Kitab Kebenaran dan Kebajikan | |
Hai, Mu apa kabar? Baik, sehat. Lu? Baik juga. Ama siapa lu? Sendiri. Ya ampun, sendiri? *** Ke sini juga rupanya. Iya nih Ama siapa Sendiri Hah? Niat banget. *** Mumu! Eh, elu…apa kabar? Baik, baik. Sendirian aja lu Iya Gilak! *** Pergi ke mana-mana seorang diri itu merepotkan. Dianggap aneh sama orang lain. Sendirian itu tidak lazim, melawan kodrat, sulit diterima, serta menimbulkan decak kekagetan dan keheranan bagi orang lain. Berjalan seorang diri di tengah keramaian mall, duduk sendirian di gerai fast food yang riuh, mengitari ruang-ruang sebuah pameran tanpa teman, nonton film di bioskop sendirian merupakan tabu dalam kehidupan urban megapolitan. Sendiri selalu identik dengan pecundang, dan oleh karenanya perlu ditatap dengan sinar mata kasihan. Sendiri itu salah. *** Tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku dari belakang dan menjajari langkahku. Kulihat sekilas, kumis tebalnya mudah kukenali sebagai seseorang bernama Nietzsche. Aku cuek saja, tapi dia langsung nyerocos. Manusia selalu membutuhkan seperangkat pandangan untuk menenangkan arus kehidupan yang memrawut dan tanpa makna ini agar hidup jadi lebih mudah ditanggung. Aalaaah basi! Kau pasti hanya akan bilang Tuhan sudah mati kan? Aku sudah bosan mendengarnya. Jangan salah, ini bukan hanya soal Tuhan. Banyak kebenaran yang lain, berhala yang lain, yang diidealkan oleh manusia, misalnya, ya, apa yang sedang kau pikirkan itu, mentalitas kawanan. Aku mulai tertarik. Sebuah dunia ideal telah dipalsukan…kita hidup dalam dunia dan realitas yang dibuat-buat…dusta tentang ideal menjadi kutukan atas realitas. Aku menoleh untuk menunjukkan rasa semakin tertarik dengan omongannya. Keyakinan akan yang ideal adalah sebuah kekeliruan, dan kekeliruan sama sekali bukan kebodohan atau kekhilafan, melainkan kepengecutan! Hmmm…gitu ya? Tapi, bukankah… Mentalitas kawanan adalah penyakit psikologis manusia modern, sebentuk rasa takut pada kehidupan…ini bisa menggerogoti dan menyedot kapasitas seseorang untuk hidup sepenuh-penuhnya. Tapi… Itu sama halnya dengan etos kerja yang selama ini didengung-dengungkan dan dipuja-puja… Lho, kok jadi melebar ke mana-mana? Berhala etos kerja membuat orang merasa malu untuk istirahat. Bersantai-santai sedikit saja sudah langsung menimbulkan kegelisaan, takut melupakan prinsip pokok metafisika kapitalis. Aduh, bicaramu sudah terlalu jauh deh, aku mulai pusing. Kupercepat langkahku untuk meninggalkannya. Namun, dari belakang kudengar ia setengah berteriak. Rasain, itulah akibat dari tatanan sosial yang bersikeras mengubah konsep-konsep yang semata bikinan manusia menjadi kebenaran abadi hahahaha Kututup telingaku dan kuambil langkah seribu.
 Serombongan pria-pria-pulang-kerja tampak terlihat sibuk memilih-milih di gerai Zara Plaza Indonesia petang itu. Tangan-tangan mereka meneteng kantong belanja berisi onggokan baju-baju. Namun mereka masih terus mencari dan sesekali mencomot begitu saja, baju atau celana, dari tumpukannya dan memasukkannya ke kantong. "Habis ini ke Senayan City ya," kata salah satu di antara mereka kepada teman-teman serombongannya. Di bangunan sebelah, Grand Indonesia, seorang cowok muda bertampang pucat dengan mata sipit berjalan terseok-seok. Satu tangannya menenteng tiga paper bag gemuk-gemuk, dua berlogo Guess dan satu lagi Gap. Tangan lainnya menempelkan telepon genggam ke telinga. Sambil tak henti bicara, ia ke satu gerai, berputar di antara tumpukan-tumpukan, lalu keluar lagi untuk berpindah ke gerai lainnya dan melakukan hal yang sama. Di gerai Pull and Bear, seorang perempuan muda dengan heboh menelepon temannya dan mengabari bahwa sedang ada sale besar-besaran. Bayangkanlah suasana yang sama di Centro Departemen Store Plaza Semanggi atau pun Sogo Plaza Senayan. Semuanya jauh lebih nyata, sekaligus lebih mengharukan, dari apa pun. Hedonisme? Konsumtif? Makan tuh kuliah Pengantar Sosiologi hahaha.
Ibu-ibu pengajian Masjid Darunni'mah Kampung Karang Tengah, Lebak Bulus bersorak girang. Teman saya, yang seorang wartawan senior, pun ikut merayakannya dengan memasang status di yahoo messenger: mampus lo! Sementara, para pengirim komentar di portal-portal berita seperti detikcom dan kompas.com seperti dikomando menyuarakan nada yang sama, alhamudillah, ikut bahagia. Pendek kata, kalau kau sudah cukup ibu-ibu, kau tak akan segan-segan mendoakan buruk untuknya. "Gw bukan pembela Halimah, Mu, secara gw nggak dikasih makan ma dia hehehe, tapi gw benci pencuri suami orang secara gw juga emak-emak, geregetan..." kata teman saya itu. Sungguh tidak sulit memahami kegeraman teman saya itu. Yang agak sulit adalah memahami, bahwa media massa ternyata juga mengambil sikap yang sama dengan individu-individu yang merasa terusik nurani keibuan, keistrian dan keperempuannnya itu. Kasus perpecahan keluarga Halimah-Bambang Tri, yang dalam hal ini melibatkan artis Mayang Sari telah berkembang menjadi drama yang berkembang sedemikian rupa di tangan media massa, dan menjadi medan bagi masyarakat untuk berkaca, melihat pantulan wajah sendiri: bagaimana semua persoalan dilihat sebagai masalah moral, dan bagaimana moralitas itu kemudian didefinisikan, dan bekerja di kepala mereka. Sejak awal, media memfokuskan pemberitaannya lebih pada sosok Mayang Sari, dan bukan pada Halimah. Lihat misalnya bagaimana sejak awal media mengarahkan pemberitaan mengenai gugatan sita harta bersama yang diajukan Halimah atas Bambang menjadi berita dengan penekanan pada kemungkinan akan terusirnya Mayang Sari. Sebuah koran lokal Jakarta bahkan waktu itu menurunkan headline, yang intinya mengabarkan pada masyarakat yang marah: tenang saja, Mayang Sari sebentar lagi akan jatuh miskin kok. Ketika akhirnya keputusan pengadilan jatuh hari ini, Selasa (24/7/08) dan ternyata oh ternyata rumah yang didiami Mayang Sari tidak termasuk dalam daftar yang dikabulkan untuk disita, media massa tetap tak kehabisan akal untuk mengaitkannya dengan Mayang Sari. Detikcom misalnya menulis: Rumah Mayang Belum Ikut Disita Halimah. Perhatikan kata 'belum'. Portal berita ini seakan berada di barisan simpatisan Halimah, dan mengingatkan "pihak" Mayang Sari bahwa giliran dia akan datang. Padahal, dalam bahasa hukum, "belum" itu sama sekali bukanlah kata lain bagi "memang tidak". Rupanya, tidak hanya ibu-ibu pengajian dan teman saya yang merasa dirinya juga emak-emak tadi yang tidak rela kalau Mayang Sari tetap aman di kediamannya. Media massa pun rupanya ikut-ikutan sentimentil dan emosional. Ini baru pengamatan di media online. Lihat saja koran-koran lokal besok pagi. Saya tidak pro ini atau itu, dan sama sekali tidak peduli ini dan itu. Saya hanya melihat, Mayang Sari adalah cermin yang memantulkan wajah moralitas masyarakat kita hari ini.
 aku memakai baju baru hari ini. aku korban mode. aku naik busway jam 9 pagi bersama wanita-wanita karier berblaser coklat dan bapak-bapak pegawai kantor pemerintah berkemeja batik segaram wajib hari jumat. aku tidak memakai batik. tapi aku memakai baju baru. teman-teman di kantorku tidak ada yang memakai baju baru. tapi ada yang memakai batik. padahal kantorku bukan milik pemerintah. aku tidak suka baju batik. itu masa lalu bagiku. aku lebih suka memakai baju yang membuatku menjadi beberapa tahun lebih muda. aku korban mode. tapi tak ada darah di tubuhku. karena mode tidak suka kekerasan. jadi aku senang menjadi korbannya. aku duduk di depan komputer sepanjang hari. baju baruku menjadi bayangan hitam di layar komputer. kata temanku yang memakai baju batik itu, ketika duduk di depan komputer, wajahku tanpa ekspresi. mungkin sebenarnya ia ingin mengatakan, aku seperti robot yang autis, tapi tidak tega. aku tidak tahu mengapa komputer membuatku kehilangan ekspresi. padahal sebenarnya aku sedih dan bosan. baju baruku mungkin juga sedih dan bosan karena dipakai oleh orang yang sepanjang hari duduk di depan komputer, tanpa ekspresi. aku jadi kasihan sama baju baruku. mungkin dia juga kasihan padaku. karena aku korban mode yang tidak punya ekspresi. wajahku menjadi bayangan hitam di layar komputer bersama baju baruku. tapi ekspresiku hilang. temanku yang berbaju batik memberiku permen untuk mengembalikan ekspresiku. aku minta satu lagi untuk baju baruku. tapi kata temanku, baju tidak doyan permen. ini baju baru, kataku. baju baru yang telah menjadi bayangan hitam di layar komputer bersama wajahku.
dia bangun pada hari yang biasa dengan perasaan asing yang tak biasa mendapati dirinya infeksi mata dan ingatan pada usia ini hari ulang tahunnya yang ke-32 tak ada yang diinginkannya selain keluar sebentar untuk sehirup udara segar dan satu-dua botol bir berbusa dan obrolan tanpa tema dengan teman-teman terdekatnya tentang rasanya menjadi tua tapi bengkak putih matanya menahan hasrat yang sederhana toh, ke mana-mana atau di rumah saja ia tahu ia sedang menikmati hari-hari terbaik dalam hidupnya membaca fotokopian arsitektur hujan dan merencanakan pembacaan puisi di sandiego hill memorial park "sambil menengok makam yang sudah aku pesan." tapi hidup masih lama dan ia baru saja selesai menerjemahkan dua seri esei ann kumar di jurnal Indonesia tentang seorang prajurit putri solo di masa pertama mangkunegoro *) lalu membuat puisi dari 119 kuntum mawar mungil dan merah dengan hati retak di tengah *) diterbitkan dengan judul Prajurit Perempuan Jawa:Kesaksian Ihwal Istana dan Politik Jawa Akhir Abad ke-18 (Komunitas Bambu, Jakarta, Mei 2008)
Coba bikin account di http://www.plurk.com. Ini online social media baru yang amat asyik –mirip Twitter.com tapi jauh lebih ok. Add saya...Itulah pesan yang dikirim bos saya melalui email kantor ke seluruh karyawan. Sementara di banyak kantor lain akses internet adalah sebuah kemewahan (boro-boro bisa "main" facebook, yahoo messenger aja diblokir), di tempat saya bekerja, setiap karyawan tidak hanya bebas, tapi bahkan "wajib" punya account di setiap jaringan sosial online, dan menjadi anggota sebanyak-banyaknya milis. Bagi tenaga kerja angkatan baru, yang lahir tahun 1980 ke sini, yang dalam teori SDM disebut Gen(erasi) Y, akses internet yang tak terbatas merupakan salah satu benefit yang meng-attract mereka untuk bekerja di sebuah perusahaan. Sulit rasanya di era sekarang membayangkan, bekerja di depan komputer namun tanpa akses internet, atau ada akses namun serba terbatas. Seorang teman yang bekerja di kantor akuntan publik mengisahkan, di kantornya hanya ada satu komputer yang connect ke internet. Itu pun, yang boleh menggunakan hanya orang-orang tertentu. Itu pun lagi, siapa yang menggunakan akan dicek oleh bagian IT, untuk keperluan apa. Kalau hanya untuk mengecek email pribadi dan meng-up date friendster, maka yang bersangkutan akan ditegur. Cerita-cerita seperti itu, bagi saya sungguh tragis. Maksud saya, bagi orang yang sejak lulus langsung berkerja di kantor yang mengharuskan karyawannya memelototi internet sepanjang hari, cerita seperti itu sungguh "tidak masuk akal". Belakangan ini, seiring dengan berkembangnya teknologi web 2.0, "main internet" bukan lagi keisengan yang harus dimusuhi, dan dianggap sebagai penyebab menurunnya produktivitas dan kinerja karyawan. Sebaliknya, nge-blog, dan "main" facebook telah menjadi pekerjaan itu sendiri. Mulai banyak produsen yang memanfaatkan teknologi web 2.0 sebagai saluran untuk mempromosikan produk (baru) mereka, dan itu membutuhkan agen-agen, konsultan serta para "sukarelawan" yang paham benar tentang media baru ini. Di kantor saya sekarang sedang ngetren istilah "melacur". Itu artinya, kamu posting artikel di blog atau menyebar pesan ke berbagai milis yang kamu ikuti, isinya mempromosikan produk baru dari klien. Untuk setiap artikel atau postingan tersebut, kamu dibayar sejumlah rupiah. Dibilang "melacur", karena artikel itu kamu tulis di luar keinginanmu (kamu harus bokis-bokis memuji penuh basa-basi produk tersebut). Dan, pesan yang kamu sebar itu boleh jadi (dan seringnya memang) tidak sesuai dengan tema milis yang bersangkutan. Risikonya, kamu di-banned, atau ditegur oleh moderator atau sesama anggota milis yang merasa terganggu karena pesan kamu dianggap spam.
tak ada yang lebih frustrasi dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik dendamnya kepada orang-orang yang bangun kesiangan kami naik taksi dari rumah ucu di utan kayu menuju senayan city --sudirman basah dan sepi sisa hujan menjelang jam 10 membuat kota mati dan kita akan jadi banci premiere lagi, katamu tak ada yang lebih pecicilan dari hujan bulan juni ah sudahlah, jangan terlalu banyak alusi para penyair memang pemuja melankoli masak, tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni? yang bener aja hujan hanya bikin jakarta jadi kota mati pada minggu menjelang jam 10 itu
 Perempuan berseragam hijau dengan rias muka tebal akan menyambutmu. Tersenyumlah. Jangan grogi. Tegakkan kepala, angkat dagu dan tarik kedua bahu sedikit ke belakang. Dadamu akan terlihat agak membusung. Tidak apa-apa. Kalau perlu tambahi dengan ekspresi muka dingin, sedikit congkak. Kau tak akan dibiarkan mencari-cari sendiri apa yang akan kau beli. Kau akan mendengar dia berkata, sebuah kalimat yang seolah-olah sudah menyatu dengan lidahnya, "Ada yang bisa dibantu?" Tersenyumlah. Jangan gugup. Tarik nafas seperlunya, dan jawablah dengan satu kata, dengan intonasi bertanya, "Kondom?" Jangan sekali-kali membuang waktu dan energi dengan pertanyaan yang tidak perlu, seperti, "Ada kondom?" atau "Kondom di bagian mana ya?" Manfaatkan waktu seefisien mungkin. Kau tidak sedang membeli baju atau sepatu. Kau akan ditunjukkan di mana rak tempat kondom terletak. Ambil segera, satu kotak, berisi tiga. Pilih produk impor. Tidak, ini tak ada kaitannya dengan moral. Ini bukan saatnya mencintai produk dalam negeri. Kau hanya sedang membeli kondom. Ingat saja kekasihmu. Ini soal kenikmatan. Kondom lokal terlalu tebal sehingga terasa mengganjal. Kondom impor, dengan harga yang memang sepuluh kali lipat lebih mahal, begitu tipis, lembut sehingga kau seperti tidak memakai apa-apa. Tidak perlu bertanya kepada perempuan tadi, apa bedanya kondom mint dan yang biasa. Sebab kemungkinan besar dia juga tidak tahu. Jadi, untuk kali ini tidak perlu memilih. Ambil saja, apa pun, dan bawa segera ke kasir. Di sana mungkin kau akan mengantri di belakang ibu-ibu berjilbab, yang sedang membeli minyak kayu putih untuk anaknya, dan balsem untuk suaminya yang menderita komplikasi encok, rematik dan batuk rejan. Dia mungkin sempat melirik ke arahmu, melihat apa yang kau beli, dan matanya langsung mencari wajahmu, tatapannya seolah berkata, "Sundal!" Tersenyumlah. Jangan menunduk. Sekarang, yang harus kau hadapi si penjaga kasir, biasanya mbak-mbak berwajah seputih plastik, agak gemuk dan tampak bosan. Dia jarang sekali tertarik untuk menatap ke arah pembeli, kecuali orang-orang sepertimu, yang dengan ragu-ragu meletakkan sekotak kondom di sisi mesin penghitung uang. Dia akan menatapmu lebih dari sekali, seolah-olah menimbang berapa umurmu dan memastikan apakah kau jenis manusia yang masih percaya kepada Tuhan. Sebisa mungkin sodorkan uang pas. Toko itu selalu sepi sehingga para penjaganya punya banyak waktu untuk memperhatikanmu ketika kau melangkah keluar. Kau akan mendengar bisik-bisik samar, lalu tawa kecil yang tertahan. Itu bisa menyiutkan nyalimu tapi percayalah, membeli kondom adalah salah satu hal mulia yang bisa kau lakukan, sebagai manusia.
hari selasa terbuat dari tepung terigu*). hahaha. kamu penyair apa pelawak sih? kalau begitu, terbuat dari apa dong rabu? pagi hari jembatan penyeberangan telah ramai*). ya iyalah (masak ya iya dong). hukum terbuat dari sabun cuci*). aduh, becandanya sudah kelewatan deh. lagi sibuk nih. maaf, sebenarnya agamamu apa? jangan pakai KTP Islam dong. sekarang begini saja: bubar atau keluar. kota ini terbuat dari spanduk. begini yes begitu no. mengapa kamu suka sekali berteriak? bubarkan ini bubarkan itu. tangkap dia dia dan dia. harus adil, atuh! awas, ada yang mau merusak dari dalam. yang tegas dong, pak. aih jenggotnya lucu, dikepang saja biar kayak vokalisnya system of a down. ustadz yang terhomat, saya mau tanya, bolehkah banci jadi imam dan benarkah orang bertato salatnya tidak diterima? saya gemar mengecat rambut, sah nggak ya wudhu saya? negeri ini terbuat dari kebencian, tauk. kau harus memanjangkan rambutmu agar telingamu tidak mendengar teriakan. pemerintah tidak akan mengeluarkan SKB untuk orang-orang berambut panjang. besok akan ada tabliq akbar lagi di istiqlal. tapi agamamu apa? agamaku terbuat dari tepung terigu. putih, lembut dan mudah ternoda. dear uje yang funky, saia mo nanya dung, ketika kita lagi nyimeng trus tiba-tiba terdengar adzan, apakah kita harus berhenti dulu? thx. ganti dong spanduknya. mulaan jameela no julia perez yes yes yes. tapi jawab dulu pertanyaanku. agama terbuat dari? a) tepung terigu b) putih telur c) kulit jeruk d) besi berkarat. hai, lia kapan bikin agama baru lagi? assalamu 'alaikum, ustadz saya masih punya banyak pertanyaan, semoga berkenan. apa hukumnya: 1) menampar istri pakai tangan kiri 2) oral seks dengan selingkuhan yang beda agama 3) pasang foto palsu di facebook 4) mencalonkan kembali gus dur sebagai presiden 5) mengirim anak ke sekolah film di amerika 6) salat jumat di musola yang terletak di gedung yang salah satu lantainya disewa sebagai diskotek 7) ikut kuis SMS di tivi dengan pulsa yang dibeli dengan uang hasil berjualan bubur babi. atas jawabannya, saya ucapkan jazakumullah khairan katsira. Semoga ustadz senantiasa diberi kekuatan dan kesabaran dalam mengawal umat menuju kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. amin. *) "Beda Agama YES, Penodaan Agama NO" adalah tulisan pada spanduk yang dikeluarkan oleh PPP, dipasang di berbagai sudut Jakarta **) dicolong dari puisi Afrizal Malna berjudul Kacamata Hitam, dalam kumpulan Teman-temanku dari Atap Bahasa, Lafadl Pustaka, Yogyakarta 2008
Salah satu yang kadang kusesali dari era blog adalah, kenapa kemajuan teknologi informasi ini tidak terjadi sejak saat aku masih suka naik gunung dulu. Coba dari dulu, aku kan bisa memamerkan foto-fotoku yang sedang berpose antara kuntum-kuntum edelwies yang sedang bermekaran di Argo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu, atau yang sedang bergaya di atas batu-batu Pasar Bubrah di Gunung Merapi. Bisa saja sih, aku memindai foto-foto itu, secara aku kebetulan masih menyimpan beberapa lembar. Tapi, itu kan tidak praktis. Dan, pastinya akan tampak kalau itu bukan foto yang fresh. Di samping itu, sebenarnya aku malu memasang foto-foto waktu masih SMA dulu. Soalnya, aku dulu jelek dan cupu. Bukan berarti sekarang semakin tua jadi berubah cakep. Tidak. Tapi, kalau melihat kembali foto-foto masa laluku, pokoknya cukup memalukan. Jadi, lupakan saja. Belakangan ini, blog semakin berkembang pesat dan menjadi alat yang dimanfaatkan oleh dunia bisnis sebagai ajang marketing. Banyak perusahaan yang mengeluarkan produk baru, dan memasarkannya dengan cara menggelar lomba menulis di blog tentang produk tersebut. Kabar terbaru yang kudengar, Toyota sedang mengadakan lomba seperti itu, dengan tema Liburan Bersama Kijang. Huah, satu lagi penyesalan menyelinap di hatiku (ciele!). Masalahnya, dulu, setiap kali pergi naik gunung, kami selalu menggunakan Kijang sebagai kendaraan andalan. Salah satu dari kami kebetulan punya mobil itu, jadi ya dimanfaatkan. Tahu sendiri kan, orang kalau mau naik gunung itu kayak mau pindahan rumah saja, bawaannya seabrek-abrek. Rasanya, apa saja pengen dibawa, terutama ya bahan makanan, minuman dan aneka snack. Jadi, pakai Kijang rasanya pas banget, bisa muat banyak, baik orang maupun barang. Kami tinggal di Solo, kota yang dikelilingi gunung-gunung. Lawu di sebelah timur, Merapi dan Merbabu di sebelah barat. Dan, agak jauh lagi, masih ada Sumbing dan Sindoro. Kalian pasti tidak percaya kalau tubuhku yang kurus dan tampak lemah ini, sudah mendaki semua gunung itu. Kecuali Sumbing dan Sindoro yang masing-masing hanya kami daki sekali, tiga gunung lainnya itu berkali-kali kami sambangi. Hampir sebulan sekali, kami mengisi liburan akhir pekan dengan naik gunung. Jarak Solo ke Lawu atau ke Merapi dan Merbabu relatif dekat, apalagi ditempuh dengan mobil sendiri, jadi lebih mudah. Dan, enaknya pakai mobil sendiri --dan bukan naik kendaraan umum-- itu bisa leluasa menikmati pemandangan alam sepanjang perjalanan. Kalau kalian belum pernah ke Lawu, jalan menuju ke sana itu berkelok-kelok, menanjak tajam, dengan kanan-kiri hutan-hitan pinus. Jalan menuju ke Merapi atau Merbabu juga sama, menanjak dan berliku-liku, tapi gak ada hutan pinus, melainkan kebun-kebun wortel, tomat dan bawang. Ada pengalaman menarik yang tak terlupakan. Waktu itu, seperti biasa kami ber-6 (termasuk temanku yang menyetir) berangkat dari Solo jam 3 sore. Kira-kira jam 4 sudah sampai di Cepogo, desa kecamatan sebelum tujuan akhir, Selo, kecamatan yang menaungi Merapi dan Merbabu. Nah, di Cepogo inilah banyak terdapat kebun-kebun bawang. Ketika kami lewat dan melihat para petani sedang panen bawang, temanku punya ide untuk berhenti dulu. "Foto-foto dulu," kata dia. Ya, meskipun waktu itu belum ada friendster, facebook dan multiply, tapi naluri narsis kami sudah tumbuh subur dalam jiwa (halah!). Para petani itu menerima kami dengan ramah. Usai berfoto-ria, kami pun ikut membantu mereka panen. Saking asiknya, nggak terasa sore udah hampir petang, dan saatnya petani-petani itu pulang. Ada dua orang yang kebetulan rumahnya agak jauh, dan searah dengan sisa perjalanan yang masih harus kami tempuh. Akhirnya, kami pun menawari mereka untuk naik mobil kami. Ya, dengan setumpuk bawang hasil panenan yang masih berdaun itu. Aromanya menyengat. Tumpukan bawang-bawang itu dijejal-jejalkan di bagian tengah dan belakang dan hampir "mengubur" kami. Dalam kondisi seperti itu, teman saya yang duduk di depan sempat-sempatnya mengabadikan ekspresi "penderitaan" kami waktu itu. Begitu dua penduduk desa itu turun, kami pun seperti bisa bernafas lega kembali. Tapi, aroma bawang yang tajam itu sudah menelusup ke seluruh aliran darah kami, hingga kami pun mabuk dibuatnya. Lagi-lagi, di tengah kesengsaraaan itu, salah satu di antara kami masih juga ada yang nyeletuk, "Untung pakai kijang," menirukan bunyi teks iklan Kijang di televisi kala itu. Coba kalau waktu itu sudah ada blog, dan ada "blogger writing competition" seperti yang sedang ngetren sekarang, pasti deh, pengalaman kami itu bisa diikutkan lomba, dan aku yakin berpotensi menjadi pemenang. Lumayan kan, bisa jalan-jalan ke Disneyland (ya, inilah hadiah yang dijanjikan oleh Toyota dalam lomba mereka). Ah, bukan lumayan lagi, tapi benar-benar lebih dari sepadan untuk mengganti "kerugian mental" kami akibat mabok aroma bawang segar habis panen. Hehehe.
"Anda datang pada saat yang tepat," kata mas-mas dari bagian marketing yang menyambut kami. Siang itu, setelah makan di Warung "Bu Bandung" khas Sunda depan makam pahlawan, kami mampir di kantor pemasaran Kalibata Residence yang terletak di areal pabrik Sepatu Bata. "Mulai hari ini kami membuka penjualan tower baru, tower yang terakhir, jadi belum banyak yang tahu." Lalu si mas itu bercerita, pada penjualan tower-tower sebelumnya, dari A sampai F, terjadi antrian yang luar biasa. Jam 5 pagi orang sudah mengantri padahal kantor baru buku jam 9. Satu tower habis terjual hanya dalam tiga hari.Untuk tower terakhir tadi, Tower G, meskipun "belum banyak yang tahu" karena "baru dibuka hari ini", sudah terjual tak kurang dari 70 unit. Saya tertegun. Saya edarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Gambar denah-denah tower dengan tulisan "sold out" tertempel di dinding. Bangku-bangku yang ditata melingkar. Orang-orang berkonsultasi. Orang-orang sibuk mengisi blangko. Loket-loket pembayaran. Kesibukan. Lalu-lalang. Ketika mata dan kesadaran saya "kembali", saya mendapati, mas-mas marketing itu sedang menjelaskan ini dan itu pada teman saya yang memang berniat mau mengambil apartemen di situ. Selain harganya murah untuk ukuran apartemen di kelasnya, ada program subsidi dengan persayaratan tertentu. Kelebihan lain, dibanding apartemen "murah" lainnya, Kalibata Residence letaknya strategis di tengah kota, tepat di tepi jalan besar yang ramai pula. Teman saya makin tergoda dengan berbagai penjelasan itu. Dia harus membayar booking fee Rp 5 juta kalau tidak mau keduluan orang lain. Ingat, Anda datang pada saat yang tepat. Belum banyak yang tahu kalau ada pembukaan penjualan tower baru, tower yang terakhir. Ingat, dalam tiga hari ini akan ludes. Ada orang yang membeli 15 unit sekaligus. Soalnya memang murah sekali. Bisa dijadikan investasi. Apalagi harga BBM baru saja naik, yang artinya harga-harga lain akan naik. Nilai jual apartemen ini juga akan segera naik. Ini masih harga lama, yang ditetapkan sebelum kenaikan BBM. Jadi, tunggu apa lagi? Sebelum meninggalkan tempat itu, kami sempat melihat contoh apartemennya. Bersama calon-calon pembeli lainnya. Pasangan-pasangan muda yang bahagia dan bermasa depan gemilang. Sempit ya. Nanti kulkasnya taruh di mana ya. Listriknya berapa ini. Kuat nggak untuk AC? Dalam perjalan pulang ke kantor, teman saya sudah mendapat kepastian dari suaminya: nanti sore mereka akan datang lagi, untuk membayar booking fee. "Kamu nggak berminat, Mu?" tanya dia. Saya hanya menggeleng. "Kenapa, kamu dah punya rumah ya?" Saya hanya mengangguk. "Kan bisa buat investasi. Bisa dijual lagi atau disewain." Saya hanya tersenyum... Tergiang kembali cerita tentang orang-orang mengantri dari jam 5 pagi, satu tower ludes dalam tiga hari...padahal pihak pengembang sama sekali tidak memasang iklan. Kota ini memang padat sekali penduduknya. Tapi, saya tak pernah benar-benar menyadari bahwa suatu saat, orang akan bertransaksi jual-beli apartemen seperti jual-beli kacang rebus di arena sirkus. Tapi, mestinya saya tak perlu seheran ini. Generasi baru kaum profesional dan eksekutif muda sedang tumbuh. Kemarin, mereka adalah lulusan-lulusan baru dari berbagai universitas. Hari ini, mereka adalah anak-anak muda berkarier mapan, bergaji cukup tinggi, dan sedang melangkah anggun menuju sebuah tata kehidupan yang normal: menikah, berumah tangga, membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Hidup tidak pernah kurang atau lebih dari itu. Dan, tidak akan pernah berbeda, bahkan sedikit saja.
1. Kepuasan muncul dalam tindakan, bukan dalam hasil 2. Semua orang pernah bersedih 3. Kau tidak harus membiarkan dirimu berpendirian keras 4. Jangan pernah bercerita apa-apa pada orang lain 5. Yang mudah berjanji, sulit dipercaya 6. Tidak ada kejahatan yang lebih besar daripada terlalu banyak keinginan 7. Dia tidak benar-benar tertarik padamu jika dia tidak berhubungan seks denganmu, atau berhubungan seks dengan orang lain 8. Lihat sisi positif dari semua ini 9. Kalau kamu bosan, kamu akan jadi membosankan 10. Orang yang terhormat hanya muncul tiga kali dalam surat kabar: saat lahir, menikah dan mati --di luar itu dianggap tidak sopan 11. Masalalumu tidak akan tertinggal, dan masa depanmu tidak akan maju terlalu jauh 12. Tidak apa-apa, menangislah
Sastrawan Eka Kurniawan pernah bercerita tentang kebiasaannya membaca media, terutama media online. Di detikcom misalnya, pada akhir setiap berita ada fasilitas kolom komentar, tempat pembaca bisa menuliskan apa saja. Eka mengaku, lebih suka membaca komentar-komentar itu ketimbang beritanya sendiri. "Kadang-kadang komentarnya lebih cerdas," kata dia. Bisa jadi Eka benar. Tapi, apa yang dia sebut "lebih cerdas" tentu tetap bisa diperdebatkan. Hari-hari ini, Eka pasti kehilangan komentar-komentar yang biasanya bisa menghibur hatinya itu. Ya, setidaknya pada berita-berita tertentu, detikcom memang meniadakan kolom komentar. Saya bertanya langsung kepada Redaktur Pelaksana Nurul Hidayati, dan mendapat penjelasan, "Untuk berita yang mangandung SARA kita tiadakan. Kita tidak ada SDM/energi buat mantau." Tentu saja, dalam konteks hari-hari ini, berita yang mengandung SARA itu tak lain menyangkut kasus bentrokan massa FPI vs AKKBB. "U know-lah, masih banyak komentator yang tidak pintar, maki-maki seenaknya," kata Nurul. Sebagai mantan "orang dalam", saya pernah mengalami sendiri, betapa repotnya memang menghadapi banjir komentar dari pembaca, setidaknya untuk berita-berita tertentu yang menarik perhatian. Salah satu yang masih saya ingat benar sampai sekarang adalah banjir komentar untuk sebuah berita mengenai pembunuhan dengan motif perampokan terhadap seorang warga Jakarta keturunan Cina. Komentar begitu deras, meluber ke mana-mana hingga berkembang menjadi debat sentimen rasial dan isu ketidakadilan ekonomi. Benar-benar mengerikan! Refleksi dari sebuah masyarakat macam apakah ini? Klise sekali kalau saya melihatnya dengan teori bahwa ini bagian dari histeria massa yang sedang euforia setelah terbebas dari kekangan pemerintah yang diktator. Pasti ada faktor lain, yang lebih psikologis. Sebab, nyatanya, setelah sekian tahun berlalu, saya masih menyaksikan hal yang sama: orang-orang begitu haus akan sebuah media untuk menyalurkan "teriakan" mereka. Teknologi internet sudah berkembang sedemikian rupa, sehingga setiap orang bisa punya media sendiri, namun kolom komentar di detikcom masih juga dicari. Fasilitas ini pernah dihapus, namun atas permintaan pembaca, kolom itu dibuka lagi, dan yang terjadi tetap sama: penuh caci maki, tak jarang kasar, dengan bahasa yang memprihatinkan. Lagi-lagi saya bertanya: refleksi dari sebuah masyarakat macam apakah ini? Para komentator itu seperti menerapkan standar ganda untuk setiap komentarnya: apa pun yang diberitakan, siapa pun narasumbernya, mereka pasti memaki, menghina, meneriaki. Semua pihak adalah pihak yang salah. Atau, siapa pun yang ada di berita akan menjadi pihak yang salah di mata komentator. Masalahnya, siapakah mereka? Mereka bisa masuk sebagai siapa saja, dengan nama apa saja. Ya, inilah mungkin wujud paling nyata dari apa yang dulu kita rindukan: kebebasan, keterbukaan. Tapi, apa makna konsep-konsep indah itu di tangan orang-orang yang -meminjam istilah Nurul tadi-- "tidak pintar"? Menurut saya, pasti memang ada yang salah dalam masyarakat kita, tapi entah apa. Mereka seperti hanya kumpulan orang-orang yang selalu ingin teriak, memaki, menyalahkan pendapat orang lain, menggoblog-nggoblogkan siapa saja. Mungkin ini ada kaitannya dengan komentar penyair dan editor Mikael Johani suatu kali, yang mengatakan, masyarakat Indonesia punya kecenderungan "hasrat membunuh". Dan itu terbukti. Karena kolom komentar untuk berita-berita sensitif ditiadakan, maka pembaca detikcom mengakalinya dengan tetap berkomentar tanpa peduli pada berita yang mana, yang masih menyediakan kolom komentar di bawahnya. "Jadi, bisa saja beritanya soal BBM, tapi komentarnya soal FPI," kata Nurul. Sebuah masyarakat yang stres? Frustrasi? Sakit jiwa? Entahlah. Pertanyaan saya, kenapa tidak dihilangkan total saja kolom komentar itu, tanpa harus memilah-milah antara berita sensitif dan berita "biasa"? "Wah, repot juga," kata blogger dan praktisi media online K Winarta. "Wong itu menaikkan page views, je." Hmmm, memang repot kalau urusannya sudah sama page views. Artinya, ini memang soal hidup dan mati sebuah media (online). Pada akhirnya, detikcom mungkin memang harus tetap merelakan dirinya menjadi keranjang sampah masyarakat-pencaci daripada menghilangkan fasilitas komentar tapi kehilangan banyak 'klik' dari pembaca. Atau, pilihan lain yang lebih menantang: detikcom berani sedikit "rugi" dengan tidak memfasilitasi caci-maki yang tidak pintar itu. Ini tanggung jawab sosial media juga lho...
Sudah hampir seminggu ini senyumnya menghantuiku. Bukan jenis senyum manis yang membuatmu rindu, tapi ini lebih berupa seringai dingin-licik-menghina yang ingin kau hindari.
Jakarta, penghujung Mei yang letih.
Hari-hari berjalan lamban, jarak-jarak memanjang dan ruang-ruang tiba-tiba seperti dikuasai kekosongan. Segala yang tampak di mata jadi terasa salah. Hal-hal yang biasanya baik-baik saja jadi menimbulkan amarah.
Setiap langkah yang terentang terasa lebih berat. Dan, senyum itu --tidak, seringai itu...
Dia muncul di mana saja. Kadang menghadang begitu aku turun dari angkot dan terus menjajari langkahku menuju halte busway. Pernah, tiba-tiba menyeruak dari belakang, ketika aku sedang mengantri di loket, dan membayari tiket buswayku. Dan, tadi pagi, tanpa kuketahui kedatangannya, eh tahu-tahu sudah ada di sampingku, ketika aku sedang duduk menunggu.
"Kamu siapa sih sebenarnya?" terlontar begitu saja dari mulutku karena aku sudah tidak tahan lagi dipermainkan oleh kemisteriusannya.
"Dari kemarin aku menunggu kau bertanya. Kenalkan, Albert."
"Mumu," balasku sambil merasa iri dengan namanya yang kurasa keren sekali.
"Baca buku apa?" matanya menunjuk ke buku yang sedang kubaca.
"Oh, ini...kumpulan puisi. Ups sori busnya datang, aku naik dulu."
"Hei, kita bisa bareng kan?"
Seperti biasa, busway penuh dan aku berdiri. Albert tepat di sebelahku. Terus saja menyeringai.
"Kenapa kamu membaca puisi dalam busway?"
"Soalnya aku tidak punya iPod," jawabku asal karena agak jengkel juga dengan pertanyaannya.
"Kamu bisa meninggalkan semua ini sebenarnya kalau kamu mau. Maksudku, mau atau tidak mau, kamu tuh bisa..."
"Sori, kamu bicara tentang apa ini?"
"Tentang kebosananmu. Tentang hari-harimu yang tak bermakna. Tentang keinginan terpendammu untuk pergi..."
"Wah, aku makin nggak ngerti, kamu ngomong apa sih?"
"Kau tahu, kenapa kemacetan Jakarta tidak bisa diatasi? Karena mereka, maksudku orang-orang di dalam mobil-mobil mewah itu, memang menikmatinya. Mereka adalah sisifus yang mengangkat batu dari lembah ke puncak gunung, lalu menggelindingkannya lagi ke bawah untuk kemudian diangkat lagi ke atas..."
"Albert, please!"
"Seperti kamu. Bangun pagi selalu terlambat, buru-buru, naik busway ke tempat kerja, pulang petang, tidur...apa yang lebih absurd daripada menjalani hidup dalam pengulangan-pengulangan tiada akhir seperti itu? Seperti mobil-mobil di luar sana, kamu adalah kemacetan..."
Kali ini aku mulai tidak peduli. Aku pura-pura tidak mendengarkan. Biar. Biar dia, Albert-whatever itu, kelihatan bicara sendiri seperti orang gila di mata penumpang lain.
"Kau bisa meninggalkan semua ini. Pulang ke kampung, dan kau akan mendapati banyak hal yang bisa kau lakukan. Atau, mengurung diri saja di kamar, menyelesaikan novel dan obsesi-obsesi lain kalau kau memang punya atau masih punya."
Halte tujuanku sudah dekat. Aku bersyukur akan segera terbebas dari ocehan whatever-Albert itu. Aku menepi ke dekat pintu. Ketika bus berhenti, aku segera melompat tanpa menghiraukan apa pun lagi.
Aku sempat menoleh ke dalam bus sebelum kembali melaju. Anjiiing! Semua penumpang, bahkan mbak-mbak awak bus berseragam orange yang berdiri di pintu, telah berubah menjadi Albert! Semua menyeringai ke arahku. Refleks aku menjerit dan menutup mukaku. Ketika tersadar, dan kubuka lagi wajahku, bus sudah berjalan menjauh.
"Ada apa sih, Mas?" seseorang yang ada di halte menyapaku.
Sebelum sempat menjawab, aku kembali menjerit. Wajahnya mirip bahkan sama dengan Albert!
Aku mau mengurangi jalan-jalan. Aku mau mengurangi belanja buku, DVD, majalah dan baju. Aku mau mengurangi nongkrong di kafe tanpa keperluan yang jelas. Aku...aku...aku...mau...mau...mau...pokoknya, setelah harga BBM naik, aku langsung nyerocos sama temanku, bahwa aku mau berhemat. Temanku, dengan tak kalah bersemangat, juga menyatakan hal yang sama. Itu terjadi pada Rabu setelah kenaikan harga BBM secara resmi diumumkan Jumat pekan sebelumnya. Sehari kemudian, alias Kamis sore, terjadilah obrolan ini. Aku yang memulai. "Sabtu ke Mangga Dua yuk, nyari DVD." "Katanya mau hemat?" "Alah, nggak papa di sana kan murah, daripada beli di lapak-lapak." "Oke." "Oh ya, di Mangga Dua ada apalagi yang bisa dibeli, yang murah-murah?" "Barang-barang elektronik. Iya, sekalian aku juga mau beli kamera. Cek harga dulu di glodokshop.com, nah harga di Mangga Dua bisa turun sampai 30% dari itu." "Bagus, bagus. Malam ini ke mana?" "Pulang." "Yah, kok pulang sih? "Kan biar hemat." Aduh. Gimana nih. Aku jadi gelisah. Bukan geli-geli basah, tapi benar-benar seperti kebingungan, panik dan sebagainya. "Bung, maksudku waktu aku bilang mau hemat kemarin, itu cuma retorika, kok situ jadi serius?" Lama sekali temanku tidak menjawab, hingga di yahoo messenger-nya tertulis ...status is now "Idle" (5/29/2008 5:05 PM).
Belakangan ini saya sering mematikan HP, sesuatu yang tak pernah saya lakukan sebelumnnya, sejak pertama kali memiliki benda suci itu. Saya sedang menghindari “kejaran” seseorang. Ada mbak-mbak dari sebuah bank asing yang membujuk saya untuk membuat kartu kredit. Awalnya saya heran, dari mana dia mendapatkan nomer HP saya. Belakangan saya merasa naif dengan keheranan saya itu. Mestinya sejak awal saya sadar, bahwa itu bagian dari konsekuensi hidup sebagai warga negara di bawah sebuah sistem pemerintahan: kau dicatat, didaftar, diurutkan, dipajaki, dinomori, ditaksir, diizinkan, ditegur, dilarang, dirombak, dikoreksi, dihukum. Dan, seperti pernah dibilang oleh Pierre Proudhon, semua itu atas nama keperluan publik, dan atas nama itu pula kita ditariki iuran, dilatih, dijatah, dieksploitasi, dimonopoli, diperas, ditekan, dibingungkan… Proudhon mengatakan itu lewat bukunya yang terbit pada 1923. Pada era sekarang, daftar tersebut tentunya bisa diperpanjang sesuai dengan teknik-teknik kontrol yang baru seiring kemajuan teknologi: divideo, dikamera, dimonitor, diselia, didokumentasi, diklasifikasi, dirinci, di-password, difoto, diotorisasi, didigitalisasi, di-barcode, dikategorisasi, dikurikulum, dikartudiskonkan, di-CCTV-kan, dikartuidentitaskan, didata, dikaji, diobjektifikasi. Proudhon adalah orang pertama yang menggunakan istilah anarkisme sebagai filsafat politik. Kegemarannya menggunakan kata kerja pasif merujuk pada berbagai lembaga yang mengejawantahkan kekuasaan. Kata anarkisme sendiri berasal dari bahasa Yunani, tersusun dari dua kata “an” (tidak) dan “archy” (ketua). Anarkisme berarti tidak adanya pemimpin, tidak adanya pemerintahan. Para penganut anarkisme menolak kebutuhan akan otoritas tersentral atau negara tunggal, satu-satunya pemerintahan yang kita kenal sampai hari ini. Sebagaimana diterima sampai hari ini pula, negara berdaulat adalah sumber otoritas politik, yang menentukan harga cabe, membuat peraturan mengenai pembatasan penjualan bensin, dan mengumumkan kenaikan harga BBM naik, sekaligus merancang sebuah sistem kompensasi untuk meredam protes masyarakat. Yang ditolak oleh kaum anarkis sebenarnya bukanlah konsep pemerintah sebagai negara, melainkan ide tentang suatu tatanan berkuasa yang menuntut dan menghendaki kepatuhan (bahkan kalau perlu nyawa) warganya. Tatanan ini membuat siapa pun yang tidak patuh akan ditindas, didenda, diremehkan, diusik, diburu, disiksa, dipukuli, dilucuti, dicekik, dipenjara, dihakimi, dihukum, ditembak, dideportasi, dikorbankan. Pertanyaan yang kemudian muncul, jika tidak ada sebuah tatanan yang berkuasa memerintah, bagaimana sebuah masyarakat bisa berjalan? Bayangkan kau bangun pada pagi hari dan pemerintah sudah dibubarkan, siapa yang akan mengosongkan tempat sampah? Siapa yang akan menangkap pembunuh? Siapa yang akan menjaga agar rak-rak supermarket dekat rumah kita tetap terpasok bir-bir kalengan untuk pesta besok malam? Atas pertanyaan-pertanyaan klasik seperti itu, yang secara tersirat memandang betapa naif kaum anarkis ini, anarkisme tentu saja memiliki banyak agumentasi teoritis-teknis yang kuat dan masuk akal. Namun, apa pun penjelasannya, pandangan umum tetap akan sulit membayangkan, bagaimana masyarakat berlangsung tanpa negara dan pemerintahan. Jadi, untuk sementara, lupakan dulu bagian tentang bagaimana bentuk “tatanan” pemerintahan ideal yang diangankan oleh kaum anarkis. Yang lebih penting untuk kita ketahui hari ini, layaknya tradisi pemikiran politik dan filsafat lainnya, anarkisme bukanlah suatu bentuk pemikiran yang hanya merujuk pada satu tedensi saja. Dalam kata-kata tokoh anarkis Amerika Naom Chomsky, anarkisme sebagai pemikiran maupun praksis memiliki sangat banyak bentuk dan karakteristik. Sedangkan menurut Emma Goldman, anarkisme bukanlah suatu teori mengenai masa depan, melainkan kekuatan yang menggerakkan keseluruhan hidup manusia, yang terus-menerus menciptakan keadaan-keadaan baru, berjuang dalam keadaan apa pun untuk menolak segala sesuatu yang bisa menghambat perkembangan manusia. Kata-kata Goldman mengingatkan saya pada salah satu praktik politik pemerintah Orde Baru yang menempelkan cap tapol pada KTP warga negaranya yang dianggap tidak “bersih lingkungan”. Seseorang yang mendapat cap tersebut akan terbatasi ruang geraknya sebagai individu yang mestinya bebas menentukan pilihan dan nasibnya. Teman sekelas saya di SMA gagal masuk sekolah ikatan dinas impiannya, hanya karena dalam rangkaian proses seleksinya diketahui dia berasal dari sebuah keluarga yang dulu tersangkut G 30 S/PKI. Itu dulu. Sekarang bentuk-bentuk represi dan kontrol dari negara yang menghambat pertumbuhan warganya tetap ada dan akan selalu ada, dalam bentuk-bentuk yang lain lagi, dan itulah sebabnya anarkisme selalu relevan. Sean M Sheehan dalam bukunya Anarchisme (2003) memetakan adanya dua tendensi besar dalam paham anarkisme, yakni anarkisme komunis (kolektif) yang berakar pada –siapa lagi kalau bukan- Marx dan anarkisme individual yang berakar pada Nietzsche. Dalam refleksi Sheehan, anarkisme merupakan sebuah tegangan antara dua kutub, antara kebersamaan dan kesendirian, antara komunisme dan individualisme, antara kekuasaan dan batas rasionalisme, antara asa dan putus asa, antara sikap menolak kekerasan dan pengakuan atas keterbatasan pasivisme, antara menikmati kesenangan yang ada sekarang dan mempersiapkan perlawanan terhadap kapitalisme. Anarkisme tidak picik melihat kemajuan tak terelakkan dalam globalisasi sains dan teknologi terutama bidang transportasi dan komunikasi yang menjadi fondasi kemajuan ekonomi global. Tapi, pada saat yang sama, juga tidak lalai melihat bagaimana globalisasi dikemas dan disajikan dengan begitu culas. Dengan kata lain, kaum anarkis mengingatkan kita semua bahwa yang sedang kita jelang adalah sebuah dunia tempat Starbucks dan McDonald’s tersedia di mana saja dan BUKAN sebuah dunia di mana setiap orang akan berkecukupan untuk bisa makan enak di restauran. Yang ditolak anarkisme adalah kerangka pikir borjuis yang melihat hidup ini sebagai pertandingan di atas lapangan ekonomi: ada pemenang dan ada pecundang. Sungguh mengejutkan bahwa belakangan ini kita banyak mendapatkan karya-karya film yang meledek habis-habisan pola pikir seperti itu, dari Little Miss Sunshine hingga Into the Wild. Ekonomi yang berjalan dia atas hukum penawaran dan permintaan (dan bukannya berlandaskan kebutuhan dan ketersediaan) mungkin memang bisa membuat orang bahagia, tapi hanya sebentar, untuk kemudian menemukan diri terasing dan menyadari: bahwa kartu kredit ini ada bukan karena kita memang demikian membutuhkannya, melainkan semata karena kalau kau punya kartu kredit ini, kau bisa mendapat potongan harga untuk bebek panggang madu yang kau makan di restauran A, atau dengan kartu kredit ini kau hanya perlu membayar satu untuk dua caramel latte yang kau pesan di kafe B. Kita hidup di zaman ketika hampir semua lini kegiatan ekonomi bergandeng tangan bahu-membahu untuk mendorong seluruh gerak individu hanya tertuju ke arah konsumsi. Tangan-tangan kapitalis menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru setiap hari. Tiba-tiba saja kita merasa perlu untuk mengambil kredit kamera digital, semata karena ada tawaran diskon khusus yang menarik. Kita menelepon seseorang bukan karena perlu, melainkan semata-mata karena kini tarif pulsa berbicara semakin murah. Iklan-iklan dari operator telepon selular sudah sangat berlebihan, ekstrem dan tidak masuk akal. Hipermarket, supermarket, minimarket tumbuh di dalam kota seperti jamur di musim hujan. Sastrawan dan aktivis pada LSM Masyarakat Miskin Kota Afrizal Malna menyebut itu sebagai “teror”, dan “Tubuh menjadi mengerikan dan rapuh, berhadapan dengan teror seperti ini.” Dalam cerpennya yang berjudul Menanam Karen di Tengah Hujan, Afrizal dengan sangat bagus menciptakan tokoh “anarkis” yang menganjurkan orang lain untuk tidak perlu membayar belanjaannya di supermerket. ….sambil melempar-lempar telur-telur mentah ke berbagai sudut bangunan. “Ambil setiap yang kau suka, seperti kita memeras diri sendiri selama ini. Ini bukan soal moral. Ini semata soal ekonomi. Soal kesewenang-wenangan, yang dibuat resmi lewat insitusi-institusi ekonomi.” ….kemudian memanjat salah satu rak kue-kue kering…melempar kaleng minuman yang telah kosong…ke arah kasir. “Setiap pajak yang kamu bayar dari setiap belanjaanmu, tidak pernah peduli dengan hari esokmu. Kita tidak wajib percaya bahwa ada hari esok, pada setiap lembar uang yang kita miliki….” Layaknya isme-isme lain di dunia yang hari ini kita pandang sebagai "warisan", anarkisme hanyalah salah satu cara untuk mengada, sumber kearifan yang terbuka untuk ditengok kembali, salah satu jalan untuk mengembalikan kepercayaan kita bahwa masih ada hari esok, yang lebih baik, yakni ketika orang bekerja satu sama lain berdasarkan kebutuhan akan keadilan, secara sukarela, tanpa hieraki. Momen-momen semacam itu kerap personal sifatnya, atau hanya berlangsung dalam kelompok kecil, tapi tak menutup kemungkinan juga bisa bersifat publik.
Dia sudah benar-benar jadi seleb sekarang, bisik Ron, nama panggilan dari Roni, nama asli di KTP, mahasiswa, 19 tahun. Berkali Ron membisikkan kalimat itu dalam hati sambil matanya tak lepas mengamati layar televisi. Dia semakin cakep...dan benar-benar telah jadi seleb. Bagi Ron, salah satu bukti terkuat bahwa seorang seleb telah benar-benar menjadi seleb apalabila gosip kehidupan percintaannya diberitakan oleh infotainment. Dan hari-hari ini, Ron mendapati, dia muncul di berbagai infotainment dalam gosip hangat hubungan percintaannya dengan cewek yang katanya akan dinikahinya dalam waktu dekat. Mengapa semua orang harus memakai topeng ketika disorot kamera televisi, bisik Ron putus asa. Tiba-tiba Ron ingin marah. Ingin membanting segala yang bisa pecah yang ada di dekatnya. O, Marx yang mulia...O, Nieztsche yang agung...Hidup dalam masyarakat apa saya saat ini? jerit Ron dalam rasa frustrasi yang mungkin tak akan tertolong lagi. Tiba-tiba Ron merasa pandangan matanya kabur. Tapi, ia masih sempat menangkap, dalam samar, halaman tabloid yang tadi sempat dibacanya, terbuka di atas meja tepat pada halaman yang berisi artikel tentang dia, ya dia yang kini benar-benar telah menjadi seleb. Ada foto dia di situ, berpose ceria memeluk seorang cewek cantik. Oh My God. Makluk apakah citra diri? Terbuat dari apakah kemunafikan? Tubuh Ron mendadak gemetar terbakar amarah. Ron tak tahan lagi. Ron meraih HP-nya dan mencari sebuah nama, lalu menelepon. "Halo honey..." tersengar suara dari seberang sana mendahului. Ceria, seperti biasa, centil, akrab. Ron menyeringai. "Duh, yang lagi jadi idola baru masyarakat..." "Apaan sih lu!" "Yang lagi jadian dan segera mo nikah..." "Plis deeeh...emang taik tuh, wartawan-wartawan infotainment gak penting, orang-orang yang haus drama-drama bohong, makan tuh gosip." "Tapi lu tuh sama najisnya tau nggak ama mereka. Lu ngapain juga ngelandenin mereka?" "Mereka butuh gosip, gue idola baru nih sekarang, gue boleh ngondek, bebencongan kalo lagi ngemsi tapi tetep ya bok, masyarakat harus diberi kepastian bahwa semua itu cuman aksi panggung, gue tetep harus punya cerita tentang cewek idaman gue, kapan gue menikah..." "Aiih sedaaap mulai ngomong tentang masyarakat ya sekarang..." "Honey, kenapa sih, lu lama nggak nelepon, sekalinya nelepon kok tegang dan serius kayak gini, ayolaaah, lu apa kabar, kapan kita ketemuan lagi?" "Bukannya lu udah sembuh? Gue nggak mau-lah ngeganggu program berobat jalan lu untuk jadi cowok sejati..." "Udah deh, nggak usah sinis gitu ama gue. Kita sama-sama tahu lah bok kondisinya sekarang. Gue seleb nih sekarang, seleb!" "Indah sekali ya hidup lu." "Eh, cong...tau nggak...cewek yang diberitain baru jadian ama gue itu, sebelum lu nelepon, dia nelepon gue, ketawa-ketawa, kata dia, hebat juga ya kita bok bisa membohongi wartawan-wartawan infotainment tolol itu hahaha..." Untuk pertama kalinya, Ron bisa ikut tertawa. Tiba-tiba tubuh Ron jadi lebih adem. Ron tahu sekarang, hanya diperlukan sedikit kesabaran untuk menerima bahwa kemunafikan adalah jalan tengah terbaik untuk bertahan di tengah masyarakat yang gila gosip. Ron menutup telepon tanpa janji yang pasti untuk ketemuan. Ron tahu, memang tidak perlu-perlu amat untuk ketemu lagi dengan dia. Ron sudah cukup bahagia bahwa suatu kali dalam hidupnya, dirinya pernah kenal dengan dia, yang kini telah menjadi seleb kondang itu. Berawal dari chatting, ketemuan lalu diajak ke apartemennya. Ron masih ingat semuanya, karena kejadiannya memang belum terlalu lama. Dia sudah sering nongol di TV waktu itu, hanya saja belum bener-bener booming seperti sekarang. Ron masih ingat, dia dijemput di warnet, dan setibanya di apartemen, ada dua orang yang tak asing di matanya. Dua-duanya sering muncul di TV --yang satu cewek, mantan finalis sebuah kontes menyanyi. Ron mengira tidak akan terjadi apa-apa. Ternyata, dia dengan cueknya menarik Ron ke toilet. Dan terjadilah apa yang bisa terjadi antara dua lelaki yang sama-sama memiliki hasrat pada sesama jenis kelaminnya. Ron masih ingat, dan kadang-kadang sengaja mengingat-ingat.... Kini, setiap melihat dia muncul di infotainment, dalam gosip ini dan itu, Ron tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak. Indah rasanya mengetahui sebuah rahasia, ya rahasia kecil saja, yang tidak penting bagi apapun, sebuah fakta tersembunyi, kenyataaan yang "sebenarnya", di balik yang tampak di layar televisi. Tenteram rasanya hidup dalam sebuah masyarakat yang lebih senang dibuai citra-citra palsu ketimbang dihadapkan pada kejujuran yang tulus. Sebab, sebenarnya memang tidak pernah ada yang namanya kejujuran, apalagi diberi embel-embel tulus. Hidup hanya akan bermakna selama kemunafikan masih ada.... *) Cerita ini hanya fiktif...tapi sebentar, memangnya apa bedanya antara fiksi dan kenyataan? Jadi, kalau ada kemiripan atau pun kesamaan nama, peristiwa dan ini dan itu, ya iyalah, pasti ada, karena memang disengaja.
donat-donat berlumur coklat belgia bertabur almond kalifornia berbaris rapi di balik etalase menawan hati memikat mata orang-orang mengantri panjang datang dan pergi tiada tenggang sabar menunggu giliran datang dua lusin, please! why nuty campur coco loco jangan lupa j-crown oreo dua lusin donat untuk apa? arisan ya? atau pengajian? aduh, please deh, dua lusin donat tidak perlu minta maaf pada minyak tanah dan pemerintah dan bayi-bayi kelaparan di dusun antah berantah pak sby, ini dua lusin donat untukmu semoga sehat selalu, gitu loh! mengapa tanganmu bau minyak, pak? tak usah sedih, kami sudah biasa mengantri minyak seperti ibu-ibu bersasak tinggi mengantri donat rasa grean tea di j co citos jam 10 pagi. sampai jumpa.
Belakangan ini, media massa panen kata "anarkis". Maklum, setelah pemerintah menyatakan akan menaikkan harga BBM, unjuk rasa terjadi di mana-mana dan beberapa di antaranya berakhir dengan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Dan, seperti biasa, koran-koran dan televisi pun memberitakan:
Demo bla bla bla Berakhir Anarkis
Atau: Tindakan Anarki Warnai Demo bla bla bla
Begitulah, dari dulu dan sepertinya sampai kapan pun, para wartawan selalu dan akan selalu menggunakan kata anarkis untuk menggantikan kata "rusuh", "bentrok", "kekerasan", "aksi liar" dan lain-lain yang semakna. Padahal, anarkisme itu sebuah paham politik, seperti halnya sosialisme, marxisme dan isme-isme yang lain, dan oleh karenanya kata anarkis merujuk pada orangnya, yakni mereka yang menganut paham anarkisme.
Di antara paham-paham lain, anarkisme barangkali memang relatif tidak populer, tapi setidak-tidaknya tetap saja ada penganutnya. Kita perlu menghargai mereka. Jadi, ayolah, para wartawan, hentikan menggunakan kata anarkis untuk menyebut tindakan kekerasan yang mewarnai sebuah demo. Bahasa Indonesia cukup kaya kok dengan kata-kata untuk melukiskan situasi ricuh, kacau tak terkendali, yang ditimbulkan oleh perseteruan dua pihak, seperti sering terjadi antara demonstran dengan polisi. Dan, tak perlu menjadi orang jenius untuk tidak selalu menyalahpahami kata anarki, anarkis dan anarkisme.
Dulu kolor sekarang boxer Dulu work hard play hard sekarang work hard play harder Dulu kupon sekarang voucher Dulu sehabis makan "mbak bonnya dong", sekarang "mbak, bill!" Dulu save sex sekarang smart sex Dulu plaza sekarang town square Dulu Kembar Grup, Modulus Band, Elfa's Singer sekarang White Shoes & the Couple Company, Sister Duke, Monkey to Millionare Dulu komik bergambar sekarang graphic novel Dulu JJS sekarang beredar Dulu terkenal sekarang eksis Dulu "berani tampil beda" sekarang "narsis!" Dulu keren, ganteng, cakep, cantik, bagus sekarang lucu Dulu yoi, sekarang embyeeer Dulu abege sekarang brondong (aih, mau dong!) Dulu bencong... sekarang teteeeuuuup
| |