"Aku kok pinter banget ya!" celetuk Nukman Luthfie usai menjawab pertanyaan salah seorang peserta seminar "Sharpening Your Online Public Relations Strategy" di Ritz-Carlton, Pasific Place, Jakarta, Kamis (19/3/2009). Dia baru saja mengatakan bahwa setelah komunikasi berpindah dari laptop ke HP dan Blackberry, maka iklan otomatis mati. Saat itulah, orang pi-ar tampil ke depan, memainkan perannnya yang krusial tidak hanya dalam membangun citra perusahaan namun juga sale dan brand awareness.
"Makanya, abis seminar ini, kalian menghadap bos minta naik gaji!"
Begitulah Nukman Luthfie, pakar online strategy nomer satu di Indonesia, CEO Virtual Consulting, membawakan seminarnya; santai, narsis, ngocol, namun tetap berbobot dan penuh ilmu.
Menurut dia, belum pernah profesi dan fungsi pi-ar begitu menarik dan menantang seperti saat ini, ketika karakter dan makna media telah berubah. Digambarkan, dulu kesibukan dan tugas terpenting seorang pi-ar setiap pagi adalah mengecek halaman surat pembaca Harian Kompas. Tapi, sekarang, seorang pi-ar juga dituntut untuk "mengawasi" komentar-komentar yang ada di blog seseorang.
Bayangkanlah, Anda adalah pi-ar Impian Jaya Ancol dan media massa tiba-tiba heboh memberitakan isu adanya monster air di Pantai Ancol gara-gara sebuah video yang di-posting di YouTube. Siapa yang menyangka bahwa video "iseng-iseng" ditindaklanjuti oleh portal berita detikcom, diberitakan secara maraton, sampai dimintakan komentar Wapres Jusuf Kalla dan kemudian semua koran serta televisi juga beramai-ramai melaporkannya? Bayangkan pula, Anda adalah pi-ar Pocari Sweat yang dipelesetkan orang menjadi Ponari Sweat --merujuk pada heboh dukun cilik Jombang yang bisa mengobati orang dengan air yang dicelupi batu petir?
Kasus isu monster air Pantai Ancol dan Ponari Sweat dicermati Nukman sebagai contoh mutakhir tentang bagaimana media online menjadi sumber informasi baru yang mampu menciptakan efek heboh berlipat ganda dibandingkan dengan media "offline". Lihat bagaimana media online (blog, forum, situs jaringan sosial) "mengembangkan" berita Ponari menjadi merk minuman kemasan plesetan pada kasus Ponari Sweat, dan bagaimana sebaliknya, video monster air Ancol di YouTube "menggerakkan" koran dan TV untuk membuat investigasi lebih lanjut.
Dalam analisis Nukman, kasus monster air Ancol merupakan contoh yang sangat bagus tentang bagaimana orang pi-ar mesti bertindak pada era Web 2.0 sekarang ini, ketika apa yang disebut berita bisa datang dari mana saja, dipicu oleh apa saja. Kala itu, pihak Ancol langsung meresponnya dengan serius, mengambil sampel air pantai dan menelitinya di LIPI.
Postingan video di YouTube, atau tulisan dan foto di blog yang isinya plesetan dari produk Anda tentu hanyalah salah satu dari konten-konten tak terkontrol yang kini harus dihadapi orang pi-ar hari ini. Kalau Anda orang pi-ar, yang merupakan benteng brand image perusahaan, maka pertanyaan sederhananya begini: di antara riuh lalu lintas konversasi di ribuan account Friendster, blog, forum, hingga yang hot saat ini, Facebook adakah produk Anda di situ? Kalau ada, apakah dibicarakan secara positif atau negatif? Kalau negatif, apa yang mesti Anda lakukan?
"Ambil contoh Facebook. Baru-baru ini Facebook mengubah tampilannya sedemikian rupa sehingga user dipaksa untuk tahu apa pun yang dilakukan temannya. Fasilitas untuk saling berkomentar menjadi dominan. Orang pi-ar harus mencermati, bagaimana update status dan komentar-komentar itu bicara tentang produk Anda," ujar Nukman. "Jadi, jangan bangga dengan media monitoring yang positif. Lihat user conversation di online. Anda harus masuk ke sana," tambah dia.
Nukman jelas tidak berlebihan. Saya menyaksikan sendiri bagaimana status di Facebook bisa bicara apa saja, tidak hanya hal-hal yang kita lakukan atau pikirkan, melainkan juga bukan tidak mungkin dimanfaatkan untuk menyuarakan keluhan mengenai suatu produk atau layanan. Misalnya, seorang teman yang kesal karena Bioskop 21 dan Blitz tidak memutar film yang dia nanti-nantikan, tak segan memaki kedua jaringan sinema tersebut lewat status di Facebook-nya. Dan, kalau sudah begitu, ceritanya bisa jadi panjang. Komentar-komentar akan bermunculan, susul-menyusul, tak terbendung.
Kalau Anda hadir di seminar tempo hari itu, maka sebagai orang pi-ar Anda akan tahu, bagaimana strateginya untuk masuk dan melibatkan diri dalam konversasi di situs-situs jaringan sosial terutama untuk meng-counter suara-suara miring dan negatif mengenai produk Anda. Secara umum, Nukman merekomendasikan langkah-langkah berikut:
1. Optimalkan website resmi perusahaan (informatif, user friendly, google friendly, up to date, prompt response) 2. Listen to your customer (Set up Google Alert, monitor Facebook dan situs-situs jaringan sosial lainnya: Youtube, Multiply, Flikr) 3. Talk to your customer (bikin account, fans page dan group di situs jaringan sosial) 4. Share to your customer (langganan RSS) 5. Joint social network (bikin blog, pasang foto-foto aktivitas perusahaan di Flikr, pasang profil bisnis di LinkedIn). 6. Monitor your search engine result page. Untuk yang terakhir itu, Nukman menekankan betapa pentingnya. "Search produk Anda. Hasil search adalah wajah (perusahaan) kita. Siapa yang menulis tentang wajah kita? Mestinya ya situs corporate kita sendiri. Tapi, bisa juga blog orang lain atau omongan-omongan di social media. Nah, kalau yang muncul di halaman pertama hasil pencarian kita itu justru omongan-omongan yang negatif mengenai produk kita, atau bahkan yang muncul malah produk pesaing kita, maka saat itu juga Anda harus bertobat dan memperbanyak amal," ujar dia.
 | Hidup PONARI (SWEAT)...:)..
Google yang sebagai perpustakaan terbesar didunia, seakan sudah berfungsi seperti malaikat pencatat kebaikan dan keburukan amal perbuatan manusia. Sedangkan blog dll, adalah kaki tangan dari Google (bener gak sih..?)
Kalo amal kita baik, saat di search yang muncul sudah pasti yang baik-baik...kalo kelakukan jelek...ya bener kata Pak Nukman, "Anda harus bertobat dan memperbanyak amal"...:D |
 | satu lagi... mestinya Ponari bisa jadi bintang iklan PLN sesuai tajuk PLN : Electricity for Better Live |
 | gila ga salah gw kuliah di konsentrasi PR...kata2 dahsyat yang gw suka "PR adalah benteng brand image!" joss! |
 | celaka, harus sudah bikin pi-ar, besok mau dikumpulin :) |
 | Thanks for sharing...hiks...saat itu gak bisa ikutan euy... |
| |