masih relatif sangat belia. Dia adalah Dian Pramana Putra dalam versi yang, yeah, lebih tebal itu tadi.
Kesan bahwa dia seorang "titisan" dipertegas dengan salah satu lagu di album ini, "Biru" ciptaan Dian PP yang awalnya dinyanyikan Vina Panduwinata dan pernah munculjuga dalam suara Dian PP sendiri. Single pertama yang dijual untuk mendongkrak popularitas album ini adalah "Terima Kasih cinta" yang kini menggema di mana-mana, dari lapak CD bajakan pinggir jalan hingga departemen store di mal-mal. Kau tak bisa untuk tak menyukai lagu ini, karena di mana pun kau berada kau akan mendengarnya. Tapi, tetap harus diakui bahwa lagu ini memang manis dan mudah melekat di memori.
Satu-satunya yang agak mengganggu dari album ini adalah duet Afgan dengan Nagita Slavina, siapa sih dia ini? Pemain sinetron? 
 | Category: | Music | | Genre: | Soundtracks | | Artist: | Bryan Adams, Hans Zimmer |
Inilah album yang tak pernah berhenti aku dengarkan sejak dirilis pada 2002. Sebuah album soundtrack film animasi dengan tokoh utama kuda, yang kebetulan dinyanyikan oleh penyanyi pria favorit saya sepanjang masa Bryan Adams. Sebanyak 15 lagu dalam album ini, yang musiknya dikerjakan oleh Hans Zimmer, selalu membuai saya mengawang-awang ke angkasa, mengantarkan penjelajahan ke negeri-negeri mimpi pada malam hari serta memompakan semangat dan harapan ketika bangun pada pagi hari. Suara Bryan Adams yang serak-serak sendu terutama pada lagu "Sound the Bugle" atau bening pada lagu-lagu "Here I Am" dan "I Will Always Return", dan sentimentil misalnya pada "Brothers Under the Sun" sering seperti terseret ke tempat-tempat yang asing dan jauh, dan ke mana pun pandangan tertuju, segalanya abu-abu di mataku. Sudahlah, tak perlu banyak rima (kata Bondan Prakoso), pokoknya album ini sudah kuanggap klasik. 
Ketika hampir semua koran lokal terbitan Jakarta menempatkan peristiwa keracunan yang menimpa karyawan Carrefour Ratu Plaza sebagai laporan utama, Senin (5/5/08), koran Warta Kota mencoba mencuri perhatian dengan headline yang sama sekali berbeda. Judulnya "Istri Pejabat Sewa Gigolo". Hasilnya, tokcer! Koran itu langsung diserbu pembeli. Pantauan saya di lapak-lapak kecil seputaran Blok M mendapati, edisi berkepala berita sensasional itu habis sebelum petang. Padahal, biasanya koran milik grup Kompas itu masih bertumpuk-tumpuk hingga malam, bersama harian-harian lokal lainnya seperti Pos Metro, Berita Kota, Lampu Merah, Pos Kota dan Non Stop.
Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang otaknya mesum, terobsesi dengan moral dan gila gosip, saya pun tergoda untuk membeli edisi tersebut. Namun, setelah selesai membacanya, saya kecewa berat. Apa yang ditulis Warta Kota sama sekali bukan berita hangat, straight news, yang berangkat dari peristiswa atau kasus aktual. Subjek "Istri Pejabat" yang disematkan pada judul tulisan, ternyata tidak memiliki rujukan yang jelas, menunjuk oknum tertentu yang bisa dipertanggungjawabkan akurasinya. Dengan kata lain, sebagai sebuah laporan yang diposisikan sebagai headline, tulisan tersebut sangat buruk.
Tulisan itu sama sekali tak bicara dan mengungkap data atau isu atau hal baru. "Istri Pejabat" hanyalah simbol yang ditempelkan, representasi yang dicatut seenaknya demi menarik perhatian semata. Sedangkan, isi tulisannya sendiri bicara dalam konteks yang sangat umum tentang praktik per-gigolo-an, itu pun dengan salah satu "data" pendukungnya hanya dicomot dari iklan baris di koran. Pendek kata, menurut saya, berita itu menipu pembaca. Tidak ada alasan bagi Warta Kota untuk tiba-tiba, tanpa "angle" yang jelas, memberitakan omong kosong tentang gigolo. Ini sama saja dengan menulis headline "Pria Macho Beli Bawang".
Seperti halnya bawang, gigolo itu dari dulu kan emang ada. Dan, seperti halnya bawang pula yang bisa dan boleh dibeli siapa saja, termasuk pria macho, gigolo pun konsumennya kan macam-macam, gak peduli istri pejabat atau janda rumahan. Keanehan lainnya, setting berita tersebut Surabaya, padahal Warta Kota koran lokal Jakarta. Artinya, sama-sama mau mengangkat isu basi, mbok ya yang dekat-dekat saja. Ini kan sekali lagi membuktikan bahwa Warta Kota sebenarnya tak punya alasan untuk mengangkat isu tersebut.
Kalau memang niatnya tulus, dan berdasarkan urgensi tertentu, Jakarta jelas jauh lebih menjanjikan untuk lahan investigasi isu-isu begituan. Duh, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan pers Indonesia, ketika begitu banyak informasi penting, mendesak dan berguna menunggu untuk dikabarkan, tapi justru memilih kasak-kusuk sampah tentang gigolo?
Saya kira Warta Kota telah memperlihatkan sebuah politik pemberitaan yang manipulatif, membodohi dan miskin. Dan sikap seperti itu hanya lahir dari sebuah rasa tidak percaya diri dan frustrasi yang kronis.
 | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Setelah menyaksikan wajah-wajah tampan mereka sendiri di Majalah Rolling Stone Indonesia dan iklan kartu selular di TV, anak-anak band asal Bandung The Changcuters kini memantapkan popularitas mereka lewat kemunculannya di layar lebar, lewat debut sutradara Iqbal Rais, dari rumah produksi yang dikelola Hanung Bramantyo. Dan, semakin membuat orang yakin bahwa mereka memang lebih cocok berakting ketimbang main musik. Tapi, apa sih artinya lebih cocok?
Film ini berangkat dari keyakinan, bahwa empat personel The Changcuters itu layak dijual --maksudnya, di luar urusan musik. Penampilan mereka unik, sangat peduli fashion, dan tingkahnya juga "nyeleneh". Ya sudah, tinggal dibikinkan cerita saja. Yang ringan, lucu, menghibur. Dan, jangan lupa, Bandung harus tetap jadi setting-nya. Nah, ngomong-ngomong soal Bandung, apa sih yang sedang aktual? Oh, ya genk motor!
Maka, alkisah, Cacing (Vokalis The Changcuters Caca Sutarya) melamar menjadi anggota The Road Devil, salah satu genk motor yang ditakuti di Bandung. Namun, tokoh kita ini terlalu "baik hati, tidak sombong dan rajin menabung" sehingga tidak lulus uji persyaratan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Akhirnya, ia mengajak teman-temannya untuk mendirikan genk motor sendiri, yang menjunjung tinggi sopan santun, kalau perlu membela kebenaran dan keadilan, dan diberi nama Tarix Jabrix.
Sampai di sini, sudah terasa semangat untuk meledek, memparodikan dan menertawakan genk-genk motor yang meresahkan masyarakat dan dalam taraf tertentu bahkan sudah masuk ke kategori kriminal itu. Namun, layaknya film-film Indonesia lain yang berpretensi mengusung tema penting dan serius dengan pendekatan parodi, film ini terlalu malas untuk memikirkan lebih jauh apa yang ingin disampaikannya itu. Sehingga akhirnya ya tidak ada parodi sama sekali.
Film ini juga menyia-nyiakan potensi yang dimilikinya, misalnya, dari awal saya sudah membayangkan, Caca Sutarya itu akan menjadi "Jim Carry-wanna-be". Dan, memang iya, tapi sama sekali tidak total dan tidak maksimal.
Kelucuan-kelucuannya juga nanggung, dan banyak yang jayus. Misalnya ini:
"Ada tamu, Pak, polisi." "Dari mana tahu itu polisi?" "Pakai seragam, Pak." "Anak SD juga pakai seragam tapi nggak pernah disebut polisi."
Dengkul saya langsung lemes.
Ditambah dengan ide cerita yang longgar, film ini jadi terasa agak membosankan. Puncaknya adalah ketika pesan moral yang sudah dipendam dari awal muncul di bagian akhir, bweeeee, film ini terasa seperti drama penyuluhan TVRI 1980-an. Okelah, maksud saya, kalau memang semangat anti-narkoba itu perlu terus-menerus ditekankan kepada masyarakat, tapi kan caranya bisa lebih "modern" dan "elegan" gitu lho. Dengan kata lain, film ini ingin menanamkan nilai-nilai positif tapi dengan cara yang jauh lebih membosankan dibandingkan dengan acara TV yang dipandu Mario Teguh, atau seminar-seminar motivasi.
Sadar bahwa filmnya tidak akan memberi apa-apa kepada penonton --selain, yah, lawakan garing Si Kembar Coki dan Ciko (Alda dan Qibil, Gitaris The Changcuters)-- pembuatnya mengakali dengan memberi kejutan-kejutan kecil yang bersifat non-cerita. Misalnya, ada rocker terkenal yang muncul dalam peran banci. Ferina (Elfa's Singer, Lenong Rumpi) dan Sam (Bimbo) muncul sekilas sebagai sepasang suami istri, orangtua salah satu anggota Tarix Jabrix. Salah satu personel P Project berperan sebagai ayah yang galak (tapi akhirnya tak tahan juga untuk tidak melawak).
Film ini dituturkan dengan teknik kilas balik. Para personel Tarix Jabrix diinterogasi oleh sesosok lelaki misterius yang tak diperlihatkan wajahnya. Pada akhir film, sang interogator berdiri, dan kelihatan sekilas wajahnya. Dan, itulah kejutan terbesar dari film ini. Tapi, apakah penonton remaja mengenali siapa dia? Lha wong teman saya yang wartawan saja tidak tahu kalau itu "dia". Bweeeee!!! 
 | Category: | Movies | | Genre: | Horror |
Saya merasa agak ajaib, nyaris tak percaya, iseng, kurang kerjaan ketika mendapati diri saya, sore itu, berada di sebuah mall di Jakarta Selatan, menonton film "Kesurupan". Bayangan tubuh saya berjalan di kaca gelap etalase sebuah fast food, tergesa-gesa, seperti hantu yang tak menapak tanah. Sebentar lagi saya akan bergabung dengan hantu-hantu bikinan Rizal Mantovani, pikir saya. Dalam khasanah film honor, dia bukan sutradara sembarangan. Bersama Jose Purnomo, dialah orang yang paling bertanggung jawab jika kini gairah industri film di Tanah Air masih berada di wilayah horor. Karya mereka, "Jelangkung", adalah sebuah tontonan menakutkan yang cemerlang, dan khusus untuk Rizal, kemudian semakin memantapkan reputasinya sebagai pembuat film horor yang bagus lewat sekuel "Kuntilanak".
"Kesurupan" ini sendiri meluncur di bioskop bersamaan dengan beredarnya sekeal ketiga "Kuntilanak". Artinya, bayangkan betapa produktifnya sutradara yang satu ini...terus...terus...aduh, aku mau nulis apa ini sebenarnya. Sudah lama sekali nggak nonton film Indonesia dan rasanya seperti sudah lupa gimana caranya menulis review. Yang jelas ide film ini terlalu simpel, dengan eksekusi yang terlalu datar. Nyaris tak ada jeritan ritmis abege-abege yang memadati studio, dan sekali-kalinya terdengar gemuruh, itu adalah derai tawa yang mestinya tidak terjadi di depan layar yang sedang memutar film horor.
Mastur yang memerankan dirinya sendiri mengambil nyaris seluruh panggung dan menyita nyaris seluruh perhatian penonton. Pada saat ketakutan pun, orang akan tetap menganggap dia sedang melawak, dan rusaklah mood film ini sebagai film horor. Bumbu percintaannya juga terlalu banyak, sehingga di saat adegan yang maunya tegang, tiba-tiba Nia Ramadani dan Andhika Pratama ciuman -aduh, sempet-sempetnya, teriak penonton. Pendek kata, ini film horor yang gagal meyakinkan dirinya sebagai film horor. Banyak penokohan dan adegan yang mubazir, seperti kehadiran pembantu baru di rumah Shareefa Danish yang sedang "menderita" kesurupan, yang dari awal cukup misterius tapi sampai akhir cerita ternyata tidak punya peran apa-apa, selain untuk mendukung banyolan mesum Mastur.
Sungguh disayangkan, sutradara yang sudah dikenal sebagai spesialis film horor, akhirnya terjebak dalam tuntutan kejar tayang, dan menghasilkan karya yang sangat lemah. Tampak sekali bahwa film ini semata ingin mengulang formula "Jelangkung": mengandalkan terornya pada boneka dan kesembronoan remaja-remaja kota. Sejak Shareefa Daanish mengambil boneka di kuburan itu, ending film ini sudah langsung bisa ditebak: dia harus mengembalikan boneka itu ke tempat semula dan di situlah teror hantu akan mencapai klimaksnya. Dan, masih mengikuti "Jelangkung", film ini berakhir dengan tragis dan cukup menteror memang --tapi apa maknanya? 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Fadil Timorindo |
Menemukan tema, penokohan atau subteks gay dalam teenlit sebenarnya nggak susah-susah amat. Saya pernah melihat di toko buku ada teenlit judulnya "My Cousin is Gay". Sampai segitu "vulgar"-nya? Syukurlah buku yang nadanya memang jualan abis itu sepertinya nggak populer. Buktinya, saya search di Google nggak nongol. Penerbitnya nggak jelas sih hehehe.
Belum lama kemarin, saya ke Gramedia Plaza Semanggi dan melihat satu meja tambahan untuk obral teenlit. Dalam hati saya berbisik, baguslah...berarti remaja-remaja kita nggak sebodoh yang dikira oleh penerbit-penerbit tukang kelontong yang mengira bahwa dagangan mereka itu namanya novel!
Untunglah ada GagasMedia yang gencar menerbitkan teenlit-teenlit yang cukup bisa dipertanggungjawabkan. Untunglah pula masih ada Gramedia yang meskipun terkesan ikut arus tren tapi kayaknya tetap selektif. Setidaknya, tak ada novel dengan judul yang ngehek macam "Ustad Jaka Ijinkan Aku Menjitakmu, Pliss!" dari kedua penerbit tersebut --itu saja sudah lumayan melegakan. Nah, kan jadi ngomel lagi kan. Oke, jadi soal gay masuk teelit itu...memang bukan hal baru. Tapi, bagaimana cara isu tersebut ditampilkan, itu soal lain. Novel ini, bukan hanya serius tapi juga sepertinya memang sengaja ingin menjadi semacam "homosexuality for beginners". Meskipun, untuk disebut sebagai teenlit-gay juga masih jauh.
Novel ini ditulis oleh seorang mahasiswa Interstudi dan memakai namanya sendiri sebagai tokoh utama, yang tampil sebagai aku. Alkisah, si aku alias Fadil ini naksir pacar temannya. Pada saat yang sama, cewek yang ditaksir itu memperkenalkan temannya yang baru datang dari luar negeri. Ternyata, si teman baru ini gay dan langsung nembak Fadil. Tentu saja, tokoh kita ini langsung marah-marah dan merasa terhina: Gue nggak nyangka lo sejahat itu. Kalo emang lu nggak bisa nerima cinta gue, ya udah, tolak aja dengan terus-terang, nggak usah malah jodoh-jodohin gue ama teman lu yang homo itu!" Begitulah kira-kira.
Saya tertarik dengan penokohan si gay itu, karena cukup hidup. Dia tidak hanya hadir sebagai pelangkap penderita atau pun faktor pengganggu hubungan antara Fadil dan cewek yang ditaksirnya. Melainkan, dipaparkan juga masa lalunya dan apa yang terjadi kemudian setelah cintanya tertolak. Ada bagian yang terasa banget betapa novel ini begitu berambisi ingin menanamkan pemahaman tertentu yang positif kepada pembaca tentang homoseksualitas remaja. Bagus juga sih, secara...kaum dewasa saja masih banyak yang menyalahpahaminya. Jadi, para ibu muda dan para kakak yang baik mungkin perlu membaca buku ini, agar kelak jika -siapa tahu- mendapati kenyataan bahwa anak atau adik cowoknya gay, tidak panik dan merasa dunia kiamat. Yuuuk! 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Nugroho Nurarifin |
Para penulis yang bisa kita asumsikan sebagai kaum heteroseksual cenderung memiliki imajinasi tertentu yang seragam atas homoseksualitas. Ini tentu tidak terlalu mengherankan karena mereka bagian dari masyarakat secara umum yang masih selalu melihat orang-orang homoseksual secara stereotip. Bagi mereka, sepertinya, lelaki-lelaki gay adalah potret paling sempurna dari derita manusia yang kesepian, pecundang sejati, celaka, dengan masa lalu yang kelam (diperkosa ayah tiri).
Novel kedua Nugroho Nurarifin ini (setelah debut berjudul “Bidik”) menampilkan tokoh utama seorang lelaki seperti itu, dan nyaris saja terjatuh ke dalam klise yang sama sekali tidak berguna bagi apa pun. Tapi, Nugi, panggilan akrab penulis favorit saya ini, bukanlah novelis sembarangan. Dua kritikus sastra bernama Nirwan (satu Dewanto dan satu lagi Arsuka) memang belum pernah mentahbiskan namanya. Namun, percayalah, penulis-penulis terbaik yang lahir di negeri ini memang hampir selalu luput dari pengamatan mereka yang dipuja-puja sebagai kritikus (sastra). Dulu, tokoh sebesar HB Jassin masih sempat dan mau membaca novel “Ben” karya Gus tf Sakai –yang --kala itu masih-- tergolong “pop” dan “remaja”. Tapi, sekarang, para kritikus sastra yang angker-angker itu kesibukan terbesarnya hanyalah mengangkat-angkat Avi Basuki agar semua orang yakin bahwa mantan peragawati itu bisa menulis cerpen. Lho, lho, lho lha ini kok malah ngomel.
Kembali ke Nugi, ya, saya senang bahwa di tengah penulis-penulis putus asa yang selalu mengembe-embeli karya mereka dengan label “sebuah novel pembangkit jiwa” atau “novel pemacu motivasi”, ternyata masih ada penulis yang berani melenggang semata-mata sebagai “tukang cerita” dengan elegan, meyakinkan, percaya diri dan tentu saja, serius --yang terakhir ini perlu digarisbawahi karena banyak sekali sekarang ini orang yang frustrasi dengan kehidupan dan kariernya, lalu “menjadi” novelis dan menulis sesuatu yang aneh-aneh, sok nyeleneh, maunya nyentrik, hiperbol, berlagak pemberontak, tapi otaknya mesum belaka, rendah imajinasi, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya DAN SETERUSNYA!!!!!!!
Sampai kita muak.
Novel ini, saya bangga merekomendasikannya kepada Anda, sebaliknya: sederhana tapi kuat, tidak menggebu-gebu tapi jernih, tidak terlalu baru dan mungkin juga tak cerdas-cerdas amat tapi berhasil melarikan diri dari kutukan terbesar yang merundung penulis Indonesia: klise. Taruhlah, kau orang yang cukup ngelotok dengan teori-teori Baudrillard, Eco dan filsuf-filsuf kontemporer yang sinting-sinting itu (yang menjadi pondasi tempat novel ini berpijak --sehingga kau mungkin akan menganggap si Nugi ini tak ubahnya mahasiswa puber yang sedang termehek-mehek dengan ide-ide tentang simulacrum, hiperealitas dan sebagainya), novel ini tetap menawarkan sesuatu. Dengan kata lain, inilah novel-ide yang tidak garing (yup, novel-ide biasanya garing dan membosankan), atau dalam bahasa-templete-ala-kritikus: Nugie berhasi memadukan antara kejelasan ide dengan keterampilan mengembangkan alur cerita dengan baik.
Novel ini berangkat dari ide abadi tentang keterasingan manusia, namun bukan dalam konteks klasik Marxisme, melainkan dalam konteks budaya (komunikasi) massa era blog sekarang ini. Dari awal, perhatian kita langsung dibetot (atau disedot?) oleh tokoh utama yang memperkenalkan diri sebagai orang yang menjalani “hidup sekali pakai”: Aku makan dengan piring-piring styrofoam, minum dengan gelas-gelas plastik, susuku tersedia dalam karton-karton mungil sekali minum…Celana dalamku kertas, aku tidur di dalam sleeping bag yang kuganti setiap bulan…Hdup sekali pakai. Itulah yang kumiliki…Semua yang sifatnya jangka panjang hanya akan melukai….
Saya kira saya belum pernah menemukan pembukaan novel seindah dan semisterius itu.
Di belantara dunia nyata sekaligus maya bernama Jakarta, alkisah, dia seorang pegawai biro perjalanan kecil di Setiabudi. Dan, di belantara dunia maya sekaligus nyata bernama internet dia adalah diri yang lain, yang memiliki kepribadian dan obsesi serta harapan yang lain lagi. Hidup adalah kesibukan hilir-mudik dari dunia yang nyata ke dunia yang maya meskipun kita tak pernah benar-benar bisa membedakannya. Dalam ruang tanpa batas antara yang real dan yang khayal, hidupnya yang sepi bersilang jalan dengan Nugroho Nurarifin (ya, si Nugi ini memakai namanya sendiri sebagai tokoh dalam novelnya), seorang penulis novel dan copywriter di agensi iklan Pantarei, yang terbosesi dengan eksperimen seksual tertentu.
Pada saat yang sama, Anisa, pasangan Nugroho, juga terjebak dalam affair singkat dengan seorang pengusaha muda bidang media benama Raymond. Dengan perangkat teori-teori budaya (massa) kontemporer sebagai bingkai, Nugi telah mempersembahkan dongeng tentang kesepian manusia dengan cara yang paling kelam dan mencekam yang pernah diceritakan. Pada akhirnya, kita memang bisa menerima jika homoseksualitas (masih) ditampilkan dengan begitu stereotip, karena kehadirannya bermakna ganda, simbolis sekaligus sebagai subteks “gay-life” itu sendiri dalam sosialisasinya di dunia nyata dan maya, dan sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat urban megapolitan. Meskipun, pada titik ini Nugi gagal menghindari kelemahan yang biasanya menghinggapi novel-novel ide: menyederhanakan sesuatu (hubungan antartokoh dan sebagainya) yang mestinya kompleks, demi mengejar tercapainya (atau terbuktinya) ide yang dihipotesiskan. Misalnya, pada bagian akhir kita akan menemukan, ooo ternyata Raymond itu bla bla bla….sebuah kejutan kecil ala sinetron atau semacam faktor kebetulan yang selalu menghiasi alur film Indonesia.
Fakta tersebut sedikit membuat kita down, karena merasa kehilangan sebuah misteri atau ambiguitas yang sebelumnya menyelimuti kepala kita. Namun, dengan ending yang masih menunjukkan bahwa Nugi adalah penulis dengan kontrol diri yang terjaga dan tahan godaan, misteri dan ambiguitas yang meneror itu, kalau memang ada, tidak sepenuhnya hilang, sehingga novel ini tetap meninggalkan satu lobang kecil di jiwa kita, yang membuat kita sakit, menjerit, mengumpat dan terkapar dengan nafas terengah-engah, lalu merasakan udara di sekeliling kita g e l a p...

 | Category: | Music | | Genre: | Rap & Hip-Hop | | Artist: | Bondan Prakoso & Fade2Black |
Awalnya, saya membeli album ini demi satu lagu, “Kroncong Protol” yang sudah banyak di-download orang di multiply dan lain-lain. Saya berpikir, kalau nanti saya tidak bisa menikmati lagu-lagu yang lainnya, maka cukuplah lagu itu saja yang saya dengarkan, diulang-ulang sampai “muntah”. Namun, di luar dugaan dan harapan, album ini ternyata memuat banyak lagu bagus, dan saya bisa menikmati semuanya.
“Kroncong Protol” menjadi jualan utama karena lagu ini memang menarik tidak hanya sebagai sebuah eksperimen berani, cerdas dan ambisius. Lebih dari itu, lagu ini mengembalikan harapan-harapan dan kerinduan kita, entah pada apa, yang jelas ketika mendengarnya kita merasa begitu lega. Sebagai penikmat musik kadang-kadang kita menuntut lebih dari para musisi. Kita diam-diam merasa tidak pernah cukup dan ingin berteriak, “Beri kami sesuatu yang membuat kami berpikir bahwa kalian masih punya sedikit, ya sedikit saja, idealisme dalam bermusik, dan tidak hanya lirik-lirik cinta bermelodi manis yang membuat kalian kaya mendadak.”
Sebagai pendengar, kita sebenarnya tidak pernah menolak “kompromi pasar”, atau apapun namanya, tapi kita juga tidak bisa benar-benar rela kehilangan segalanya. “Kroncong Protol” memberi kita alasan untuk sejenak berhenti mengeluh (“Apakah selera musik kita makin memble?” tulis Majalah "Hai" suatu kali), dan percaya bahwa idealisme, apapun maknanya, itu masih ada, masih cukup penting dan “pasar” yang mengangkang di ujung sana, selalu bisa disiasati dengan kreatif. Kita gembira, bahwa lewat Bondan Prakoso dan Fade2Black, ya, anak-anak muda ini, asa kita yang nyaris putus terajut kembali, dan kita bisa merasa agak lebih nyaman ("Seperti menikmati usia senja").
Saya sama sekali tak ingin mengaitkan usaha Bondan dkk pada lagu “Kroncong Protol” dengan, misalnya, nasionalisme atau melestarikan tradisi. Itu tidak penting. Bagi saya, dengan lagu itu, Bondan dkk telah memperlihatkan dirinya sebagai musisi yang tidak malas berpikir, mau sedikit repot dan terus menggali apa yang masih bisa digali untuk memperkaya dan membuat berbeda musik yang mereka usung. Berbeda memang tidak selalu lebih baik, tapi ketika semua telah menjadi seragam, berbeda saja kadang sudah lebih dari cukup. Dan, yang lebih menyenangkan, semua itu dibungkus dengan rasa percaya diri yang luar biasa, tanpa terjatuh ke dalam sikap tinggi hati yang dangkal karena mereka mengimbanginya dengan selera humor yang baik.
Pada bagian lain, saya suka sinisme mereka ketika marah dan muak terhadap suatu hal, seperti terekam dalam lagu “Gusti Dewata Mulia Raya”. Lagu ini adalah puncak kegerahan mereka atas merajalelanya sikap individu atau kelompok yang selalu ingin menjadi satpam moral bagi individu atau kelompok lain, dengan menempelkan label-label baik dan buruk, salah dan benar, bahkan sampai mendefinisikan soal menang dan kalah. Atau, ketika mereka menyindir para hit maker dalam lagu “Wrong Way”:
Satu bulan beredar ratusan ribu kopi Salut kuangkat topi…
Tapi, kemudian (mungkin sambil mengacungkan jari tengah) mereka berteriak: “Hit maker shit!”
Sejak lagu pembuka, yang menjadi judul album ini, aroma Red Hot Chilli Pepper sudah terasa, layaknya ketika kita mendengarkan lagu-lagu dari band-band indie yang selalu membuat kita berpikir, ini Radiohead banget, itu Bjork sekali –siapa sih hari gini yang bisa lari dari pengaruh band-band asing dalam bermusik? Dan, khusus untuk vokal, Bondan dkk agaknya terpengaruh oleh cengkok khas (yang kadang membosankan) Arman Maulana. Mengoplosnya dengan Bahasa Inggris di sana-sini, Bondan menepis anggapan bahwa Bahasa Indonesia tidak asik untuk nge-rap. Sebaliknya, pada mereka, bahasa Indonesia menjadi begitu berirama dan bisa dinikmati semata sebagai bunyi-bunyian. Pada lagu “Kau Puisi” misalnya, mereka merayu cewek dengan kata-kata:
...menuntunmu agar tetap dalam track Kau catatan terindah di dalam teks
Pada lagu "R.I.P" mereka bahkan membukanya dengan lirik yang setara dengan puisi:
Apa kata yang tepat untuk protes terhadap waktu Rhyme style apa yang tepat untuk demo sedih diriku
Lalu, pada satu bagian –masih pada lagu yang sama-- mereka mengenang:
Masih tergambar alunan takdir Kita lewati malam dengan sebotol bir
Mungkin karena faktor usia (hehehe) saya sangat menyukai lagu ini, sebuah ode kehilangan yang kelam, menyayat, membuat kita nangis darah, dengan kemampuan “mengebor sukma menyedot rasa” yang hanya bisa ditandingi oleh “Selamat Jalan”-nya Tipe-X.
Ada 13 lagu dalam album ini, dengan porsi yang seimbang antara lagu-lagu bertempo pelan dengan yang garang dan menghentak. Sebuah album yang memuaskan bukanlah album yang semua lagunya bagus, sehingga ketika diminta untuk menunjuk satu atau dua karya yang benar-benar bagus, kau justru merasa kesulitan dan bahkan kemudian berpikir, semua ternyata sama dan rata-rata. Album ini sebaliknya, ada tipe lagu yang bakal dibenci para feminis (“Kau ada untuk melengkapi diriku” –plis deh!), ada nasihat yang garing dan pucat (“Express your self, much love and respect”), ada lagu yang “Eminem banget”, namun kalau diminta merekomendasikan mana lagu yang bagus, kau dengan cepat bisa menyebutkannya, mungkin lebih dari lima. 
| Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Hampir semua review yang saya baca di blog sejak film ini diputar di bioskop bernada negatif. Intinya, review-review itu mengungkapkan kekecewaan, bahkan ada yang cukup ekstrim mengatakan, "film ini ceritanya tentang apa sih sebenarnya?" Dan, yang sudah bisa ditebak, semua membandingkan dengan novel rujukannya, dan itulah sumber terbesar kekecewaan mereka yang sudah menonton dan menuliskan reviewnya. Ketika akhirnya saya berkesempatan menonton, saya tidak merasa bahwa film ini "semengecewakan" itu, tapi ini tetap mengecewakan untuk sebuah film. Maksud saya, tanpa harus (dan sebaiknya tidak usah) membandingkan dengan novelnya, film ini memang sudah mengecewakan sebagai sebuah karya yang berdiri sendiri.
Karena memang tidak membaca novelnya, saya lumayan terkejut mendapati bahwa "Ayat-ayat Cinta" ternyata ceritanya seperti ini. Tak beda dengan kisah cinta yang paling umum, sangat klasik bahkan mungkin klise. Hanya, bedanya ini dibungkus dengan aroma dan cita-rasa Islam. Sedangkan, dari segi fantasinya, ini tak ubahnya "Heart" atau film-film penguras airmata lainnya. Fahri, mahasiswa Al Azhar Kairo yang alim dan tampan, digilai-gilai oleh 4 cewek sekaligus. Salah satu dari cewek itu, Aisha-lah yang beruntung mendapatkannya, dan itu membuat 3 cewek lainnya patah hati habis-habisan. Nurul tanpa malu meminta orangtuanya "mengemis-ngemis" kepada Fahri. Noura bahkan sampai membuat konspirasi memfitnah si alim yang dicintainya itu. Sedangkan Maria, yang beragama Kristen, sampai depresi berat dan jatuh sakit. Pada saat yang sama, Maria ditabrak oleh oknum di balik konspirasi Noura tadi, karena dia adalah saksi kunci kelak ketika Fahri diadili dengan tuduhan memperkosa Noura.
Benar-benar sulit (untuk mengatakan tak ada alasan sama sekali) bagi saya untuk bisa menikmati alur cerita seperti itu. Semua terasa disederhanakan, digampangkan, karena pada akhirnya yang dikejar adalah efek sedihnya dan fantasi romantismenya sebagai sebuah "kisah cinta yang Islami" di mana manusia-manusia yang terlibat di dalamnya begitu berhati mulia, suci dan tak menginjak bumi. Hati saya pasti sudah sedemikian keringnya sehingga tak bisa menerima kisah cinta ala Nabi Yusuf-Siti Zulaikha seperti ini. Tapi, saya juga sangat terganggu dengan melimpah-ruahnya publikasi dan pembicaraan mengenai film ini yang sudah demikian berlebihan, sehingga ada pihak-pihak yang sampai mencap film ini menyesatkan dan sebagainya. Ini hanya film dengan cerita yang buruk, itu saja, dan mengabaikan banyak sekali kaidah-kaidah logika film-sebagai-seni-membohongi-penonton-dengan-meyakinkan.
Semua orang dalam film ini berbicara Bahasa Indonesia, termasuk Aisha yang orang Jerman, orang-orang Arab di bis dan pasar, serta narapidana yang satu sel dengan Fahri. Sungai Nil berkali dibicarakan tapi tak sekali pun gambarnya diperlihatkan. Dunia Fahri dan orang-orang di sekitarnya hanyalah ruangan apartemen dan masjid, tidak punya lingkungan yang diperlihatkan secara meyakinkan bahwa mereka berada di Kairo. Kita seperti menonton sebuah pertunjukkan drama di atas panggung yang di-set sedekimian rupa sebagai Kairo. Pendek kata, film ini steril dan tak punya konteks ruang, termasuk teman-teman Fahri sesama mahasiswa dari Indonesia yang tak banyak berperan. Inilah film yang malas, tak mau repot dan berprinsip, buat apa ribet-ribet kalau semua bisa dicari mudahnya. Noura yang awalnya korban trafficking, dikeluarkan dari problem itu dengan begitu mudah, dan tiba-tiba penonton sudah mendapati gadis itu bertemu lagi dengan orangtuanya. Fahri yang konon punya prinsip kuat dalam perjodohan, dengan mudahnya menerima Aisha lewat proses taaruf yang singkat.
Film ini benar-benar tenggelam oleh gegap-gempita histeria di luar sana, sehingga kebanyakan orang menontonnya bukan karena berminat tapi semata penasaran. Inilah keberhasilan marketing modern atas sebuah produk budaya, di mana teks itu sendiri tidaklah penting, hanya sampingan, dan produk utamanya ya promosinya itu, bagaimana membuat segalanya ter-blow up dan terus dibicarakan dari mulut-ke mulut (termasuk secara online), dimulai dari hembusan cerita tentang suka-duka proses syutingnya, pernyataan Hanung tentang janji pada ibunya untuk membuat film relijius, berita tentang back up dari Muhammadiyah, molornya jadwal tayang, hingga pembajakannya di internet. Dan, semua pihak di balik film ini juga harus berterima kasih kepada suara-suara "miring" dari kalangan Islam tertentu (Eramuslim.com menulis "Film Ayat-ayat Cinta Lebih Berbahaya dari Film Maksiat?") dan sikap antipati dari penggemar fanatik novelnya, karena mereka ikut menambah efek viral terhadap publikasi film ini, meningkatkan nilai jualnya, dan membuat orang semakin penasaran.
Menonton film ini dengan harapan tertentu (apalagi harapan yang besar) hanya akan membuat frustrasi, oleh karenanya tontonlah film ini sebagai fenomena industri hiburan. Atau, cobalah ikuti bagaimana cara Asma Nadia (ikon terkemuka dari dunia fiksi Islam) memperlakukan film ini, yakni dengan berpikir bahwa ini bagian dari kebanggaan di mana sebuah fiksi berlabel Islam bisa menjadi produk yang laris. Film ini merupakan puncak dari tarik-menarik yang sengit selama ini antara Islam dan musuh tersayangnya, budaya pop. And the winner is...siapa lagi kalau bukan produser film ini yang dengan kekuatan modalnya bisa menyinetronkan apa saja, termasuk "film dakwah", sambil merangkul perwakilan-perwakilan "Islam", dari Saskia Mecca, Ustad Jefry sampai Emha Ainun Nadjib, dan bahkan membuat ketua ormas Islam besar Din Syamsudin menyediakan diri secara suka rela menjadi "bintang iklan"-nya.
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Dengan segala kekurangannya, saya cukup suka dengan film ini. Bukan karena perasaan ajaib dan haru bahwa di tengah judul-judul film yang makin absurd (“Antara Aku Kau dan Mak Erot”? Oke, itu belum seberapa. “40 Hari Bangkitnya Pocong”? “Tali Pocong Perawan”? Astagaaa) masih ada filmmaker (tak peduli dari generasi mana) yang mau bersusah-payah, menempuh jalan sunyi, memikul risiko untuk tidak populer, dengan mengangkat cerita seperti ini. Melainkan, karena saya memang merasa menyukainya begitu selesai menontonnya.
Dua orang narapidana melarikan diri dari penjara Blora, dan dalam pelariannya mereka memutuskan untuk bersembunyi di Desa Samin. Pada saat yang sama, seorang perempuan asal Amerika (yang telah lama tinggal di Semarang) baru saja datang ke desa itu meneliti ajaran Saminisme yang masih dianut oleh penduduk setempat. Ditambah dengan keberadaan seorang guru muda idealis dari kota yang memperjuangkan anak-anak Samin bisa bersekolah, dua narapidana dan peneliti bule yang cantik itu mengusik masyarakat desa yang sebelumnya hidup tenang dengan cara mereka.
Film dibuka dengan sebuah gambar-ala kartu pos seorang perempuan mengayuh sepeda di jalan yang membelah lereng gunung. Bertemu dengan serombongan laki-laki di keramaian, perempuan tadi langsung meninggalkan sepedanya begitu saja, dan beralih ke boncengan motor salah satu lelaki itu. Adegan ini cukup menjadi penjelasan awal tentang satu sisi masyarakat Samin yang serba “bebas”, termasuk dalam soal pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Selanjutnya, penjelasan lebih jauh tentang masyarakat tersebut membombardir penonton lewat adegan di dalam kelas sebuah sekolah sadar, ketika pak guru muda idealis tadi mengajar sejarah.
Lalu alur berjalan datar, nyaris tanpa konflik yang berarti, lebih banyak penjelasan-penjelasan verbal yang panjang lebar ketimbang gambar-gambar yang dengan kuat “berbicara sendiri”. Pada titik tertentu, verbalitas film ini terasa sampai membosankan, misalnya adegan ketika guru muda idealis itu berdialog dengan sesepuh desa yang dipanggil Simbah, dan lebih-lebih pada adegan ketika guru itu berdebat dengan Pak Lurah yang tidak setuju dengan program menyekolahkan anak-anak Samin. Sampai di sini, penonton bisa menduga bahwa muara dari konflik film ini adalah tarik-menarik antara kepentingan pemerintah (yang ingin mempertahankan “keaslian” masyarakat Samin) dengan pak guru muda idealis (yang berpretensi ingin memajukan masyarakat).
Tapi, ternyata tidak. Film ini melangkah lebih jauh lagi, nyaris tak terduga, dengan melarikannya ke dalam konteks “global”, yakni politik anti terorisme yang tengah gencar didengungkan oleh pemerintah pusat. Perjuangan pak guru muda idealis yang pantang menyerah, ditambah kehadiran peneliti dari Amerika dan dua narapidana pelarian menjadi pintu masuk bagi aparat kapubaten untuk melancarkan operasi keamanan dengan alasan, Desa Samin dicurigai berpotensi menjadi tempat persembunyian aliran sesat pelaku aksi terorisme. Agak maksa? Atau, bahkan terlalu maksa?
Bagi saya, sebenarnya ide mengaitkan ketertutupan masyarakat Samin dengan kemungkinan dijadikannya desa itu sebagai sarang teroris cukup menarik. Sayangnya, indikasi-indikasi yang dimunculkan kurang kuat. Guru muda idealis itu tetaplah hanya seorang guru yang memang masih muda dan idealis. Peneliti asing itu memang dari Amerika, tapi apakah itu serta-merta bisa dicomot sebagai simbol terorisme? Dan, dua narapida itu, setelah “meresahkan warga” dan dengan demikian “mengganggu keamanan”, pada akhirnya hanyalah pintu masuk untuk menguatkan karakter Simbah (diperankan dengan bagus dan selalu mencuri perhatian oleh Rendra) yang eksentrik, aneh, tidak patuh (antara lain karena dia justru “melindungi” dua narapidana yang buron itu).
Film ini barangkali akan jauh lebih kuat seandainya berani memilih fokus, tidak berambisi “bicara besar”, dan “hanya” mengulik-ngulik kehidupan masyarakat Samin itu sendiri di saat ada guru muda yang berjuang menyadarkan pentingnya sekolah bagi anak-anak, ketika ada bule datang untuk meneliti, dan ketika ada dua penjahat bersembunyi di desa. Memperdalam hubungan-hubungan mereka mungkin akan menghasilkan sebuah cerita yang lebih solid dan menggugah, ketimbang hanya “memperalat” mereka sebagai cara untuk memasukkan isu terorisme, sehingga akhirnya meninggalkan banyak lobang dari kisah-kisah kecil yang tak selesai. Kisah cinta antara guru muda idealis dengan sesama rekan guru yang juga anak pak camat, terasa hanya tempelan, atau setidaknya tidak tergarap dengan baik.
Demikian juga, hubungan antara seorang guru muda yang cantik dengan pak camat itu, dibiarkan misterius, tapi toh tidak berfungsi apa-apa bagi keseluruhan cerita. Puncaknya adalah, bagaimana “operasi keamanan” itu kemudian benar-benar dilaksanakan (kendaraan berat tentara menderu-nderu masuk ke desa, melindas motor seorang polisi lokal, lalu satu per satu mereka berlompatan, berbaris, mengokang senjata di dataran yang tandus) terasa begitu berlebihan. Dramatis sih, memang, apalagi diselang-seling dengan adegan bagaimana Simbah dengan tetap karismatik dan ketenangan yang luar biasa mengatasi kepanikan warga. Dramatis, itu kata yang tepat. Tapi, itu hanya terjadi pada bagian sangat akhir dari film ini, setelah sebelumnya nyaris tak terjadi apa-apa, selain penjelasan demi penjelasan, yang panjang lebar, dialog-dialog yang diplomatis, sering terlalu cerdas untuk tokohnya (jadi, yang cerdas sebenarnya penulis skripnya, yang juga sutradara, Akhlis Suryapati) dan kaku, tentang sejarah dan cara hidup masyarakat Samin, di lereng gunung Kabupaten Blora. 
 Pada masa-masa awal pertumbuhan televisi swasta di Indonesia, banyak pengamat, budayawan, sosiolog, feminis –atau, pendek kata pakar-- bicara tentang eksploitasi tubuh perempuan dalam media massa. Khususnya, mereka menyoroti representasi perempuan dalam tayangan iklan, yang intinya dikritik sebagai “melecehkan perempuan, memuaskan hasrat pandangan laki-laki”. Uniknya, kritik tersebut tidak hanya dilontarkan oleh para pakar perempuan, melainkan pakar-pakar laki-laki pun tiba-tiba menjadi begitu bijak menyerang kaumnya sendiri. Saya sendiri, kala itu, berdiri dalam barisan tersebut, meskipun jelas bukan sebagai pakar melainkan mahasiswa culun yang sedang puber dan gandrung setengah mati terhadap feminisme. Begitulah, berbicara membela kaum perempuan, kala itu begitu “intelek” dan “seksi”. (Mungkin sekarang pun masih).
Sekarang setelah saya pikir-pikir lagi, dalam khasanah budaya pop (televisi, iklan, majalah) posisi perempuan dan laki-laki sebenarnya tak jauh berbeda. Di tangan media massa –arena tempat lahirnya budaya pop— baik tubuh perempuan maupun laki-laki sebenarnya diperlakukan sama, yakni sebagai komoditas. Tapi, mengapa kala itu, bahkan mungkin gemanya masih terdengar sampai sekarang, tidak pernah ada yang berbicara tentang (eksploitasi) tubuh laki-laki dalam iklan, misalnya? Saya punya banyak dugaan, namun ada dua yang terpenting. Pertama, meskipun tubuh baik milik laki-laki maupun perempuan sama-sama dianggap komoditas oleh media, namun harus diakui, frekuensi kemunculannya memang berbeda, dalam hal ini perempuan lebih banyak dan lebih sering dimanfaatkan.
Kedua, keberhasilan yang luar biasa dari gerakan feminisme telah mempengaruhi (baca: mengubah) pola pikir dan cara pandang banyak orang (termasuk laki-laki) dalam berbagai lini (akademisi, praktisi, mahasiswa) sehingga “semua orang” tiba-tiba seolah-olah mengenakan kaca mata perempuan dalam melihat berbagai hal. Dampak paling fatal dari fenomena tersebut ada dua. Pertama, semua perempuan tiba-tiba dituntut harus berpikir secara politis –bahwa semua ini tentang dominasi laki-laki atas perempuan, dan itu bersifat menindas, menguasai dan semacamnya. Kedua, tersingkirnya perspektif lain di luar feminisme, misalnya perspektif queer (gay dan lesbian). Meskipun yang terakhir ini bisa diperdebatkan: secara teoritis kelompok-kelompok minoritas seksual tersebut berada dalam payung feminisme juga. Namun, kenyataannya, feminisme sendiri terlalu sibuk dengan isu-isu keperempuanan (saja), dan gagal mengakomodasi gay dan lesbian.
Ketika pasar media massa (cetak) di Indonesia mendapat serbuan dari majalah-majalah “gaya hidup” luar negeri yang hadir di sini secara franchise, dua hal yang tersingkir oleh histeria feminisme tadi –yakni perspektif perempuan non-politis dan perspektif queer—seolah menemukan ladangnya. Hadirnya Majalah Cosmopolitan Indonesia misalnya, seolah mengumumkan lahirnya generasi baru perempuan yang mewarisi pencerahan feminisme dari generasi ibu mereka, namun “maaf, kami tak ingin terlalu intelektual, tapi jelas tak mau kalah dari laki-laki, dan hei sebenarnya kami hanya ingin bersenang-senang dengan tubuh kami.” Maka, Fun Fearless Female menjadi mantra sucinya, dan “29 Tips Seks Panas”, “10 Jurus Jitu Menjerat Pria Idaman” dan “6 Strategi Makeover Karier” adalah menu bulannya, plus, 4 halaman Man Manual yang tiap lembarnya menyajikan pria telanjang dada yang siap dipelototi setiap lekuk tubuh atletisnya dan dibawa mimpi wajah macho-innocent-nya.
Dan, tidak ada yang dieksploitasi.
Politik tubuh fantastis laki-laki semacam itu kemudian bahkan menjadi semacam strategi sukses bisnis franchise majalah gaya hidup karena kenyataannya, ini semacam sekali merengkuh dayung: tubuh-tubuh terbuka pria itu tidak hanya membuat perempuan-perempuan urban megapolitan ketagihan, namun juga mampu membuat lelaki-lelaki gay jejeritan. Cosmopolitan pun menjadi majalah yang “dilanggani wanita, diintip pria (gay)”. Demikian pula majalah-majalah franchise yang hadir dalam setahun belakangan, yang umumnya mengisi kekosongan pasar majalah khusus pria.
Datanglah ke agen atau toko buku, dan ambil satu dari produk jenis itu, secara acak. Kemungkinan kau akan mendapatkan satu dari majalah-majalah ini: 1. DaMan 2. Men’s Folio 3. Esquire 4. Muscle
Yang jelas, apapun yang kau raih, tak sulit bagimu untuk menemukan artikel tentang tren celana dalam yang membuatmu bisa memelototi model-model pria setengah telanjang, baik dari dalam maupun luar negeri. Edisis terbaru (Februari) Esquire Indonesia bahkan memuat artikel tentang celana dalam pria yang model dan jenisnya tak kalah banyak –dan sudah barang tentu juga tak kalah eksotik— dibandingkan celana dalam wanita.
Begitulah, ketika sudut pandang dunia telah bergeser, di mana perempuan-perempuan non-politis dan kaum gay semakin mendapat tempat dan diperhitungkan secara cermat sebagai konsumen potensial bisnis majalah gaya hidup, maka boxer, G-string, dan tong menjadi komoditas yang penting. Sama pentingnya dengan menampilkan artis film dan sinetron Dimas Seto dalam penampilan topless yang memamerkan dengan jelas bulu-bulu halus di perutnya –dalam edisi terbaru Muscle Indonesia (majalah apalagi ini?).
Dan, sekali lagi, eksploitasi sudah tidak menjadi tema cerita lagi. Sebab, seperti diteriakkan Cindy Lauper berpuluh tahun silam, girls just wanna have fun –dan termasuk di dalamnya adalah pria-pria gay yang memang suka mengindentikkan diri bagian dari girls itu. Hehehe. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Documentary |
Sebagian orang mungkin sudah mengenal nama Andi Bachtiar Yusuf, terutama sebagai seorang komentator pertandingan sepak bola di televisi. Namun, tak lama lagi, akan lebih banyak orang mengenalnya, dan kali ini sebagai filmmaker yang menjanjikan. Uniknya, Yusuf –kita panggil saja begitu- memasuki industri perfilman Indonesia dengan cara yang tak lazim. Namun, jika yang disebut lazim dalam konteks ini adalah memulai karier sebagai sutradara film horor, saya yakin dia jauh lebih menikmati ketaklazimannya itu, yakni mengawali prosesnya lewat film dokumenter, dan lebih spesifik lagi, dokumenter tentang (atau setidaknya berkaitan dengan) dunia persepakbolaan.
Sebuah pilihan yang cukup ganjil, dan barangkali sunyi: siapa sih yang mau pergi ke bioskop untuk nonton film dokumenter? Tentang sepak bola pula! Sudah pasti, Yusuf tidak akan mendapat histeria dari abege-abege metropolis yang berprinsip “nonton film = untuk ngilangin bete”, sehingga pilihan utama hampir selalu jatuh pada film-film yang bisa membuat mereka menjerit-njerit ritmis. Tapi, Yusuf tidak gentar. Dan, hasilnya pun tidak buruk. Dokumenter panjang pertamanya, The Jak konon ditonton lebih banyak orang ketimbang Kala.
Dan, dokumenter panjang keduanya ini, The Conductors, setelah sempat premiere di Jiffest 2007 lalu (dan akan diputar di Blitz mulai 22 Februari), dipastikan akan ditonton lebih banyak orang lagi. Lebih-lebih kali ini, kendati masih mengangkat tema besar sepak bola, Yusuf mencoba menariknya keluar, ke dalam konteks yang lebih luas. Lewat tagline yang cerdik, ia mengaitkannya dengan isu yang gawat dalam ranah politik, yakni kepemimpinan. Berat sekali kedengarannya. Tapi, faktanya, Yusuf “hanya” bercerita tentang tiga orang, dari tiga dunia yang berbeda dan silakan penonton menarik sendiri benang merahnya, kalau memang ada.
Kalau Anda kebetulan sudah mencicipi thriller-nya di MySpace, Anda tahu film ini menokohkan konduktor Twilite Orchestra Addie MS, dirigen paduan suara mahasiswa UI AG Sudibyo dan dirigen suporter Arema Malang Yuli Soemphil. Hanya itu, dan memang sesimpel itu. Namun, segalanya akan berbeda ketika Anda menonton filmnya. Waktu menonton premiere-nya di Jiffest itu, terlepas dari kekurangan teknis yang kini sudah diperbaiki, saya menyaksikan sesuatu yang lebih dari yang bisa saya harapkan sebelum memasuki gedung bioskop. Kejutan kecilnya muncul dari gambar-gambar yang jujur, apa adanya dan yang jelas tidak bakal kita dapatkan dari ekspos media massa.
Sedangkan, kejutan besarnya adalah kontradiksi-kontradiksi yang lahir dari tiga tokoh yang ditampilkannya, yang pada dasarnya menggeluti dunia yang sama: pengendalian massa. Dan, film ini menelusuri perbedaan-perbedaannya, dari cara mereka bekerja, dampaknya, idealisme-idealisme mereka, hingga faktor yang tak kasat mata, seperti tentang bagaimana “panggilan jiwa” membawa mereka hingga berada di dunianya masing-masing saat ini. Kadang-kadang kontradiksi itu tampil telanjang dan verbal dari bagaimana mereka memandang profesinya masing-masing. Namun, yang mengharukan tentu jika kontradiksi itu muncul dari gambar-gambar yang “dibiarkan berbicara sendiri”.
Misalnya, ada adegan yang merekam Addie MS menyeret kopernya di bandara, lalu cut to Juli Soemphil yang sedang menyeret galon aqua –“bisnis”-nya di luar urusan bola. Lalu, dari Addie MS yang elitis dan memimpikan sebuah concert hall yang representatif di Jakarta, ke Pak Dibyo yang bersahaja dan tulus mengabdi di jalan yang tak populer, ke Juli Soemphil yang berbekal bakat alam memiliki kemampuan mengendalikan massa setara (bahkan mungkin lebih dibandingkan) dengan pemimpin partai atau superstar rock, apa yang ingin disampaikan film ini sebenarnya?
Tagline film ini menyimpulkannya, dan kalau Anda memang puas dengan itu, Anda bisa keluar gedung bioskop dengan mengangguk-anggukkan kepala, benar juga ya, tidak semua orang terlahir sebagai pemimpin. Tapi, setelah Anda pikir-pikir, pasti Anda akan terusik, apa pula pentingnya kebenaran itu? Yusuf sendiri barangkali tidak percaya dengan pesan di balik sebuah film. Bahkan, dalam berbagai kesempatan, dengan gaya khasnya yang selalu ingin melucu, dia selalu bilang, saya tidak sedang membuat film, tapi menyebarkan agama –dan kebetulan kali ini sarananya film.
Dan, agama yang sedang ia sebarkan itu tak lain sepak bola; dan dalam perbandingannya dengan dua gambar lainnya, segmen Yuli Soemphil dan suporter Arema-nya berhasil menegaskan itu, bahwa ada kekuatan yang tak terduga di balik sepak bola, dan itu sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk hal positif apa saja, termasuk misalnya mensosialisasikan pesan-pesan --dan membangkitkan semangat-- nasionalisme. 
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Japanese / Sushi | | Location: | Pepper Lunch - Plaza Senayan |
Sudah cukup lama nggak jalan-jalan ke Plaza Senayan. Sejak tempat-tempat nongkrong baru bermunculan di Jakarta, salah satu plaza favorit itu seperti terlupakan. Sampai Selasa pekan lalu, seorang teman ngajak ketemuan di sana. Wah, banyak yang sudah berubah. Antara lain, Wendys yang dulu ada di sisi kiri sebelum pintu masuk bioskop di lantai dua, kini sudah berganti dengan gerai baru, namanya Pepper Lunch. Ya udah, sekalian nyobain makan di situ setelah urusan selesai.
Kami berempat, dan tiga di antara kami orang Jawa, yang sukanya meledek dan menertawakan diri sendiri ketika menghadapi sesuatu yang baru. Menu makanan di gerai asal Jepang itu emang rada "aneh", setidaknya karena kami baru pertama kali. Maka keluarlah komentar-komentar khas Jawa yang lucu-lucu, yang intinya, ya itu tadi, menganggap diri terlalu udik untuk makanan itu.
Seperti nama tempatnya, menu makanan yang disediakan serba pepper: ada pepper rice dan ada pepper steak.
Untuk pepper rice-nya tersedia macam-macam pilihan: beef pepper rice, chicken pepper rice, salmon pepper rice. Yang unik adalah cara penyajiannya.
Nasi dicetak bundar di atasnya diberi pipilan jagung rebus, irisan daun bawang dan ditaburi pepper. Potongan-potongan chicken atau beef atau salmon, sesuai pesanan, yang sudah dibumbui tapi masih setengah matang ditaruh mengeliling nasi. Dan, semua itu disajikan di atas hot plate. Sebelum makan, kita aduk-aduk dulu sehingga bahan-bahan yang mentah tadi menjadi matang.
Kegiatan ini cukup menyenangkan karena kita seperti memasak secara praktis di atas meja. Di dinding dipasang beberapa layar TV yang menyajikan tayangan petunjuk "memasak" menu yang telah kita pesan. Disarankan pengadukan dilakukan berulang-ulang karena konon ada special butter tersembunyi di dalam nasi. Setelah tercampur semua, jadinya tampak seperti nasi goreng, dengan rasa yang beda. Lidah jawa saya yang rewel bisa menerimanya, dan menikmatinya. Enak.
Cukup memberi pengalaman baru terutama bagi penggemar fast food Jepang. Jika Hoka-hoka Bento sudah terasa membosankan, yang ini bisa dicoba. Pelayanannya sangat cepat, tapi sistem pemesanan khas fast food menyebabkan antrian di kasir. Lebih-lebih pengunjung yang baru pertama kali datang pasti bingung mau pesen apa. Setelah pesen, kita diberi nomer dan sesuai nomer itulah kita mesti duduk di bangku yang mana.
Menilik "materinya" kita merasa ini nggak fast food-fast food amat sehingga membuat hati sedikit terhibur merasa telah makan makanan yang sehat. Meskipun namanya Pepper Lunch tapi sepertinya tidak cocok untuk lunch karena makanan disajikan dalam keadaan panas (peringatan: benar-benar harus hati-hati dan sabar kalau tidak mau lidah melepuh, bener-bener panas), sehingga tidak bisa dimakan buru-buru. Bagi yang tidak suka pedas, sepertinya juga tidak cocok makan di sini.
Nuansa Jepang cukup kental, tidak hanya interior gerainya, tapi juga keramahan pramusajinya, yang ketika kita meninggalkan tempat itu, mereka akan bersautan mengucapkan, "Arigato gazaimasu!" Dan, kami tetaplah orang Jawa yang selalu ingin melucu dalam setiap kesempatan, sehingga menjawab, "Nggih, sami-sami!"
ps: harga antara Rp 29 ribu sekian (termurah) s.d Rp 71 ribu sekian (termahal); rata-rata Rp 40-60 ribuan. 
| |