Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Humas MD Picture Ciria Lukman menuliskan tanggapan dengan lembut di kolom komentar pada review film Ayat-ayat Cinta di blog saya. Dalam review tersebut, saya mengkritik tandas dan habis-habisan, dan mengikuti filmnya yang Islami Ciria dengan sabar dan iklas (hehehe) mengucapkan terimakasih dalam Bahasa Arab "untuk semua temen2 yang support dengan kritikannya." Ini berbeda dengan kejadian beberapa waktu sebelumnya, ketika saya me-review (baca: mengkritik) sebuah novel. Si penulis muncul di kolom komentar dan dengan nada kesal menanggapi review itu. Saya mencoba mencairkan suasana dengan meninggalkan sapaan ramah di guestbook blog dia. Di luar dugaan, ternyata ia tak sekedar kesal, tapi marah besar. Sapaan saya dihapus, begitu pula komen saya atas salah satu tulisan dia, juga di-delete. Dia tidak mau kenal dan berteman dengan saya.

Berkarya di era "consumer generated media" seperti saat ini memang repot. Setiap orang adalah "media", dan karena media adalah kekuasaan, maka setiap orang kini memiliki kuasa untuk menyampaikan pendapatnya mengenai apa saja, tanpa sensor. Anda bisa saja bilang, ah tulisan di blog nggak bisa dipertanggungjawabkan, penulisnya asal, nggak kompeten di bidangnya dan sebagainya dan sebagainya. Tapi, apakah itu cukup membantu? Semakin panjang Anda ngomel, semakin keras Anda berteriak, dan semakin Anda memandang rendah dan meremehkan blog, maka akibat yang akan Anda tanggung akan semakin fatal.

Beberapa waktu yang lalu, seorang filmmaker  "mengancam" saya karena film yang skenarionya dia tulis saya kritik tajam. Di luar dugaan saya, sampai berbulan-bulan kemudian, "kasus" itu terus bergema, menyebar ke mana-mana dan sejumlah blogger yang
sama sekali tidak saya kenal menuliskannya (kembali), dan mengundang komentar-komentar bersautan yang bernada negatif terhadap si filmmaker tadi. Efek ketok-tular online ternyata benar-benar jauh dari yang bisa kita bayangkan. Ada cerita lain lagi: sebuah perusahaan otomotif menghapus komentar "miring" yang masuk ke situs resmi perusahaan, yang dikirim oleh seorang konsumen yang kecewa. Apa yang terjadi? Si konsumen yang juga seorang blogger (hare gene siapa sih yang nggak punya blog!) itu menceritakan hal tersebut di blog-nya sehingga perilaku perusahaan tadi tersebar ke mana-mana.

Jadi, bagaimana para kreator dan produsen itu musti bersikap menghadapi ledakan "informasi" yang tidak selalu sesuai harapan?

Kalau Anda kebetulan termasuk bagian dari para kreator atau produsen, barangkali Anda akan berkacak pinggang dan berseru, "Apa lantas kita boleh membiarkan saja orang ngomong seenaknya tentang karya atau produk kita, yang telah kita rencanakan dengan susah payah?" Tentu saja tidak, kata Konsultan Merek dan Head of MM Strategic Marketing Binus Business School Amalia E Maulana. Di mata kreator dan produsen, tulisan, komentar, kritik di berbagai blog itu bisa jadi merupakan distorsi atau "noise". Menurut Amalia, kata kuncinya proaktif, bukan reaktif. Yang pertama dengan sangat benar telah dilakukan oleh humas produser Ayat-ayat Cinta, sedangkan yang kedua, dengan baik pula telah dicontohkan oleh novelis dan penulis skenario tadi.

Anda boleh mengikuti yang mana, terserah saja --yang jelas Anda sudah tahu akibatnya. 

34 CommentsChronological   Reverse   Threaded
fanabis wrote on Apr 1, '08
hari gini emang masih banyak orang "konvensional" yang tak paham media baru ( internet). dulu pernah aku maki-maki di websitenya dewa, dan ternyata tak di publish. siapakah penulis novel yang katro itu?

kasian sekali... belum bisa menerima kritikan.
rumputeki wrote on Apr 1, '08
ika natasha, novelnya e verry yuppy wedding.
fanabis wrote on Apr 1, '08
oh... mungkin dia belum ketemu si pangeran tampannya, jadi kau ikut kena imbasnya hehhehhe.. untuk ika natasha... santai aja.. kau beruntung sekali novelnya dah di beli, di baca lalu di kabarkan seluruh blogspere oleh sang kritikus .... * jangan katro lagi ya.... :)
sayayoshi wrote on Apr 1, '08
iya.. dunia berubah lebih cepat dari bayangan lucky luke.
rumputeki wrote on Apr 1, '08
hahahahah bener yoshi.
oralalikaroaku wrote on Apr 1, '08
Betul mu, memang seringkali kita gak senang dengan kritikan orang, tapi ya kita juga sudah berusaha sekuat energi untuk mencurahkan karya kita, tapi tetep juga dicacimaki alias kurang sreg dengan "taste" mu gimana dong apa kamu tetep mau cacimaki kita atau menghargai karya orang? Tapi kalo gue dicacimaki di blog gak bakal didelete, kenyataannya adalah temen yang jujur adalah yang ngomong apa adanya :)
rumputeki wrote on Apr 1, '08
oralali, yeeee kok jd ngomongin "taste" aku. nggak ada kaitannya kaleeee...aku bicara tentang bgmn para kreator dan produsen selama ini menghadapi media baru bernama blog hohohooo.

dan nggak ada yg sedang ngomongin soal cacimaki. kita lagi ngomongin kritik atau review. gitchuuuuu
disasterhead wrote on Apr 1, '08
dont hate the media be the media hehehhe
rumputeki wrote on Apr 1, '08
betul bgt, dhyt. that's exactly what i mean (kata pak wapres jarwo kwat) hehehe
disasterhead wrote on Apr 1, '08
that's exactly what i mean (kata pak wapres jarwo kwat) hehehe
itu bukannya that's right brother yah
belissita wrote on Apr 1, '08
iya nih,, gue, entah atas kepentingan apa, berusaha melatih diri untuk lebih terbuka lagi dengan kritikan. kadang kita keasikan protes orang2 yang ga bisa terima kritik tapi giliran dikritik selalu punya pembenaran..
heruwardhana wrote on Apr 1, '08
wilders un bertindak liar merilis Fitna,... siapa yang bisa mencegah,...??
dirtyhippy wrote on Apr 1, '08
Iya Mu, kasus kayak yang lo bahas itu semakin lama semakin sering terjadi. Masalahnya, terlepas dari kualitas karya yang dikritik, gue percaya setiap orang berhak mengemukakan pendapat. Kalo karya kita dikritik, ya jangan menyalahkan faktor blog. Faktanya orang yang menulis di blog juga seringkali penulis profesional yang sering mereview karya2 di media massa. Don't shoot the messenger. Jangan buruk rupa cermin dibelah.
iimfahima wrote on Apr 1, '08
Mu, tulisanmu meng-inspire aku bikin postingan khusus ttg hal ini di blog ku :D
andisturbia wrote on Apr 1, '08
Dikritik aja gak maju-maju apalagi gak dikritik.
rumputeki wrote on Apr 1, '08
@adhyt: dua-duanya itu milik pak jarwo kwat...haha rupanya kita sama2 fans beliau

@belissita: intinya ini hanya soal memerankan fungsi masing-masing kok

@heru: itulah, semakin dilarang justru semakin beredar...dan umat islam lagi2 keok menghadapi teknologi

@nugie: bener, gie setuju. kreator dan produsen suka mengutip blog yg memuji karya/produk mreka, tp giliran dikritik marah ngambek purik ngancem pulang kampung huehehehehehe

@iim: mana, kutunggu ya tulisannya

@andi: that's right brother!
arddhe wrote on Apr 2, '08
untungnya dosen pembimbing TA saya sekarang tukang kritik abis...senang saya...hehe
*oot deh...hehehe
rumputeki wrote on Apr 2, '08
bagus itu dhe, jd tau letak kekurangan dan kesalahan kita. klo kita bikin sesuatu gak ada yg ngeritik, waduh kok rasanya sepi, dicuekin dan gak dianggep hehehe
liesfortheliars wrote on Apr 2, '08
hahahaha...saya aja seneng baca tulisannya abang mumu ini......review ma tulisannya ok banget.....dan rasanya gak terlalu berlebihan....
tuhunugraha wrote on Apr 2, '08
Berarti seperti dugaan gw sebelumnya, PR MD Entertainment memang luarrr biasa ok. Karena aku baru baca tuh buku Word of Mouth Marketing, di era internet PR tidak lagi bisa menguasai media. Mereka tidak bisa memenangkannya, yang perlu dilakukan adalah berinteraksi dengan mereka, lalu memunculkan simpati hidden supporter. Dan sikap yang dingin juga kan membuat berita tidak semakin ter-blow up...
sukuperutbuncit wrote on Apr 2, '08
hmm,klo baca kata2 terakhir tulisan ini sih, kyaknya malah mengarahkan biar orang mengikuti yang seperti PR MD lakukan yah,hehe
rumputeki wrote on Apr 2, '08
ah aries saya kan jadi (gak) enak hehehe...tapi kadang2 saya juga suka rada berlebihan kok hehehe
rumputeki wrote on Apr 2, '08
wah bung tuhu ini selalu hadir dgn teori2nya yg oks bangs...jadi nambah pengetahuan nih...
rumputeki wrote on Apr 2, '08
sukuperutbuncit: ya sah2 aja klo paragraf terakhir itu diartikan begitu, silaken saja...
liesfortheliars wrote on Apr 3, '08
ah aries saya kan jadi (gak) enak hehehe...tapi kadang2 saya juga suka rada berlebihan kok hehehe
yang penting nulis kritiknya jujur kan......saya seneng aja ada kritikus film/novel/musik.....memang sih..semuanya kembali ke selara masing2...tapi...ada baiknya ngebaca apa yang ditulis kritikus yang jujur.....hehehe
rumputeki wrote on Apr 3, '08
yup jujur itulah kata kuncinya. thx, ris
pravdavero wrote on Apr 3, '08
emang mulut2 kita ini sekarang jauh lebih penting kali ya bo daripada poster, banner, dlsb? eh, maksudnya tulisan2 kita yang -well- kadang nggak mikir juga sih.
rumputeki wrote on Apr 3, '08
tentunya, vero, tentunyaaa....selamat datang di dunia web 2.0 hohoho
noalarmsnosurprises wrote on Apr 4, '08
Anda boleh mengikuti yang mana, terserah saja --yang jelas Anda sudah tahu akibatnya.
Mungkin kita jarang diajari merespon kritik atau bahkan kritik lebih dipandang sbg "cacat". Padahal kita bergerak maju cuma krn kritik dan kesalahan. lihata saja dialektika kemajuan science jg karena ada kritik.
rumputeki wrote on Apr 7, '08
betul bgt, noalarm...dunia sains bergairah krn ada tradisi kritik yg kuat dan mapan. di dunia seni, msh byk yg alergi dan phobia kritik.
ghedesafti wrote on Apr 8, '08
nice posting mu!
di situs menulis yang gue ikuti (kemudian.com) juga pernah ada isu-isu seputar kritik, caci maki dan mentalitas penulis. alhamdulillah sejak kejadian itu, cukup banyak member yang sadar pentingnya memiliki kekuatan mental untuk dikritik dan bahkan dicaci maki ketika memutuskan untuk menulis dan melemparkan karya ke pembaca. semoga makin banyak yang seperti itu. :D
rumputeki wrote on Apr 9, '08
thx, ghe..

ya bener, semoga makin byk yg sadar pentingnya kritik, dan percaya bahwa kritik itu bentuk perhatian yg sgt besar terhadap suatu karya dan kreatornya
Comment deleted at the request of the author.
orderbaju wrote on Apr 28, '08
ya iya lahh,, mana da orang yang mo di kritik ( jarang bgt tu ga) ... orang tu mau nya keliatan baik nya aja,, giliran buruk nya ,, capee dee gak mauu donk
termasuk aku sii dikit.. hahaha..

tapi, pola pikir seperti ini harus di robah oleh pembisnis jika,, jika anda mau survive dalam bisnis
Add a Comment