kadang-kadang aku menyukai kehidupanku yang misterius tanpa Avanza untuk pergi kerja tanpa apartemen bersubsidi di Kalibata nongkrong di 7-Eleven agar awet muda pulang tengah malam naik taksi tarif lama sebulan sekali ikut berdesakan dengan para borjuis kota berburu sweater rajut di Forever 21 diskon separo harga sesekali pada akhir pekan meninggalkan Jakarta menjadi pelancong lokal di pantai-pantai selatan Jawa nginap di hotel murah berbaur dengan remaja-remaja desa merasakan tanah memotret sunrise lalu di-tweet dengan hashtag bahagiaitusederhana
1. Di era social media, komunikasi menjadi aktivitas yg tak lagi spontan dan juga tak tulus
2. Komunikasi juga bukan lagi digerakkan oleh kebutuhan, tapi (sekedar) sesuatu yg secara teknis dimungkinkan
3. Motif utama komunikasi bergeser ke hal2 yg lbh mencerminkan hasrat2 terpendam, misal: pamer, caper, kesepian
4. Ketika seseorang berkata "males packing", itu sama sekali bukan males beneran melainkan mau nunjukin dirinya hendak traveling
5. Komunikasi socmed mendefinisikan kembali hal2 dasar: mengeluh itu keren, dan galau tak lagi berhubungan dgn perasaan
6. Socmed jg melahirkan formula2 kode komunikasi, yg menyeragamkan pikiran orang, melenyapkan keunikan bahasa individu
7. Dengan kode2 yg seragam dan disepakati bersama itu, kita mengkonstruksi kembali realitas sesuai yg kita inginkan
8. Lewat keterhubungan di socmed, kita menyepakati bahwa "bahagia itu sederhana", lalu kita sibuk mengumpulkan keping2 realitasnya
9. Itu sebab kita senang habiskan waktu di socmed krn di sini semua kita susun kembali, kita kompromikan utk hasil yg paling kita inginkan
10. Hidup jd mudah, simpel, indah tapi ongkosnya: kehilangan rasa petualangannya. Infomasi melimpah yg datang sendiri itu mematikan rasa!
11. Mau nonton film, makan, jalan2 ke suatu kota, tanya2 dulu di twitter. Kita bertanya utk hal2 yg tak esensial, dan berlebihan
12. Yg malas makin beku, yg bodoh makin sesat, yg pinter makin latah dan dangkal. Sekian, terimakasih *turun podium*
DISKUSI
@primaretha: presentasi informasi dan representasi informasi memiliki makna yg jauh berbeda di socmed :))
@ariiil: di era socmed komunikasi seperti gelembung2 pikiran yg sangat random, berlompatan di udara, gimana nangkepnya?
@dd_bayu: dulu ga ada medianya, sekarang banjir pas kerannya dibuka
@kukuruyuk01: Menyimak kultwit @mumualoha spt baca kembali buku2 sosiologi kegagalan perlawanan thd arus utama, tapi kita mmg gagap+latah
@primaretha: Collective Reality. Bagus tuh istilahnya :D
@doniagustan: kalo ngetweet "males makan" berarti pamer sedang diet yah mu. Hihihi
@hankristi: Oh iya mas socmed itu mendekatkan yg jauh dan cenderung bisa menjauhkan yang dekat..bisa masuk no 13 gak? Hehehe
@dettarmwn: pertanyaan yg sering ga penting tuh plg kentara di TL akun "info(kota)" arah angkot aja nanya, kaya gada org disekitar aja
@annisast: satu lagi mas, yg kepo tersalurkan. secara g bisa ditrack siapa mengepoi siapa..
@ta2surya: info-info skrg tidaklah informatif, tp intimidatif...
 Obrolan makan siang kami di kantin kantor siang ini adalah, mengapa semua pemanas air yang ada di kamar mandi di rumah-rumah di Bandung rusak pada malam tahun baru lalu? Pertanyaan itu merujuk pada dua insiden kematian serupa dengan penyebab yang diduga sama persis. Insiden pertama menimpa desainer muda ibukota Adesagi (34) dan partnernya, Randy (31). Insiden kedua menimpa sepasang kekasih, kali ini pria dan wanita yang masih abege. Kedua insiden itu terjadi di wilayah hukum Bandung. Dua pasang insan naas itu sama-sama merupakan bagian dari sebuah rombongan yang datang dari Jakarta untuk merayakan Malam Tahun Baru. Sama-sama ditemukan tak bernyawa dalam keadaan bugil, di kamar mandi, diduga akibat keracunan gas pemanas air yang rusak. Dan itu mungkin hanya dua dari sekian banyak kejadian serupa, siapa yang tahu? Dan, siapa tahu juga bahwa orang-orang itu tidak mati oleh gas beracun, melainkan mereka membunuh dirinya masing-masing, seperti dalam film 'The Happening' karya Shyamalan. Ini fantasi yang kelewatan, tapi bukankah dunia ini semakin bertambah tahun semakin misterius? Saya membayangkan, pada malam pergantian tahun kemarin itu, beribu-ribu pasang manusia, baik laki-laki dan laki-laki, laki-laki dan perempuan, maupun perempuan dan perempuan tewas di kamar mandi, di ujung pesta mereka yang meriah penuh tawa, di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, New York, Tel Aviv, Moskow, Sydney, Hongkong, Macau, Singapura, Stockholm, London, San Fransisco, Brazil, Denpasar, Ubud, Kuala Lumpur, Bangkok, Jember, Solo, Amsterdam, Paris, Bern, Wamena dan Depok. Kenapa tidak? Bumi dan segala kehidupan di atasnya berjalan di atas Hukum II Termodinamika. Bahwa, dalam sebuah sistem yang tertutup kekacauan akan bertambah seiring waktu. Dunia tidak semakin tertib tetapi semakin berantakan. Orang-orang semakin gila, tidak semakin waras. Pasangan suami-istri semakin sering cekcok, jarang yang semakin rukun. Pasangan-pasangan cenderung selingkuh setelah lama berpacaran, dan bukannya semakin sayang dan setia. Semua itu sudah hukum alam. Mungkin benar, dunia akan kiamat pada tahun ini. Tak ada yang spesial. Tak mengherankan sedikitpun. Dan tak perlu ada perdebatan panjang. Alien akan menyerbu bumi. Burung-burung hitam akan mati, berguguran dari langit bagaikan daun-daun kering yang rontok dari dahannya. Ribuan ikan mati, terdampar dan menumpuk di pantai-pantai Eropa. Dan, akan selalu ada, sepasang tubuh tanpa busana, ditemukan tak bernyawa, di kamar mandi, entah di Bandung atau mana, entah laki-laki dan laki-laki, laki-laki dan perempuan atau perempuan dan perempuan, dewasa mapan maupun abege labil.
 | November | Oct 31, '11 11:48 PM for everyone |
sebatang rumput menggigil di atas genangan lelaki di bawah payung melangkah menyeberangi hujan (2006)
Mudik adalah sebuah perjalanan yang mistik. Sebentar. Mudik - mistik. Saya ragu kalimat tadi tak bermakna apa-apa selain hanya mengejar permainan bunyi. Bagaimana kalau begini: mudik adalah sebuah perjalanan yang religius. Tidak. Bahkan, sebenarnya cukup sulit untuk menyebut mudik itu sebuah perjalanan. Lihatlah berita-berita di televisi dari tahun ke tahun. Orang-orang yang memecah kaca kereta api kelas tiga dan menyeruak masuk dari jendela, untuk berdiri berdesakan sampai ke bagian WC. Itu belum cerita-cerita sedih-konyol-karikatural seperti pembiusan penumpang oleh orang asing yang menawari minuman. Dan sebagainya, dan sebagainya. Media tak pernah punya cerita tentang mudik sebagai sebuah perjalanan yang menyenangkan. Mari kita tebakan. Belum apa-apa, nanti tivi-tivi akan mewawancarai kepala salah satu terminal bus di Jakarta, dan "mengarahkan" mereka untuk mengeluarkan pernyataan, bahwa tiket sudah habis sejak H-min-sekian. Dan sebagainya, dan sebagainya. Setelah itu adalah liputan-liputan "mendalam" yang penuh sentuhan "human interest". Wajib ada setiap tahun: cerita tentang sebuah keluarga yang mudik naik bajaj, dengan barang-barang menumpuk di atapnya. Dan sebagainya, dan sebagainya.
Mudik adalah sebuah hajat nasional tahunan yang nyaris tak tersentuh tangan pemerintah. Yang ada justru, pemerintah selalu "ngerecoki" orang mudik. Pemerintah melakukan perbaikan jalan di bulan puasa, dan sampai musim mudik tiba, jalur-jalur yang diperbaiki itu belum juga siap digunakan. Dan sebagainya, dan sebagainya. Perbaikan jalan dengan alasan antisipasi mudik memang telah menjadi proyek tahunan departemen-departemen terkait untuk dijadikan ladang korupsi. Tak ada yang peduli apakah proyek itu selesai pada waktu yang diharapkan. Absennya pemerintah dalam prosesi mudik tahun-tahun belakangan ini diisi oleh pihak swasta. Alhamdulillah, banyak perusahaan dan instansi yang mengadakan mudik bersama untuk karyawannya, atau brand-brand populer yang memudikgratiskan pelanggannya. Itu bagus. Orang-orang pemerintah biarkan saja terus korupsi, biar dipuas-puasin, rakyat bisa mengurus dirinya sendiri.
Mudik adalah....pembelajaran paling nyata tentang perwujudan dari ungkapan "manusia adalah makluk sosial". Saya punya pengalaman tak terlupakan tentang ini. Ceritanya begini....
Once upon a time, pada tahun pertama kerja di Jakarta, pas lebaran saya tidak mudik. Dan, saya begitu bangganya dengan itu. Melihat laporan-laporan di tv tentang mudik saya tertawa-tawa, dan membatin: dasar orang-orang bodoh, kenapa mesti menyiksa diri sebegitu rupa, bukannya pulang kampung bisa kapan saja. Dan sebagainya, dan sebagainya.
Kebetulan, saat itu, saya nemu satu teman di kantor yang "seideologi" dengan saya mengenai mudik. Kami menganggap bahwa mudik itu "ndeso", hanya dilakukan oleh bakul jamu, bukan orang-orang terpelajar seperti kami, yang bisa berpikir rasional.
Seingat saya, tahun berikutnya pun saya juga tak mudik lebaran. Saya tak tahu, ternyata ibu saya sedih sekali dengan itu. Juga kakak saya. Ya, meskipun pada waktu-waktu tertentu di luar lebaran saya cukup sering pulang, tapi kata mereka, mudik lebaran itu beda.
"Orang yang lebaran tidak pulang itu berarti hidupnya di sana sengsara...."
Lalu, saya teringat....orang-orang yang bertahun-tahun tak pernah pulang kampung, semata karena memang tidak ada biaya, dan bagi sebagian orang hal itu adalah problem yang nyata.
Saya mendadak menjadi seperti tokoh jahat dalam sinetron religi yang mendapat hidayah kemudian tobat. Sejak itu, saya sadar bahwa mudik itu bukan sekedar pulang ke kampung pada momen lebaran. Para "budayawan" bisa membuat analisis yang canggih-canggih di halaman 4 koran Kompas tentang makna mudik. Tapi, banyak hal yang tak bisa dijelaskan dengan analisis sosial apapun. Lebih dari mistis, lebih dari religius....
Perusahaan LG Indonesia membuat gerakan amal mulia di bulan suci ini, dengan nama Cup of Faith. Program ini digerakkan di Twitter dengan mengundang para follower dan simpatisan. Caranya, setiap twit yang diberi hashtag (#) cupoffaith, oleh LG akan dikonversi menjadi satu cangkir beras. Nanti beras yang terkumpul berdasarkan jumlah twit ber-#cupoffaith akan disumbangkan kepada pihak yang membutuhkan. Subhanallah ya.
Sebagai orang beriman, dan religius, dan terobsesi masuk surga --seperti halnya umumnya orang Indonesia-- tentu saja terketuklah hati saya --sebagaimana ribuan atau bahkan mungkin jutaan pengguna Twitter lainnya. Luar biasa, hanya dengan menambahkan #cupoffaith di setiap twit kita, kita sudah melakukan amal kebaikan yang akan menyelamatkan kaum miskin-papa dari kelaparan. Tuhan pasti memberkati LG Indonesia!
Tapi, ketika saya mau memulai twit pertama saya dengan hashtag dari surga itu, tiba-tiba saya merasa, kok kayaknya ada yang salah ya. Maka, saya pun mencoba mencari informasi lebih lanjut. Saya menemukan website program Cup of Faith itu, dan mendapati pernyataan ini:
Secangkir beras yang LG Indonesia sumbangkan hanya dapat terwujud dengan dukungan Anda, dukungan untuk percaya pada kebersamaan dan kebaikan. Semakin banyak dukungan yang kami terima, semakin banyak kebaikan tersalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
Bertambah paniklah saya. Mendadak saya merasa terteror habis-habisan. Logikanya: kalau saya tidak mendukung, dan beras yang mereka targetkan itu tidak terwujud, maka saya ikut bersalah. Sebuah kesesatan luar biasa dari sebuah brand kapitalis yang membuat saya geleng-geleng kepala. Dunia pasti sudah gila, dan orang-orang di luar sana berada dalam tingkat keputusasaan yang parah. Kamu yang mau menyumbang, tapi kamu lempar tanggung jawab semena-mena kepada orang lain, atas nama "dukungan untuk percaya pada kebersamaan dan kebaikan". Sebenarnya siapa sih kamu? Apa tujuan kamu? Apa niat kamu sesungguhnya?
Kalau sejak awal kamu meng-klaim bahwa "sumbangan hanya dapat terwujud dengan dukungan Anda", terus kenapa kamu sok-sokan mau menyumbang?
"Ini tidak bisa dibiarkan, Bung...harus kita kritik habis-habisan!" saya tergopoh-gopoh menemui seorang teman usai salat dhuhur di musala kantor. Teman saya itu seorang, katakanlah, aktivis social media, pengamat dan analis yang tajam, dan selama ini selalu kritis terhadap bentuk-bentuk "click activism" yang marak di era digital 3.0 yang keren ini.
Memang tak salah saya menemuinya. Dia langsung memaparkan bahwa Cup of Faith itu hanya satu di antara sekian banyak aksi amal ramadan di Twitter. Gerakan serupa dilakukan Dove Indonesia dengan #RealCare -nya. Bedanya,setiap twit ber-hashtag itu dikonversi menjadi donasi senilai Rp 1000.
Brand berhati mulia lainnya adalah Gary Chocolatos. Modusnya agak beda: kalau kau follow akun tersebut, maka kau dinilai telah menyumbang Rp 500, yang nantinya akan diberikan kepada anak jalanan. ABC lewat program ABC Dapur Peduli melakukan hal yang mirip: setiap 3 follower dikonversi menjadi sumbangan makan untuk satu orang miskin.
"Apa-apaan sih, mau menyumbang aja ribet banget. Yang nyumbang mereka, kita yang disuruh ini-itu, harus follow-lah, ngetwit pake hashtag apalah-apalah. Tetap aja yang diuntungkan ya brand-brand itu. Tujuan mereka tetep promo, branding dan sebagainya. Nyumbang itu cuma embel-embel yang manipulatif! Dan, itu tuh sama saja dengan nyumbang tapi ora ikhlas..."
"Kamu nggak boleh gitu, Mu....setidaknya niat mereka baiklah, masak orang mau berbuat baik kok dinyinyirin," kata teman saya.
"Niat baik apaan...semua itu menjebak. Bikin orang yang malas dan pelit beramal, jadi makin parah. Gimana enggak, kalau hanya dengan klik lu udah merasa dapet pahala? Siapa lagi yang perlu menyumbang dengan uang beneran, baju beneran...."
"Ya, tapi kan..."
"Lho, kok sekarang kamu nggak kritis lagi, Bung?" sambar saya yang mulai masygul melihat perubahan teman saya. Kupikir dia ada di pihak saya.
"Enng...anu, Mu...gini lho...gimana ya, aku tuh nggak enak kalau mau komentar atau ngritik di Twitter, habis gimana ya wong itu konsultan-konsultannya, buzzer-buzzer-nya dan pelaku-pelakunya teman-teman sendiri semua..."
#kemudianhening
NB
Kabar terakhir:
Untuk memeriahkan bulan suci Ramadhan 1432 H dan dalam rangka peluncuran website hypermart.co.id, Hypermart menyelenggarakan Mari Berbagi Online dan mengajak Anda untuk berpartisipasi dalam pencapaian jumlah sumbangan sebesar Rp 200 juta yang akan disalurkan melalui Domper Dhuafa. Dengan hanya meng-klik hypermart.co.id Anda telah menyumbang Rp 100.
Saya selalu terkenang pemandangan yang menggetarkan ini:
Pada saat istirahat, mereka tidak menghambur ke kantin untuk jajan, melainkan ke masjid yang terletak di tengah-tengah area sekolah. Dengan tertib, sambil sesekali bercanda, mereka mengambil ai wudhu lalu menunaikan salat. Salat apa jam 9.00 pagi? Betul, salat dhuha. Itulah pemandangan sehari-hari di SMA Negeri 1 Solo pada awal 90-an.
Pada saat yang lain, di waktu istirahat kedua, mereka duduk bergerombol di sisi masjid. Salah satu dari mereka duduk di atas kursi, dengan kitab Tafsir Al Jalalain di tangan. Yang duduk di lantai tampak khusyuk mendongakkan kepala menatap sang pengkhotbah. Dia bukan ustad atau kiai yang diundang, melainkan dari kalangan mereka sendiri.
Gairah keberagamaan semacam itu tidak hanya membara di masjid, melainkan juga mewarnai kelas-kelas. Setiap kelas diwajibkan untuk punya satu hari dimana sepulang sekolah, murid-murid beragama Islam tinggal dulu sejenak untuk pengajian. Pembicaranya ditunjuk bergiliran. Selalu ada anak-anak bandel yang ingin melarikan diri, tapi selalu juga ada "petugas" yang sigap mencegat mereka di pintu.
Pada musim liburan, anak-anak masjid --kita sebut saja begitu-- itu mengikuti sebuah program tabliq bernama "jaulah" atau "quruj". Quruj artinya keluar, mereka keluar di jalan Allah, semacam KKN bagi mahasiswa, bedanya, ini bertujuan untuk berdakwah, mengajak orang-orang desa di lokasi yang mereka datangi untuk antara lain membiasakan salat berjamaah di masjid.
Jamaah Tabliq di dunia berpusat di Lahore, Pakistan. Di Jakarta, pusatnya adalah di sebuah masjid tua (saya lupa namanya) di Jalan Kebun Jeruk, kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Sedangkan di Solo, pusatnya di Masjid Anni'mah, Tanjung Anom, di wilayah perbatasan antara Solo dan Solo Baru. Peserta berkumpul dulu di masjid itu, lalu dibagi dalam kelompok-kelompok, masing-masing sekitar 10 orang. Lalu, disebar ke desa-desa, jauh maupun dekat, tergantung "paket" yang dipilih, 3 hari, seminggu, atau sebulan. Anak-anak sekolah biasanya mengambil yang seminggu.
Saya pernah ikut, dan dalam satu rombongan bertemu dengan anak SMA 2, yang lokasinya bersebelahan, bahkan satu halaman dengan SMA saya. Artinya apa? Kegairahan beragama semacam itu memang bukan monopoli SMA 1 saja, melainkan merupakan fenomena umum di sekolah-sekolah SMA. Saya tidak tahu situasinya sekarang seperti apa, di era ketika SMA sudah berganti nama menjadi SMU. Namun, seiring dengan maraknya kasus-kasus "terorisme" di Indonesia, media massa mulai sering menyebut-nyebut --dengan nada terkaget-kaget-- bahwa sekolah dan kampus-kampus menjadi lahan subur tumbuhnya, apa yang mereka sebut, fundamentalisme Islam. Lalu, tokoh-tokoh Islam --dari kalangan yang biasa disebut moderat, atau bahkan mungkin liberal-- akan berkomentar, bahwa gejala itu sungguh berbahaya.
Saya tidak tahu seberbahaya apa, tapi yang saya tahu, teman-teman seangkatan saya dulu, yang rajin salat dhuha dan ikut ngaji tafsir, di kemudian hari mereka kuliah di sekolah-sekolah dinas yang menjadi favorit kala itu, seperti STT Telkom dan STAN. Selebihnya di ITB, UGM dan universitas-universitas ternama dengan jurusan-jurusan yang keren. Dan, sekarang mereka sudah bekerja di kantor-kantor pajak, dan buka praktek dokter bedah. Mereka menjilbabi anak-anaknya yang masih balita, dan membangun keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.
Saya kadang menunggu semacam kejutan kecil, misalnya, tiba-tiba melihat wajah salah satu teman yang masih saya kenali, muncul di televisi, sebagai tersangka terorisme.
Tapi, semua itu hanya khayalan saja, yang mungkin menarik untuk dibikin jadi cerpen atau film.
Pada kenyataannya, mereka hanyalah orang-orang yang dulu rajin salat dhuha, dan mengisi pengajian kelas.
Saya pasti tidak objektif karena pernah ada di sana, menjadi bagian dari mereka, betapa pun ibaratnya hanya di barisan paling belakang.
Tapi, memberi label 'fundamentalis' dan menganggap bahwa gejala itu berbahaya adalah sebentuk subjektivitas yang lain.
Maka, biarkanlah kenangan --telah tiba saatnya-- memainkan perannya....
beli bebek bakar sambel ijo gratis kolak dan teh botol
bebeknya buat kamu aku kolaknya saja
aku juga sudah pesan salad duapuluhempatribu rupiah
bebeknya tadi berapa? kamu sih datang telat
tapi enak ya buka puasa di sini seperti di negara lain
hanya kita berdua yang puasa mereka pastilah kafir-kafir amerika
enak buka puasa di sini di antara orang-orang jepang
minum bir pada minggu petang usai yoga dan sauna di fitness first
kita jadi sepasang kekasih tuhan di antara orang-orang berdosa
Ember bocor mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Jangan lupa, satu tablet saat sahur dan satu tablet saat berbuka. Sehat adalah nikmat. Memang berat menjalaninya. Tapi, tenang selama masih ada indomie rasa swee kee kodok bangkong. Dengan niat yang tulus, insya Allah tahun ini kita menang. Tapi, tak ada musuh selain sosis so nice dan dominasi Deddy Mizwar. Makanya, pilih oli jangan tanggung-tanggung sob. Berbuka dengan yang manis saja tidak cukup, harus yang bernutrisi. Aduh, puasa kok jadi repot dan menakutkan. Ketan tiwul, roti bolu, dawet cendol juga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Dengan mem-follow @jadahwajik Anda telah menyumbang Rp 1000 untuk baju lebaran anak jalanan.
tuhan belum bangun perempatan jalan itu sepi dan dingin tapi antrian di depan kasir mc d sudah memanjang hanya ada satu kasir yang buka di waktu sahur pagi itu
di balik meja kasir berdiri lelaki tinggi berpeci sabar melayani pesanan yang tak putus-putus ditambah bapak-bapak yang marah karena ayamnya terlalu panas dia sahur bersama istri dan dua anaknya keluarga sakinah calon penghuni surga
sahur di mc d bagian dari ibadah di bulan suci dengan bapak-bapak bodoh yang rewel dan segerombolan cewek pulang dari klab dan mahasiswa yang suntuk mengerjakan tugas di pojok dan antrian di depan kasir terus memanjang dan shift pramusaji pun tiba
lelaki tinggi berpeci digantikan temannya dia melangkah keluar untuk menikmati sahurnya sepotong burger yang dimakannya di bangku panjang di sisi patung badut kuning yang duduk bersilang kaki kiranya tuhan menerima ibadahnya
Setiap pengunjung yang berbelanja senilai minimal Rp 250.000 bisa memiliki kesempatan untuk mendapatkan Hadiah Lebaran di customer service lantai dasar. Itulah salah satu program Cahaya Ramadan di Depok Town Square yang digelar selama bulan puasa.
Salah satu? Lainnya apa? Bazar Ramadan, Festival Lagu Ramadan, Kreativitas Ramadan, Sound of Ramadan, Fashion Show Busana Lebaran, dan Senandung Lebaran. Itu belum termasuk Late Nite Sale dan Ngabuburit @ Detos. Jangan lupa, habis buka puasa, belanja dan lain-lain, mampirlah ke booth Dompet Dhuafa untuk membayar zakat. Begitulah, hidup harus seimbang.
Tentu saja, "cahaya ramadan" tak hanya milik Detos. Cahaya itu ada di mana-mana. Di La Piazza, Kelapa Gading, Jakarta Utara, cahaya ramadan itu berupa festival makanan "bernuansa" Arab. Namanya, Arabian Night FoodFest Egyptian. Kenapa Arab? Entahlah, mungkin Islam identik dengan Arab. Sehingga di Gramedia Pejaten Village, kau akan disambut dua ekor unta yang sedang duduk di pintu masuk.
Cahaya Ramadan juga menyelimuti Masjid Cut Meutia, Menteng. Lho, ada bazar dan festival makanan juga di sana? Tidak, tapi Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) lebih memilih musik jazz. Ramadan Jazz Festival itu digelar pada akhir pekan usai salat taraweh di areal parkir masjid.
Berapa uang yang beredar untuk mendatangkan cahaya ramadan? Berita di bawah ini mungkin bisa memberikan gambaran:
Rp 1,4 M untuk Program Ramadan di Istiqlal
Jakarta - Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI) untuk Ramadan tahun ini mengagendakan 17 program amaliah Ramadan. Misalnya menyediakan 3.000 takjil bagi para jamaah, santunan bagi 1.000 anak yatim, serta tilawatil Qur'an oleh qori dan qoriah tingkat nasional dan internasional.
Berapa total biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi semua itu? Lantas dari mana Istiqlal mendapat dana tersebut?
"Totalnya Rp 1,4 miliar, itu yang tersedia untuk saat ini, kalau ada tambahan ya syukur," kata Ketua Panitia Amaliah Ramadan Masjid Istiqlal Adnan Harahap, saat berbincang dengan detikcom di ruang Sekretariat Panitia Ramadan Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (3/8/2011).
Semua dana itu, lanjutnya, berasal dari masyarakat yang menyumbang ke Istiqlal dan dari tromol (sumbangan infak) jamaah setiap harinya. Untuk besaran yang disumbangkan bervariasi, ada yang menyumbang Rp 10 juta, Rp 20 juta. Tetapi ada juga yang menyumbang berupa bantuan makanan untuk berbuka, mulai 100 kotak hingga 1.000 kotak setiap harinya.
Perolehan tromol jamaah juga berbeda perolehan setiap harinya, rata-rata sekitar Rp 10 juta. Sedangkan perolehan dari APBN sebesar Rp 3 miliar sampai Rp 5 miliar untuk Istiqlal, tidak dianggarkan untuk program amaliah ini, melainkan hanya untuk pemeliharaan dan perawatan masjid, serta gaji pegawai di Istiqlal yang berjumlah 300 orang.
Untuk rinciannya, Adnan menjelaskan, untuk menyediakan takjil yang berupa nasi kotak dan berjumlah 3.000 buah, total biaya yang dikeluarkan jika 1 nasi kotak senilai Rp 7.000 selama 30 hari adalah sebesar Rp 630 juta. Sedangkan untuk santunan kepada 1.000 anak yatim dibutuhkan total Rp 250 juta, dengan rincian per anak Rp 250 Ribu.
"Belum lagi nanti ada juga pesantren kilat remaja, honor-honor atau penghargaan kepada qori, qoriah, hafiz, hafizah, kemudian penceramah, itu (jumlahnya) cukup besar," imbuhnya.
Selain itu juga ada biaya untuk penceramah tarawih yang berjumlah 30 orang. Setiap penceramah mendapat uang Rp 500 ribu, sehingga total yang dikeluarkan untuk penceramah adalah Rp 15 juta. Ada pula honor untuk imam dan muadzin serta badal (cadangannya), hal ini untuk mengantisipasi jika salah satu imam berhalangan, maka bisa diganti.
"Belum lagi 10 akhir Ramadan qiyamul lail, itu kita siapkan juga sahur untuk 1.000 orang. 1.000 Dikali Rp 7.000 yakni Rp 7 juta. Kalau 10 hari kali Rp 7 juta ya Rp 70 juta. Sudah habis uang kita Mas. Ha ha ha," ujar Adnan sambil tertawa.
"(Tetapi) alhamdulillah selalu lebih, karena lebih itulah kita sekarang bisa bergerak, jadi nanti kalau ada lebihnya lagi, disimpan buat bulan Ramadan yang akan datang, sudah ada modal," imbuhnya sembari menutup pembicaraan.
Pokoknya harus ada kata cheesy, corny, twist, ensemble cast, production value, dialog cerdas, dan 'patut diacungi jempol'.
Jakarta adalah kota yang selalu ditinggalkan di saat liburan, dan itulah yang sepertinya akan terjadi pada long weekend kali ini. Jakarta dan liburan memang bukanlah dua kata yang cukup serasi untuk disandingkan. Orang biasanya akan bilang, bosen ah, mall lagi, mall lagi. Itu betul. Tapi, keluhan seperti itu biasanya juga akan bersambut dengan ungkapan yang menghibur, semacam, Jakarta kan bukan hanya mall. Masalahnya, orang-orang yang berkata begitu kalau diminta menunjuk "di bagian mana Jakarta yang bukan mall itu berada", biasanya akan kelabakan juga. Baiklah, berikut ini saya punya beberapa rekomendasi, mudah-mudahan berkenan di hati tuan-tuan dan puan-puan. Selamat ber-long weekend!
1. Monas
Ke Monas itu sebenarnya menyebalkan. Jadi, kenapa saya rekomendasikan? Karena, ada hal-hal tertentu yang ada baiknya kita lakukan setidaknya sekali dalam seumur hidup, dan salah satunya mengunjungi Monas. Menyebalkannya, ibarat website, Monas itu nggak user friendly. Jalan masuknya muter-muter, panas, minim (kalau tak bisa dibilang minus) petunjuk. Tapi, kalau sudah sampai di dalamnya sih cukup asik. Di dalam cawan itu terdapat diorama sejarah perjuangan bangsa. Setelah melihat-lihat kita bisa duduk-duduk di atas cawan sambil menikmati pemandangan Jakarta, sambil foto-foto. Kalau mau naik ke puncak yang berlapis emas itu, harus tahan dengan antriannya yang panjang, sambil mengingat kembali anekdot yang selama ini beredar tentang lift-nya yang sudah karatan dan bisa macet di tengah jalan. Hiiiyyy...
Habis dari Monas, kita bisa mampir sekalian ke Jalan Sabang. Di situ ada Kopitiam dan Sabang 16 yang bisa dikunjungi untuk ngopi-ngopi. Dari situ, terusin saja jalan-jalan ke Plaza Indonesia atau Grand Indonesia. Haha...ujung-ujungnya ke mall juga ya, bok!
2. Ragunan
Untuk masuk ke Ragunan kamu cuma perlu membayar Rp 4 ribu per orang. Tapi, di dalamnya ada areal-areal tertentu yang untuk memasukinya mesti bayar lagi. Misalnya, ada yang namanya areal satwa anak. Bukan satwanya yang anak, tapi maksudnya itu areal yang berisi satwa-satwa yang identik dengan kesukaan anak-anak. Di dalamnya ada ikan raksasa dan aneka macam burung yang lucu-lucu. Masuk ke sini Rp 1500. Nggak begitu menarik sih. Kalau kamu memang mengajak anak-anak, lebih baik ajak ajak untuk naik gajah, atau masuk ke kandang jerapah. Untuk masuk ke kandang jerapah, kamu harus membeli makanan jerapah berupa seikat kacang panjang seharga Rp 5 ribu rupiah.
Selebihnya, kamu bisa muter-muter sampai gempor, melihat kudanil, singa afrika hingga ular sawah. Kalau itu terlalu biasa, masuk saja ke Pusat Primata Schmutzer, bayar (lagi) Rp 5 ribu per orang. Saya pikir di dalamnya saya akan bertemu kingkong segeda yang di film itu, ternyata yang ada hanya aneka jenis orang utan dalam ukuran yang biasa saja. Tapi, areal ini cukup menarik, setidaknya untuk pamer foto di Twitter.
Yang perlu diperhatikan, di Ragunan yang luas itu banyak sekali penjual nasi pecel, kopi instan dan pop mie siap seduh. Kamu bisa membeli sekalian numpang istirahat di tikar. Tapi, ingat, ada segelintir anak-anak kecil yang mengamen. Mereka ini memaksa, dan kalau tidak diberi uang akan memaki-maki dengan kata-kata kasar. Luasnya areal Ragunan memang membuat mereka (yang jumlahnya benar-benar cuma segelintir, dan oleh karenanya sebarnya tidak terlalu menganggu) luput dari perhatian petugas jaga. Pemandangan lain adalah pasangan-pasangan yang duduk di tempat-tempat sepi, saling diem-dieman, berwajah tegang, seolah sedang membicarakan rencana pernikahan mereka yang tak disetujui orang tua.
3. Museum Fatahillah dan sekitarnya
Nah, menariknya memang "dan sekitarnya" itu. Di situ banyak gedung-gedung tua yang menarik sebagai objek foto. Kamu akan melihat pasangan-pasangan yang sedang berfoto pre-wedding, atau band nggak terkenal yang sedang syuting video klip. Sementara, di halaman Museum Fatahillah yang luas itu kamu bisa menikmati hampir apa saja, dari tato temporer hingga sirkus tradisional, atau sewa saja sepeda lalu keliling. Tepat di depan museum ada Kafe Batavia yang lumayan elok, terutama interior toiletnya. Sedankan di sisi samping ada Museum Wayang yang lebih saya rekomendasikan ketimbang Museum Fatahillah-nya sendiri. Mengapa? Tentu ada alasannya. Ya iyalah, tapi apa? Jadi begini...Museum Wayang itu isinya sangat kaya, membuat kita terbelalak dan terkejut-kejut sambil berkali-kali berseru, "wah, wah ternyata wayang itu nggak hanya ada di Jawa ya!" Ya, selain jadi tahu bahwa ada wayang sumatera dan lain-lain, kita juga bisa menyaksikan wayang (boneka) dari berbagai negara. Oh ya, tiap hari Minggu ada jadwal pementasan wayang, dari jam 10 sampai jam 14.00.
Nah, mumpung sudah sampai di ujung utara Jakarta, jadi sekalian aja dari Fatahillah dan sekitarnya lanjut ke mangga dua. Buat apa lagi kalau bukan belanja tas-tas KW2.
4. Blok M
Blok M? Nggak salah? Enggak. Menurut saya Blok M itu kawasan yang tak akan pernah habis dijelajahi. Setiap kali menyusuri daerah itu, rasanya selalu ada yang baru. Dan, kita berkali-kali menjadi orang yang asing di areal yang sudah kita hapal. Kita mulai dengan wisata budaya di Blok M Square. Di situ, di lantai satu merupakan pusat batik dan handycraft. Ubek-ubek tuh sampai dengkul lecet. Bagi kamu yang kutu buku, kolektor buku tua, penggemar komik, silakan turun ke lantai bawah tanah, di situ ada pasar buku bekas pindahan dari Kwitang.
5. Seputar Segitiga Emas Kuningan
Sepertinya rekomendasi ini semakin ngaco. Tapi, sebenarnya tidak. Mari kita mulai mengeksplor wilayah ini. Pertama, renang dulu di Hotel Manhattan. Rasakan sensasi pemandangannya yang subhallah! Setelah seger, baru kita bergeser ke Ambasador dan ITC Kuningan. Di situ ada factory outlet dan outlet-outlet kecil yang akan memberikan kesenangan tersendiri bagi kaum penyuka belanja murah, yang sebenarnya nggak murah-murah amat juga sih. Capek belanja, nyebrang aja ke Oakwood, makan di Ranch Market dan/atau ngopi di Starbucks. Jangan protes, sekali lagi, rasakan sensasinya yang beda dengan tempat-tempat yang saya sebutkan itu, yang kedengarannya biasa saja, tapi....
1. Jadilah orang yang selalu ketinggalan berita
Lho, kok aneh? Apa tips itu nggak menyesatkan? Sama sekali tidak. Menjadi orang yang paling update di Twitter itu udah biasa, nggak ada istimewanya. Ibaratnya, di atas langit masih ada langit. Kamu mau se-update apa di Twitter, pasti ada yang lebih update lagi. Jadi, mending jadi orang yang lemot aja, ketinggalan berita, itu justru akan bikin kamu eksis. Nggak percaya? Cobalah.
Misalnya kemarin, pas ada peristiwa bom buku untuk @ulil. Mungkin awalnya kamu ngikutin terus perkembangannya, sehingga bisa langsung ikut mengutuk dan sebagainya di timeline. Tapi, sepulang kantor, mungkin kamu ketemu klien untuk brainstorming, atau nge-gym sehingga nggak bisa nonton TV maupun ngecek timeline. Pulang ke rumah, kamu baru buka Twitter, dan dang dang dang....tiba-tiba timeline udah rame nyebut-nyebut Yapto-lah, Goris Mere-lah...apalah, apalah itu...dan, setelah kamu telusuri, samar-samar mulai terkuak, bahwa ternyata ada bom buku "susulan". Ya udah, maka kamu pun tinggal nge-twit begini:
"Ada bom lagi ya, tweep? jadi setelah bom buku untuk @ulil, ada berapa bom lagi?"
Taruhan deh, yang reply dan mention kamu pasti berjubel-jubel. Jadi, untuk eksis di Twitter, kamu harus menggunakan logika terbalik. Bukan eksis dengan cara menjadi yang paling update, tapi dengan cara membuat orang-orang yang terobsesi untuk selalu pengen jadi yang paling update itu merasa berarti dan berguna. Caranya, ya itu tadi, lemparkan pertanyaan tentang peristiswa paling aktual. Pancing orang-orang untuk berlomba ngasih informasi ke kamu. Mereka akan dengan senang hati melakukannya. Mereka ingin jadi yang pertama menjawab pertanyaanmu, memberitahu kamu apa yang terjadi.
Semakin kamu ketinggalan, semakin banyak orang yang akan memasok informasi terkini ke kamu. Percaya deh! Kalau perlu, misalnya untuk kasus bom tadi, jangan malam itu kamu bertanya, melainkan keesokan paginya. Jangan khawatir dianggap nggak update, itu nggak masalah. Yang penting kan kamu menuai reply dan mention, dan itu artinya kamu eksis di timeline, cyiiinnn....
2. Pengen dan Mendadak
Ini satu paket. Apa sih maksudnya? Jadi gini, di Twitter itu, pengen menjadi aspek yang luar biasa penting untuk menegakkan eksistensi. Setiap saat kamu harus selalu pengen sesuatu. Tak ada alasan untuk kehabisan bahan nge-twit. Tapi, pengen saja tidaklah cukup. Harus ada sentuhan drama. Semua orang suka drama, percayalah, jadi harus ada unsur mendadak-nya. Jadi, kata "tiba-tiba" sungguh penting artinya di sini.
Misalnya: "Tiba-tiba pengen makan sushi tei." "Kok mendadak pengen ke pantai ya."
Sushi Tei dan Pantai hanya contoh saja, dan itu mungkin terlalu biasa. Usahakan objek keinginanmu itu hal-hal yang tak biasa. Semakin 'wah', atau bahkan semakin absurd apa yang kamu ingini, semakin besar peluangmu untuk eksis.
Tentu saja, "pengen" itu bisa diperluas dengan hal-hal serupa yang menunjukkan sebuah perasaan tertentu, misalnya kangen, galau atau apalah. Yang jelas, ingat selalu, harus ada unsur "mendadak"-nya biar lebih dramatis.
Misalnya: "Duh, mendadak kangen suasana sore waktu nongkrong di kedai-kedai kopi pinggir jalan di paris."
Sekali lagi, Paris hanya contoh lho, tapi intinya: penting artinya bagi kamu untuk selalu menyebut nama (tempat, atau apapun) yang jelas. Hal itu sekaligus untuk menjukkan bahwa kamu tuh gaul dan sebagainya. Ibarat sekali merengkuh dayung, kamu bisa sekalian melakukan pencitraan.
3. Apapun isunya, pastikan kamu ada di situ, teriak paling keras, kalau perlu agak sedikit sotoy
Bisa saja kamu mahasiswa sekolah filsafat atau institut agama Islam yang setiap sore nongkrong di Salihara. Atau, kamu pegawai fresh graduate di departemen keuangan. Siapapun kamu, kalau ada isu yang ramai di Twitter, pastikan kamu nggak pernah ketinggalan. Kamu harus selalu ada. Ketika orang-orang ngomongin tentang jurnalisme online atau terorisme, kamu harus ikutan. Kamu nggak perlu tahu persis isunya apa, konteksnya apa, pokoknya kamu harus terlibat, seberapa pun pengetahuan kamu tentang hal-hal yang dibicarakan itu. Kalau hari Minggu orang ramai bicara pluralisme, kamu mesti ikut teriak, kutuk saja FPI, ledek saja PKS, itu cara yang paling aman, dan sudah pasti benar.
Kalau sidang kasus Baasyir mampir di timeline, bikin saja joke-joke tentang orang berjenggot panjang yang selalu menyalahkan amerika dan yahudi. Pokoknya, intinya, kamu harus ikuti arah angin, arus air dan seterusnya. Kalau malam-malam tiba-tiba kamu mendapati timeline ramai mengejek Edmund Daniel, langsung intip aja timeline dia sebentar, trus jangan buang-buang waktu, segera menimpali dengan ledekan yang paling sinis, paling kejam dan paling menghinakan. Kamu tak perlu tahu masalah sebenarnya apa, pokoknya harus ikut aja! Gampang kan?
Oke? Selamat mencoba tiga jurus ampuh di atas!
-- untuk M di B --
aku mencintaimu karena kau mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana menjelang tidur
pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kutanyakan ke mana-mana kepada siapa-siapa tapi tak pernah terjawab
aku mencintaimu karena kau adalah jawaban itu
jawaban yang telah kucari-cari sepanjang hidupku
hidup yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan sederhana menjelang tidur
pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab sebelum bertemu kamu
maka aku mencintaimu karena kita telah dipertemukan
kita dipertemukan oleh pertanyaan yang menuntunku
kepadamu
Hari terakhir di Orchard aku terpisah dari teman-temanku ketika makan ramen di food court Lucky Plaza
aku duduk sebangku dengan tiga perempuan india mereka menyangka aku orang Filipina ketika kubilang aku dari Indonesia mereka bilang aku mirip pria Filipina lalu mereka berbisik-bisik dan tertawa cekakak-cekikik
buru-buru kuhabiskan ramenku lalu mencari teman-temanku masih ada sedikit waktu untuk belanja di Cotton On atau sekedar menyusuri kembali trotoar Orchard yang masih pagi menyaksikan tiga cewek abege Jakarta foto-foto dengan kamera polaroid berlatar pohon-pohon jeruk imlek dalam pot di balik kaca butik Armani
Sehabis belanja tas di Bugis untuk oleh-oleh mantan pacarku Aku kembali ke hotel sebentar lalu turun lagi dan berjalan ke 7-11 untuk membeli sikat gigi dan cemilan malam hari
Setelah melewati gerai foot massage di tikungan Aku melihat seorang pria berbaju kantoran rapi Terduduk seperti orang tidur di lantai halte bis yang sepi
Mungkin dia mabok, tapi waktu itu baru jam 10 Dia seorang pria cina yang tampan usia menjelang 30-an Tak jauh darinya segerombolan anak muda berdiri Melewatkan malam minggu dengan ngobrol dan minum bir Di sisi Orchard Road yang tak peduli
Keluar dari 7-11 dengan belanjaan dalam tas plastik Aku melihat lelaki malang itu sudah berubah posisi Tidur di lantai trotoar seperti orang mati
Anak-anak muda yang minum bir di dekatnya Hanya memandangi saja dan aku pun berlalu Sebagai turis yang mendadak sendu:
Di Orchard....
Aku berjalan kembali ke hotel Melewati gerai foot massage yang sama Dengan tubuh lelah Sehabis berbelanja
Di Orchard Concorde bukan nama pesawat Ada striptis di lantai 5 katanya Tapi aku lebih suka martabak domba dan teh tarik di kantin orang India dengan pemandangan puncak Hotel Holiday Inn yang tua
Di Orchard Lebih mudah rasanya menata hati Seperti menghafal perempatan dan sudut jalan serta nama-nama plaza mau makan di mana malam ini Food Republic atau food court Lucky Plaza Giordano di sini lebih murah katanya Tapi aku ingin foto di depan butik Armani sebelum melanjutkan perjalanan dengan MRT
Ini hari Jumat Tapi kita kan musafir Kita turis di Orchard Foto di gerai sex toy Pada hari Jumat
Tak ada gema adzan Di Orchard yang rapi Seperti dunia simulasi Dalam film Wachowski
Kita turis di Orchard Dalam sekejab berubah Menjadi robot-robot Menyeberang jalan Di depan plaza Berarsitektur vihara
Robot-robot bahagia Sebab tak asing Sejak detik pertama
Turis yang bahagia Pada Jumat jelang senja Di Orchard
Asbak, Please! Lagunya terlalu keras --bisa dikecilin? Ini Pearl Jam ya? Oh, lupakan, saya akan duduk di luar
Dia seorang pria berbatik dengan Nudie Jeans Tiga juta rupiah beli di Good Dept. Tanpa potongan harga
Menjadi hipster Jakarta memang lagi lucu-lucunya Nasionalisme Jumat malam jadi bagian pentingnya Pulang kerja ketemu teman ngobrol tentang Side job, film art dan tempat nongkrong terbaru
Di dalam, serombongan ibu-ibu Menteng Bersasak tinggi dan lanjut usia Tak henti tertawa-tawa Sambil mengunyah roti isi sosis sapi Menciptakan suasana mirip rapat Gerwani Dalam film yang pernah kita tonton di TVRI
Green Tea Latteeeeeeeee! Pria-pria L-Men pulang dari gym Datang untuk menunda pulang Berdiri di kasir, diam-diam memandangi barista Menimbang pertanyaan, "Pulangnya ke mana?"
Tidak, "Pulang jam berapa?" Tidak, dan pertanyaan tertelan kembali Melangkah anggun ke sofa Meletakkan gulungan matras yoga Mengeluarkan laptop dari tas adidasnya Menikmati kopi dan sisa malam Dan browsing di Manjam
| |